
Pagi telah tiba.
Pagi-pagi sekali Al dan Luna sudah bersiap untuk beraktifitas seperti biasanya. Al akan bicara secara langsung dengan Luna setelah istrinya pulang sekolah, Al tidak mau jika istrinya nanti tidak konsen belajar dan terus memikirkan kondisi kedua orangtuanya. Arga meminta kepada Al untuk tidak memberitahu kondisi Soraya dan Bagas, karena ia khawatir Luna tidak bisa tenang dalam belajarnya. Setelah itu mereka akan membawa Luna ke rumah sakit mempertemukan Soraya dan Luna.
"Sayang, hari ini pertama kamu masuk lagi ke sekolah. Pulang nanti Daddy jemput yah," ucap Al sembari terus memperhatikan istrinya yang sedang mengusap tubuh kekarnya yang masih bercucuran air di seluruh badannya, Luna terus mengeringkan dengan handuk kecil di tangannya.
"Baik, sayangku. Pokoknya Daddy jangan tebar pesona sama teman-teman Luna," tegas Luna sembari mengalungkan kedua tangannya ke leher jenjang milik suaminya.
Al terkekeh, sudah pasti istri mes*mnya meminta sesuatu darinya. Ia kemudian memeluk erat tubuh kecil sang istri yang kini memakai kursi kecil di kakinya biar bisa setara dengannya.
"Luna bersihkan dulu tubuh Daddy, baru nanti dapat bonus," ujar Al membuat Luna memanyunkan b*birnya dengan gemas.
"Daddy pelit sekali sih, Luna sudah memakai baju seragam. Daddy malah asyik telponan sama Kak, Arga. Luna jadi bete, lihatlah Daddy malah belum pakai baju sehelai benang pun membuat Luna ingin sesuatu," ucap Luna sembari mengec*p dagu suaminya.
"Dasar, omes sekali sih kamu ini. Dengar istri kecil Daddy yang centil.." ucapnya di potong Luna.
"Cantik, seksi membuat Daddy kelepek-kelepek yakan hahhah," sambung Luna.
"Emmm .. dengar sayang, sekarang Luna siap turun Daddy mau ganti baju," suruh Al membuat Luna marah.
"Gak mau, Luna pengen di ci*m dulu sama Daddy," goda Luna sembari melepaskan handuk kecil yang melingkar di pinggangnya.
"Luna."
__ADS_1
Al segera mencegah tangan istrinya, kemudian ia menci*m lembut bib*r mungil istrinya sambil memeluknya dengan lembut. Luna tersenyum, Al akhirnya mengalah juga, mereka saling mencumb* satu sama lain. Pagutan mereka terlepas napasnya terengah sambil saling tatap menatap satu sama lain. Al mengusap bib*r mungil istrinya dengan jempol miliknya kemudian ia menci*m ujung hidung istrinya.
"Manis," ucap Al sembari membuka kancing istrinya perlahan.
"Daddy, Luna mau sekolah," larang Luna menghentikan tangan nakal suaminya yang mulai nakal menelusuri tubuh istrinya.
Al semakin tertantang, ia memeluk erat tubuh istrinya. Luna mulai mencari cara untuk kabur genggaman suaminya. Al terkekeh rupanya Luna takut karena sekarang waktunya mepet jadi Luna menolak.
"Pulang sekolah saja Daddy," pekik Luna berlari ke arah pintu melepaskan pelukan suaminya membuat Al menggelengkan kepalanya.
"Dasar omes," ucap Al membenarkan handuk kecilnya yang mulai melorot ke bawah.
Luna menuruni anak tangga, ia bersiap menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Ia melihat Arga sudah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sembari senyum-senyum sendiri. Luna menghampirinya dan menanyakan perihal kedatangan sang kakak.
"Emm, baik kok. Nanti kakak ipar ajak kamu ke sesuatu tempat, sekarang dimana dia?" tanya Arga menatap ke arahnya.
"Di kamar, mau apa memangnya?" tanya balik Luna.
Arga tampak cuek, ia segera berjalan ke arah kamar Albert. Ia ingin merencanakan sesuatu dengannya perihal Serly yang telah mencelakai kedua orangtuanya.
"Dasar Kakak nyebelin, pokoknya pulang sekolah Luna mau bertemu Mamih," pekik Luna.
"Baiklah sayangku," sahut Arga sembari menaiki anak tangga.
__ADS_1
Sesampainya di depan kamar Al, arga mulai membuka pintu kamarnya secara perlahan.
Ckeet...
"Luna sayang, katanya mau menyiapkan sarapan buat Daddy," ujar Al sembari memasangkan baju ke tubuh kekar miliknya.
Arga tertawa kecil, ia segera berjalan ke arah Al yang sedang membelakanginya. Arga mulai jail, ia memeluk Al dari arah belakang.
"Luna, kenapa tanganmu kekar sekali seperti pria?" tanya Al. Ia mulai mendengar suara tawa kecil dan seketika juga ia mendorong tubuh Arga jatuh ke bawah lantai.
"Sialan," pekik Albert begiding ngeri.
"Hahahhah... hmm pantas saja Luna tergila-gila padamu, rupanya kamu sangat wangi emmm ..." goda Arga.
"Arga apa kamu ...?" selidik Al memincingkan matanya.
"Pikiranmu terlalu jauh," sahut Arga sembari berdiri kembali seperti semula.
"Yayayaa... mau apa kamu kesini?" tanya Al.
Belum juga menjawab pertanyaan Al, Luna menggebrak pintu, matanya berkaca-kaca sembari menatap kepada mereka berdua dengan raut wajah cemas, matanya mulai meneteskan air mata.
"Kalian jahat!"
__ADS_1
Luna berlari membalikan tubuhnya kembali dan menuruni anak tangga, membuat kedua pria itu tidak mengerti, Al menyusul Luna yang pergi keluar rumah. Arga panik, ia pun mulai menyusul Luna dan Arga yang saling kejar mengejar.