
Albert sedang menjalani hukuman manis dari istri kecilnya. Sedangkan Juno ia harus menerima semua nasib sialnya, ia dipenjara disalah satu rumah yang jauh dari pemukiman warga. Al sengaja belum melepaskan Juno dari genggamannya karena ia tahu kelemahan Jordan ada pada diri Juno.
"Kalian harus culik Luna, apapun yang terjadi dia harus ada dalam genggamanku. Anak itu kelemahan keluarga Bagas terutama Albert sendiri. Sebelum kita mengambil Juno, kita harus menculik Luna, saya yakin Albert bisa stres kehilangan wanita yang amat dia cintai, seperti aku merebut istri pertamanya. Namun, sayang kini Serly sudah pergi dan itu gara-gara bocah sialan itu. Kalian paham!" pekik Jordan memukul meja kerjanya menatap geram photo Albert bersama Luna.
"Baik, bos."
Kedua anak buah Jordan pun pamit meninggalkan ruangan kebesaran Jordan. Dua hari ia pergi keluar negeri, akan tetapi setelah menerima info bahwa Serly kecelakaan dan meninggal dunia. Jordan kembali lagi ke Indonesia, ia menyelidiki kasus itu dan ternyata kecelakaan itu di sengaja oleh seseorang. Sampai saat ini ia terus mencari dalang dari pembunuhan istrinya.
"Albert, kamu mencari masalah baru padaku, belum aku menuntaskan dendamku pada keluarga bagas. Kamu datang menghalangiku," ujar Jordan mencekal kuat photo Albert.
Malam yang sangat dingin, Luna sengaja mengerjai suaminya menyuruh Al menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Malam ini terasa sepi Al hanya bisa berjalan menuruni satu persatu anak tangga. Para pembantu dan satpam tidak terlihat, Al segera menuju dapur ia akan memasak makanan yang di minta sang istri. Mau tidak mau Al harus melakukannya demi Luna tercinta.
"Daddy."
Suara parau terdengar merdu nan indah di daun telinganya, Al membalikan tubuhnya. Ia melihat sosok wanita cantik memakai baju transparan bisa di katakan Luna memakai baju laknat berwarna pink.
Hanya tinggal 3 stel lagi yang Luna punya, karena yang lainnya sudah Al robek saat mereka bulan madu kemarin.
__ADS_1
"Sa-yang. Apa yang kamu lakukan? Nanti semua asisten dirumah ini melihatmu bagaimana?" tanya Al sambil berjalan ke arahnya untuk menutupi seluruh tubuh istrinya.
"Awhh! Daddy. Semua orang yang ada dirumah ini Luna kerahkan kerumah Mamih. Mereka pulang besok pagi, karena malam ini hanya ada kita berdua disini. Sekarang Daddy fokus saja masak dan Luna hanya fokus memperhatikan Daddy saja," titah Luna mendorong tubuh Al menuju dapur.
"Emm .. baiklah," sahut Al pasrah.
Ia hanya bisa mengelus d*danya karena memang hukuman ini sangat berat. Al menelan salivanya susah payah saat Luna mendekati dirinya.
Al merasa canggung karena dirinya terus di perhatikan Luna dari jarak begitu dekat. Al harus konsen membuat nasi goreng yang Luna inginkan memang sangat gampang membuat nasi goreng bagi Al. Yang bikin berat itu hanyalah godaan sang istri yang kini hanya memakai baju laknat di depan amat kepalanya sendiri untuk menggoda dirinya.
"Pokoknya Luna pengen nasi goreng rasa cintah," manja Luna menelusuri tangan kekar suaminya dengan jari lentik cantiknya. Saat ini Al sedang memotong bawang merah tapi ia terganggu dengan rayuan maut sang istri.
"Sayang, duduklah dulu. Daddy tidak bisa konsen membuat makanannya. Bisa-bisa nanti gosong lagi nasi gorengnya," ujar Al menghela napasnya.
"Baiklah sayangku, teruskanlah mengerjakan pekerjaan yang Luna berikan padamu Daddy, tidak berat bukan?" tanya Luna di daun telinga Albert. Gunung kenyal itu tidak sengaja Al senggol membuat Luna mengerang mencoba menggoda sang suami.
"Aahhh Daddy. Fokuslah masak," sambung Luna sambil berjalan ke arah tempat lain. Bukannya pergi Luna malah duduk di dekat Albert sambil menyilangkan kaki mulusnya.
__ADS_1
"Anak ini benar-benar huh," umpat Albert mengatur debaran jantungnya ia harus bisa menahan rasa ingin yang menggebu dalam lubuk hatinya.
"Emmm... sayang, sebentar lagi nasinya matang, pergilah dan duduk di kursi," titah Al.
"Baiklah," sahut Luna sambil menyentuh tubuh suaminya penuh hasrat.
Setelah rintangan demi rintangan ia hadapi, Al segera menyiapkan nasi goreng buatannya dengan menata rapih di meja makan. Luna sangat antusias melihat kinerja dari suaminya, Al memang suami idaman banget untuk Luna.
"The best, Daddy," seru Luna memeluk hangat dari arah belakang.
"Albert melonggarkan pelukannya, ia melepaskan tangan Luna yang melingkar di area tubuhnya.
"Muuacchh... Luna sayang Daddy," ujar Luna sambil mengalungkan kedua tangan mulusnya di leher jenjang Albert.
"Luna sudah siap?" bisik Albert di daun telinganya.
Luna terhipnotis mendengar suara syahdu sang suami. Bulu kuduknya merinding, Luna mendekatkan tubuhnya hingga gunung kenyal itu menempel sempurna di bidang d*da Albert. Terasa kenyal dan menggugah slera, Albert langsung mencumbu tubuh istrinya. Ia langsung memainkan gunung kenyal itu dengan kedua tangannya hingga Luna melenguh merasakan nikmat.
__ADS_1
"Kita makan dulu," bisik Albert membuat Luna yang sedang fokus merasakan kenikmatan itu membulat tidak percaya.
"No! Daddy. Luna pengen!" rengek Luna mengguncangkan tangan kekar Albert.