
Malam ini trakhir untuk Luna dan Al berada di danau cinta dan kapal kenangan. Luna sudah mempersiapkan segala keperluan yang akan ia bawa pulang, ia menghela napasnya, padahal Luna masih sangat betah berada disini. Namun, sayang mereka harus pulang secepatnya dikarenakan Luna juga harus masuk sekolah seperti sebelumnya. Ia menutup koper dan beranjak pergi ke arah luar, Albert sudah menunggu dirinya untuk makam malam bersama.
"Sayang, kenapa wajahmu asem begitu?" tanya Albert sambil menaruh minuman yang ada di tangannya.
"Apa kita beneran mau pulang?" tanya balik Luna cemberut. Kemudian ia duduk di pangkuan suaminya, malam ini terasa sangat dingin kebetulan Luna memakai baju tipis.
"Sayang, kita harus pulang. Mamih Soraya pasti kangen sama kamu, dan juga Luna harus masuk sekolah juga," jawab Albert membelai wajah istrinya.
"Bener juga, kenapa Luna kangen Papih dan Mamih. Padahal mereka baik-baik saja kan disana?" tanya Luna sendu.
"Pasti doang sayang, mereka sudah aman kok dari incaran Juno dan orangtuanya. Tapi tetap saja kit harus waspada," jawab Al.
Luna mengalungkan tangannya, ia mencubit hidung mancung suaminya. Setelah itu ia menempelkan hidungnya dengan hidung suaminya, Albert tersenyum.
"Baiklah, kita makan saja sekarang," sahut Luna melonggarkan pelukannya. Kemudian Albert menarik kursi satu untuk istrinya duduk.
Mereka makan malam bersama saling menyuapi satu sama lain. Tadinya Albert ingin mengajak Luna jalan-jalan terlebih dahulu keliling tempat bermain, kuliner dan yang lainnya. Apa daya semuanya harus di tinggal mengingat Albert harus menjenguk seseorang yang ada di rumah sakit.
Setelah makan malam selesai, mereka pergi tidur. Al menggendong Luna ke atas tempat tidur, ia menurunkan tubuh mungil istrinya, menatapnya lalu membelainya.
__ADS_1
"Daddy."
Al tersenyum, Luna menunjukan jari tangannya ke arah bibir, Albert mengerti Luna ingin ia ci*m. Setelah itu Albert mendaratkan cium*nnya di bib*r istrinya membenarkannya dengan sangat lembut, tubuh Luna sudah berada di atas tempat tidur. Lagi-lagi Albert tergoda, ia melihat tubuh seksi istrinya hanya menggunakan baju tipis yang tidak memakai apapun lagi.
Pagutan itu terlepas, tangan kekar Albert menelusuri setiap inci tubuh seksi istrinya. Luna tersenyum, melihat suaminya mulai terpancing, Luna tertawa renyah.
"Daddy mau apa?" tanya Luna jail.
"Hanya ingin sesuatu saja kok," jawab Albert sambil memainkan gunung kenyal istrinya.
"Daddy, besok kita pulang, bagaimana mungkin kita melakukannya lagi," ucap Luna membuat Albert terkekeh dan tidak memperdulikan ucapan istrinya.
Luna melenguh, mereka terbuyarkan oleh suara ponsel yang berdering nyaring di telinga mereka.
"Daddy ponselnya," ujar Luna.
"Sial."
Umpat Al sambil beranjak mengambil ponsel miliknya. Ia melihat nama Arga yang menghubunginya entah ada apa tumben sekali Arga menghubunginya tengah malam.
__ADS_1
Tapi sayang sebelum di angkat, ponselnya langsung terputus, mungkin efek sinyal yang putus-putus karena mereka berada di pulau. Albert mengerutkan keningnya, hatinya tidak karuan ia segera memijit tombol panggilan untuk mengirimkan helikopter untuk menjemput mereka.
"Daddy ada apa?" tanya Luna heran.
"Kita harus segera pulang, sebaiknya kita siap-siap saja sebelum jemputan kita sampai disini," seru Albert membuat Luna tambah cemas.
Mereka pun segera merapihkan dirinya untuk pergi pulang. Entah ada apa Luna tidak tahu tapi melihat raut wajah suaminya seperti ada masalah besar. Luna hanya bisa diam di pelukan suaminya sambil memejamkan matanya karena rasa kantuk mulai menyelimuti dirinya.
Di Indonesia.
Arga tidak tahu harus bagaimana, Bagas berada di rumah sakit karena mengalami kritis bersama Soraya. Ia tahu ini pasti kerjaan Jordan dan anak buahnya, padahal dua Minggu lagi Arga akan melangsungkan wisuda, ia tidak berhenti berdoa semoga Luna dan Albert segera pulang. Rumah mereka sudah di jaga ketat oleh anak buah Bagas dan Albert.
Sebelum pulang dari acara pesta, kedua orangtuanya baik-baik saja. Tapi setelah di dalam perjalanan mobil yang mereka kendarai mendadak los rem sehingga membuat keduanya kecelakaan hebat. Arga terus bulak-balik di depan ruangan operasi sendirian. Hatinya tidak karuan ia tidak tahu harus bicara apa kepada Luna nantinya.
"Semoga Al segera pulang," batin Arga berdoa.
Seorang wanita menghampirinya, bagi Arga tidak asing lagi, dan ternyata benar, itu adalah Serly. Untuk apa dia datang kesini, dan bagaimana tahu Arga berada di rumah sakit.
"Serly."
__ADS_1