
Luna memundur kan tubuhnya secara perlahan, Al semakin mendekati istrinya ia segera menelusuri tubuh kecil Luna dengan gemasnya. Luna menggigit bib*r bawahnya sambil menatap penuh saat Albert menci*m telinganya, Luna langsung meremang.
"Lu-na, emmm... sudah siap?" tanya Albert dengan suara paraunya. Ia semakin mendekati Luna hingga tubuhnya mentok di divan senderan tempat tidur. Dag-dig-dug itu yang di rasakan Luna saat Albert mulai nakal dengan tangannya yang menelusuri pah*nya dengan gemas.
"Daddy, apa kita mau melakukannya di atas pesawat?" tanya Luna dengan polosnya. Albert menghela napas, kemudian ia mengukung tubuh Luna oleh tubuhnya yang kekar nan besar.
Jari Luna mulai liar, ia menelusuri setiap inci tubuh kekar Al. Tangan itu mulai membuka kameja suaminya sampai kini sudah telanj*ng dad*. Napas Albert memburu akan tetap ia tahan supaya tidak langsung menerkam Luna.
"Sebaiknya kita minum saja dulu, bagaimana?" tanya Albert menarik dagu Luna lalu ia langsung menci*m bib*r manis istrinya dengan lembut. Ci*man maut yang diberikan Albert membuat Luna ketagihan, akan tetapi pagutan itu ia lepas membuat Luna jengkel. Luna segera melepaskan kukungan Albert, ia duduk di pangkuan suaminya, jari-jemari itu mulai memainkan aksinya Albert mengerang saat Luna memainkan bola kecil bidang dad*nya dengan gemas.
"Luna, apakah Luna sudah siap memilki keturunan dari Daddy?" tanya Albert sambil menahan hasratnya sedangkan sosis yang ada di balik kurung meronta-ronta meminta jatahnya.
"Siap dong Dad. Luna sudah mempersiapkan segalanya untuk menjadi ibu yang baik," sahut Luna sambil menatap wajah suaminya.
"Apa Luna sudah siap juga menahan sakit?" tanya Albert kembali.
"Siap Daddy," seru Luna manja.
__ADS_1
Ia tidak tahu sakitnya di bobol kesuciannya oleh Albert. Al menghela napasnya, benar-benar Luna sangat polos dan omes. Al segera membaringkan tubuh kecil istrinya ke atas tempat tidur sambil menatapnya dalam. Tangan kekar Al segera membuka kancing kameja istrinya yang saat ini sudah terbuka sebagian. Luna tersenyum, ia menutup matanya saat Al menci*m keningnya dengan sangat lembut.
"Tahan, oke. Daddy pasti pelan-pelan," ujar Albert sambil menci*mi leher jenjang istrinya.
"Ahhh, Daddy." Luna mulai merasakan sensasi yang luar biasa, padahal belum apa-apa. Al meninggalkan tanda merah tepat di bagian gunung kenyal istrinya. Luna segera bangun, ia langsung membuka seluruh baju yang melekat di tubuhnya.
"Daddy, baju lakn*t itu," ucap Luna sambil membuang bajunya ke bawah lantai.
"Emmm.... itu nanti saja setelah kita sampai di pulau," bisik Albert di daun telinga Luna dengan mesra membuat sekujur tubuh Luna meremang kembali merasakan sensasi luar biasa.
Tinggal kurung sangkar yang tersisa, Albert membantu istrinya membuka kurung sangkar berwarna pink. Al langsung membuang ke sembarang arah, kali pertama Al melihat gunung kenyal Luna terpang-pang nyata di depan mata kepalanya sendiri begitu indah putih besar. Sangat seksi, Al dengan segara langsung melahap habis gunung kenyal istrinya, Luna mengerang kembali sambil menjambak rambut suaminya menahan gelora api asmara di jiwanya.
"Emmm.... ssstttt.... uuhhhh."
"Sabar, sayang. Kita harus pemanasan dulu," jawab Albert sambil terus menikmati gunung kenyal istrinya.
"Lu-na, pengen pipis," sahut Luna.
__ADS_1
Jleb!
Albert berhenti memainkan aksinya, ia menatap wajah cantik istrinya kemudian Al mencubit hidungnya dengan gemas.
"Luna, kamu ini ampun dehh!" timpal Albert, Luna berhasil membuyarkan sensasinya.
"Heeee ... Luna kan sudah kebelet Daddy, ayo gendong!" pinta Luna merentangkan kedua tangannya. Albert segera menggendong tubuh istrinya ke arah kamar mandi sambil menggelengkan kepalanya.
"Arrrgghhh."
Al.
Luna.
__ADS_1
Haii... jangan di skip, siapkan mental kalian yahh! Hahahhaha sabar pemanasan dulu biar seru .....
Kabur....