
Malam semakin larut, Luna sendiri sudah mengganti pakaian. Ia sesekali menguap sambil tiduran di tempat tidur menunggu Albert yang sedang membersihkan diri. Luna merasa kesal, bisa-bisanya dia datang bulan di saat waktu yang tidak tepat, walau bagaimana pun Luna merasa sedih. Malam pertama yang Luna impikan kandas begitu saja, ia hanya bisa menggerutuki dirinya. Ia lupa bahwa tanggal pernikahannya tepat bertepatan dengan tanggal datang bulan. Andai Luna tahu dan ingat tanggal datang bulannya mungkin pernikahannya Luna undur.
"Daddy."
Luna terpesona melihat Al keluar dari kamar mandi. Rambut basah mengeluarkan air yang berjatuhan keseluruh tubuh kekarnya . Albert tersenyum sambil membenarkan lilitan handuk di pinggangnya, ia berjalan mendekati Luna begitu gagah ia berjalan.
Deg-deg.
Jantung Luna terkoyak habis, ia beranjak dari tempat tidur. Luna segera berjalan ke arah lemari pakaian, ia mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut basa Al dan tubuhnya.
"Luna, apa kamu masih marah?" tanya Albert sambil memeluk Luna dari arah belakang membuat Luna mati kutu di buatnya. Ia segera membalikan tubuhnya, Albert tersenyum ia menyelipkan rambut Luna yang berantakan ke balik daun telinganya.
__ADS_1
"Daddy, rambutnya basah. Biar Luna bantu keringkan," pinta Luna segera mengeringkan rambut basah Al sambil mengeringkan tubuhnya. Bidang dad* yang penuh bul* hitam itu Luna lap dengan handuk kecil di tangannya, perasannya terkoyak habis membuat pikiran Luna traveling.
"Luna, sayang."
Luna segera tersadar, ia melihat Al sudah ada di sebelahnya sambil tersenyum. Luna melihat Al dari ujung kaki sampai ujung kepala sudah rapih, baju yang Al gunakan mengenakan baju putih tipis, celana pendek dan juga rambutnya sudah terlihat kering. Luna mencangkup kedua pipi Albert, lalu ia membelai wajahnya sambil menatap dalam.
"Luna, hanya halusinasi saja. Oh, Tuhan. Begitu berat cobaanku. Jadi aku hanya membayangkan saja. Bodohnya kamu Luna, kenapa harus halusinasi sih!" batin Luna menjerit kesal.
"Daddy sudah pakai baju. Kapan? Luna kok tidak melihatnya?" tanya Luna. Al langsung mencubit hidung mancung istrinya yang sangat mes*m itu, ia kemudian memeluk Luna ke dalam dekapannya. Al menatap wajah istri kecilnya sambil tersenyum. Bisa-bisa Al setiap dekat Luna ia terbawa mes*m nya, ia terus mencoba untuk tetap tenang agar tidak menginginkan hal lebih.
"Daddy pakai baju di kamar mandi, Luna sendiri kenapa kok diam saja dari tadi?" tanya Al.
__ADS_1
"Enggak, Luna hanya pengen di peluk Daddy saja. Besok Luna sekolah, pulangnya Daddy jemput yah. Luna pengen ikut Daddy ke kantor," pinta Luna semangat. Al mengangguk ia segera menyuruh Luna tidur agar tidak kesiangan karena jam sudah menunjukan pukul larut malam.
Mereka pun merebahkan tubuhnya saling berhadapan. Luna tersenyum sambil membelai wajah Albert, ia terpesona melihat Albert begitu tampan dan gagah.
"Daddy," panggil Luna dengan suara parau. Albert segera mendekatkan dirinya, ia bangun tubuhnya ia tahan oleh tangan kanannya. Kini Luna ada di bawah kukungannya, kedua bola mata indah mereka bertemu satu sama lain. Luna tersenyum saat Albert mulai mendekati wajahnya, mereka pun hanyut dalam buaian satu sama lain. Albert menci*m lembut bib*r ranum Luna sambil memejamkan mata. Al menahan tangannya agar tidak menyentuh tubuh Luna. Ia tidak mau terjebak oleh permainannya sendiri, Luna sedang datang bulan jadi ia cukup menci*m nya secara pelan-pelan. Luna menikmati cumb*n yang Al berikan kepadanya, rasanya ia terbayang melayang, Luna pengen lebih dari ini. Pagutan itu terlepas hingga napas keduanya terengah satu sama lain.
"Sudah cukup, kita tidur yah," ujar Albert yang di angguki Luna. Mereka pun tidur lelap sambil memeluk satu sama lain.
Luna sangat senang, walaupun hanya cium*n sebelum tidur tapi ia merasa puas. Walau pun ia menginginkan hal lebih. Namun, apa daya ia masih belum bisa membuka segel akibat datang bulan tiba-tiba mengacau di malam pertamanya.
"Luna sangat mencintaimu Daddy," ucap lirih sambil menyelundup ke leher jenjang Albert memeluknya dengan sangat erat.
__ADS_1