Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )

Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )
Jangan pisahkan cinta kita


__ADS_3

Bagas memincingkan matanya melihat kemesraan antara Luna dan Albert di depan mata kepalanya sendiri.Ternyata benar adanya Putri dan sahabatnya berpacaran. Bagaimana tidak, ia merasa syok dan tidak percaya atas apa yang dirinya lihat. Walaupun ia tahu Luna selalu berpacaran sama orang yang lebih tua darinya, tapi dengan Albert Bagas tidak percaya bahwa Putrinya menjalin hubungan dengan salah satu sahabat yang sangat Bagas percaya.


"Rasakan, lihatlah apa yang akan terjadi kepada Kamu Luna," batin Melisa memeluk dad* dengan kedua tangannya. Ia menatap sinis greget ingin membubarkan hubungan Albert agar dirinya bisa mendapatkan Pria idamannya.


"LUNA."


Bagas mengepak geram, seketika juga Albert dan Luna segera melihat ke arah sumber suara. Betapa kagetnya mereka Bagas sedang berjalan ke arahnya sambil menatap dingin nan tajam.


"Bagas," gumam Albert segera melepaskan pelukan Luna.


Bagas segera menyeret pergelangan tangan Luna untuk menjauh dari Albert. Napasnya memburu, rahangnya mengeras, Luna terdiam ia hanya bisa menatap sendu ke arah Albert.


"Kalian! Luna apa yang terjadi padamu. Kamu berpacaran dengan sahabat Papih? Katakan Luna bahwa ini bohong dan tidak benar! Tapi saat Papih pulang dan melihat adegan mesra Kalian. Semua sudah jelas," cecarnya melayangkan tangan kekar nya untuk menampar Luna


Albert segera menahan tangan sahabatnya supaya tidak menyentuh atau melukai kekasih kecilnya.


"Pa-pih," gumam Luna sendu, ia hanya bisa meneteskan air matanya. Melisa bersorak senang adegan yang Dia tunggu akhirnya terjadi juga.


Soraya pun datang karena ia mendengar keributan di taman belakangnya. Betapa kagetnya ia melihat Bagas sudah ada dirumah tanpa mengabarinya terlebih dahulu.


"Al, bagaimana bisa Kamu berhubungan dengan Anakku. Ini sungguh membuatku syok atas apa yang Aku lihat. Aku percaya penuh padamu, tapi kenapa Kamu mencintai Anakku?" tanya Bagas.

__ADS_1


Luna meneteskan air matanya, hatinya sudah tidak karuan. Ia tidak mau dirinya di pisahkan dengan Albert hanya gara-gara tidak ada restu dari satu belah pihak.


"Maafkan, Aku. Karena perasaan ini begitu saja terjadi, ini bukan salah Luna. Jangan pernah melayangkan tangan mu untuk menyakiti Putri mu sendiri, Kau akan menyesal," ujar Albert mencoba tenang.


"Dia putriku, jadi Aku berhak melakukan apapun yang Aku mau. Albert sekarang juga Kamu pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu di rumah ini lagi. Kita bertemu di kantor untuk mengerjakan proyek kita. Selebih itu, Aku mohon jangan pernah temui anakku, karena Dia sudah Aku jodohkan," ucap Bagas dengan tegasnya.


Deg!


Luna menangis, ia mencoba melepaskan genggaman tangan Bagas. Ingin sekali Luna lari dan memeluk Albert, ia menangis sambil memanggil nama Albert yang saat ini sedang berdiam diri mencerna ucapan Bagas.


"Tapi, Bagas. Kamu tidak bisa memaksa cinta seseorang, Aku mohon jangan pernah pisahkan Aku dengan Luna," pinta Albert memohon.


"Tidak! Dia Putriku. Aku yang berhak atas Dia, sekarang Kamu pergi dari hadapanku. Aku kecewa padamu Al," ungkapnya membuat Luna tambah sedih dan marah.


Luna histeris menangis, ingin sekali Luna mengejar Albert yang saat ini sudah melangkah pergi dari rumahnya. Ia tidak mau berpisah dengan Pria yang amat dia cintai.


"Tidak, Luna mencintai Om, Albert Pih. Luna mohon jangan pisahkan cinta Kita," pinta Luna menangis saat Bagas membawanya pergi.


Diam-diam Soraya mengikuti Albert ke arah luar, ia ingin berbicara empat mata dengannya. Melihat Luna menangis Soraya merasa sedih dan tidak tega.


"Al," pekik Soraya memanggil Albert saat ini sedang berjalan gontai menuju mobilnya.

__ADS_1


"Soraya," gumam Albert.


"Aku mohon, yakin kan Bagas kalau Kamu mencintai Anakku. Buktikan bahwa Kamu memang yang terbaik," serunya tergesa. Ia takut Bagas melihat mereka berdua berbincang.


"Tenang saja, Aku tidak akan menyerah untuk meyakinkan Bagas. Tapi untuk saat ini, biarkan Bagas menang, Aku bahkan tidak mau berpisah dengan Luna. Dia wanita yang telah memberi warna dalam hidupku, selama lima tahun ini kehidupan cintaku penuh dengan rasa sakit. Hitam putih hidup Ku, Kamu juga tahu bukan, Aku tidak akan membiarkan Luna jatuh kepada orang yang salah," terangnya sembari membuka pintu mobil dan berlalu pergi.


Soraya merasa Albert lah yang pantas atas cinta Luna untuk menjaga Putrinya. Ia harap Bagas bisa berubah pikiran, yang dikatakan Albert benar kehidupan sebelum mengenal Putrinya beda jauh.


"Al, Kamu orang baik. Semoga Bagas bisa menerima Kamu suatu saat nanti," batin Soraya melihat kepergian mobil Albert dari pelupuk matanya.


Sementara Luna sekarang di kurung di kamarnya. Bagas mengunci Luna di kamar, ia tidak akan membiarkan Putri kesayangannya menikahi Pria yang lebih tua.


"Papih, jahat." Pekik Luna sembari menangis menggedor pintu kamarnya. Ponsel nya pun Bagas sita supaya Putrinya tidak bisa berhubungan lagi dengan Albert.


"Daddy, tolong Luna. Papih jahat," sambung Luna menangis sendu di balik pintu kamarnya sembari memeluk kedua kakinya sambil menekuk di bawah lantai.


Besok malam Luna harus menghadiri acara dua keluarga. Bagas ingin pelamaran Putrinya segera di langsungkan supaya tidak ada celah untuk Albert.


Di dalam mobil.


Albert mendapat notip pesan singkat, kedua orang suruhannya telah berhasil mendapatkan data diri dan seluk beluk Juno di masalalu dan masa sekarang. Ia segera mengendarai mobil lebih cepat supaya bisa melihat berkas hasil penyelidikan yang Dia lakukan mengenai Juno.

__ADS_1


"Breng*k! Aku tidak akan membiarkan Luna jatuh kepada Pria sialan itu," gerutu Albert di dalam mobil.


__ADS_2