
Soraya datang menghampiri mereka berdua yang saat ini berada di dapur. Albert langsung datang menyadarkan lamunannya agar tidak ada kesalahpahaman Soraya terhadapnya.
"Luna," ucap Soraya.
Luna masih diam sambil menatap Albert, Soraya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menjewer telinga Luna di depan Albert.
"Awhh, Mamih," jeritnya sambil mengusap telinga yang di jewer Soraya.
Albert hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Luna yang menggemaskan. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ia bisa menyukai wanita kecil seperti Luna.
"Al, maafkan Anakku, Dia sangat bandel sekali," ucapnya membuat Luna cemberut.
"Luna tidak sengaja menumpahkan jus ke baju Om Albert," rengekannya.
"Kamu ini, Maaf ya Al. Oh iya, Saya mau bicara sama Kamu Al," ucapnya seraya di ikuti Luna dan Albert menuju ruang tengah.
Luna tidak berhenti melihat ke arah Albert yang saat ini terlihat sangat tampan. Di tambah kameja kerjanya terlihat terbuka di bagian dad* yang sangat kekar itu. Membuat pikiran Luna traveling, siapa sangka Luna sudah dewasa pastinya sudah tahu hal tentang begituan. Tapi Luna tidak sampai berbuat nakal, ia masih bisa menjaga harga dirinya sebelum dia menikah.
Teman sebaya Luna sangat liar, mereka banyak yang sudah kebobolan dan ada juga yang menggugurkan kandungannya akibat pergaulan bebas. Tapi, Luna masih bisa menjaga walaupun cuma ci*man atau pegangan tangan. Sudah hal biasa bagi remaja, tapi tetap Luna di jaga oleh Soraya supaya tidak sampai kecolongan.
Kerap Luna sering di ajak ke club' malah, untung saja Soraya lebih ketat hingga Luna tidak berani berbuat nekad atau pun melawan.
__ADS_1
Bagi Soraya pacaran tidak dilarang dan boleh saja asal bisa menjaga diri sendiri. Itu yang selalu Soraya bilang kepada Luna.
"Senderan di bidang dad* kekar Om Albert pasti sangat nyaman. Di tambah angin sepoy-sepoy membuatku betah berada didekatnya," batin Luna berkhayal tingkah tinggi.
Soraya pun langsung mencubit Luna yang saat ini terus senyum-senyum sendiri melihat ke arah Albert.
"Begini, Saya sama Bagas malam ini harus pergi ke negara china karena Mamah saya mengalami struk. Jadi mungkin Saya dan Bagas harus menitipkan Luna padamu, Kami percaya penuh padamu karena disini tidak ada siapa-siapa lagi selain Kamu. Bagaimana Al, apa tidak keberatan, kalau misal Luna nakal cubit atau laporkan saja padaku," ucap Soraya meminta bantuan. Sontak saja Luna langsung berdiri dan berteriak saking senangnya.
"HORE."
"Luna," seru Soraya.
Luna pun memeluk Soraya dengan manja sambil menci*m pipinya secara bertubi-tubi. Sungguh ini sangat menyenangkan karena Luna akan bersama Albert selama Soraya berada di luar negeri. Albert pun sedikit tidak percaya, tadinya ia ingin menjauhi Luna karena ia takut menimbulkan perasaan lebih padanya, tapi dengan kondisi seperti ini Albert jadi bingung sendiri.
"Om, tidak mau menjaga Luna? Om jahat," ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Albert hanya bisa menghembuskan napasnya berat sambil menatap Luna yang saat ini menaiki anak tangga dengan wajah kusutnya.
"Maafkan, Luna dia memang begitu, biar nanti Saya bicara padanya. Tapi, kenapa Kamu tidak mau menjaga Luna?" tanya kembali Soraya meyakinkan Albert.
"Hmm, baik. Saya akan menjaga Luna dengan baik," jawabnya mantap.
Soraya merasa lega malam ini Dia akan langsung pergi bersama Bagas karena memang keadaan disana memerlukan mereka berdua. Mengingat Mamah Soraya hanya bersama pengasuhnya saja.
__ADS_1
"Kalau begitu, malam ini Kita langsung berangkat. Mungkin Luna bisa Kita titipkan di rumah mu. Kita percaya padamu kok, Kamu orang yang sangat baik. Jaga dia jangan sampai ada Pria yang nakal padanya," titip Soraya kepada Albert.
Setelah kesepatakan dengan Soraya, Albert berusaha untuk membujuk Luna Agara membuka pintu kamarnya.
"Luna, Om minta maaf. Tadi itu Kamu hanya salah paham saja," ucap Albert seraya mengetuk pintu kamar.
Tidak lama pintu kamar terbuka, Luna menangis sendu membuat Albert merasa bersalah kepadanya.
"Kamu menangis?" tanya Soraya tidak percaya. Baru kali ini Luna begitu marah sampai menangis. Ia melihat ke arah Albert dengan hidungnya yang mampet di tambah mata merah dan sembab. Luna terisak kembali nangis, Soraya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Luna memang gadis manja karena ia anak perempuan satu-satunya dan sering di tinggal pepergian keluar negeri oleh Soraya dan Bagas.
"Om, tidak mau menjaga Luna," ucapnya sendu menatap penuh harap kepada Pria yang sedang berdiri di hadapannya sambil menatapnya penuh. Albert merasa bersalah, ia tidak bermaksud demikian.
"Tidak, Kamu salah paham. Malam ini Kamu kerumah Om, kebetulan disana ana Bibi Anna yang akan menemani mu dengan baik," sahut Albert meyakinkan Luna.
Seketika juga kesedihan dan kegalauannya hilang saat itu juga. Luna tersenyum lebar sambil mengusap air matanya degan kedua tangan.
"Benarkah! Tapi siapa itu Bibi Anna?" tanya Luna sedikit menyelidik. Albert hanya bisa tertawa kecil melihat Luna begitu antusias kepadanya.
"Dia hanyalah pembantu dirumah Om. Dia sangat baik kok," jawabnya enteng. Luna semakin girang, ia berharap Soraya dan Bagas lama di luar negerinya biar Luna bisa bersama Albert setiap hari.
__ADS_1
Ini Luna yah. Photo di bab ke 7 lagi pose diam, dan ini photo dia lagi ceria.