
Lara masuk membuat Luna berdecak kesal. Untung saja mereka lebih cekatan, Luna segera duduk sambil duduk diam memeluk tangannya di dad*. Lara yang melihat Luna duduk sembari menatapnya sinis semakin kesal. Ia langsung saja duduk di kursi tepat di depan Albert yang kini sedang mengerjakan tugasnya.
"Pak, mohon tanda tangani berkas ini, besok siang ada rapat bersama Pak Steven untuk membicarakan proyek yang ada di kota Bogor," ucap Lara sembari mendekatkan dirinya.
Luna yang kepanasan merasa cemburu, ia bangkit dari tempat duduknya sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke area wajah.
"Panas sekali sih di ruangan ini. Tante, tolong percepat minta tanda tangan sama Om Aku, biar Aku bisa adem berada di ruangan ini," serunya.
Albert mengerutkan keningnya melihat tingkah kekasih kecilnya mulai bertingkah konyol. Lara berdecak kesal, ia ingin sekali menyumpal mulut Luna dengan tisu kotor.
"Maaf yah, Anak kecil. Tanda tangan berkas ini tidak bisa di percepat. Pak Albert harus teliti melihat satu persatu lembar kertasnya. Jadi Saya mohon Anak kecil seperti mu duduk diam saja," timpal Lara tidak mau kalah.
"Tapi diruangan ini panas, Aku tahu! Karena orang ketiga jadi ruangan ini mendadak panas. Sebaiknya Tante keluar dulu, setelah Om Saya selesai menanda tangani semuanya Luna yang akan segera memberikan padamu Tante tua," desus Luna membuat Albert menahan tawanya.
"Dasar anak kurang ajar," batin Lara segera pergi meninggalkan ruangan kebesaran Albert dengan hatinya yang sangat marah.
__ADS_1
Setelah Lara keluar, Luna pun mengunci pintu dan langsung menghampiri Albert. Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya, Luna memang posesif padanya tapi ia senang karena dengan adanya Luna dalam hidupnya kini mulai berwarna kembali.
Luna pun memeluk Albert dari arah belakang sambil melihat kekasihnya menandatangani berkas penting. Luna sangat nyaman dan menyukai maskulin yang Albert pakai.
"Daddy," ucap Luna manja.
"Hmm ... apa sayang," jawab Albert.
"Besok siang jangan pergi bersama Tante genit itu," pintanya membuat Albert terkekeh.
"Luna tidak suka sama Tante genit itu, enak saja dia mau ikut sama pacar tampanku," serunya kesal.
Albert pun membenarkan rambut Luna yang terlihat berantakan ia menyelipkan ke belakang daun telinga Luna dengan sangat lembut. Ia pun mulai menatapnya, ketulusan Luna terpancar pada wajahnya. Albert mengambil tangan Luna dan meletakkannya di bidang dad* miliknya.
Deg ... deg
__ADS_1
Detakan jantung Albert Luna rasakan, ia terdiam. Begitu cepat sambil menatapnya dalam. Albert tersenyum dan menurunkan kembali tangan kecil itu supaya Luna tahu Albert tidak akan berpaling kepada wanita lain selain dirinya.
"Daddy."
"Kamu percayakan sama Daddy? Hati Daddy hanya milik Luna sekarang, Luna cintanya Daddy dan gadis kecilnya Daddy yang paling Daddy cintai. Hmm, apa Luna percaya?" tanya Albert dengan suara paraunya.
Luna mengangguk dengan antusias, ia mengalungkan kembali tangannya sambil tertawa kecil.
"Luna sangat mencintai Daddy, pokoknya kita berjuang untuk hidup dan mati," serunya membuat Albert tertawa.
"Ya ampun Luna, kita berjuang untuk hubungan Kita yang aneh ini. Daddy tidak mau Luna malu punya pacar Om-om seperti Daddy," ucapnya sambil menatap.
Luna yang memakai baju kameja putih dan mencetak gunung kenyalnya membuat Albert harus menahan hasratnya. Di tambah lagi rok selutut Luna membuat Albert menggelengkan kepalanya. Luna mempunyai tubuh mungil nan seksi, Albert harap ia bisa bertahan dengan sikap Luna yang sangat agresif.
Albert dan Luna harus menyembunyikan hubungan mereka sebelum kedua orangtua Luna menerima keputusan mereka berdua.
__ADS_1
"Tahan, Al." Batin Albert menjerit.