
Setelah seharian ini Albert menemani Luna berbelanja keperluannya. Ia juga menghabiskan waktu berdua sebelum nanti malam Luna pulang kerumahnya lagi. Ada rasa tidak rela dalam benak Albert, tapi mau bagaimana lagi, ia harus merelakan Luna kembali kerumahnya lagi karena memang mereka belum menikah.
Sesampainya di depan rumah Luna, Albert mengerutkan keningnya karena mobil Bagas dan Soraya sudah terparkir tepat di depan rumah Luna.
"Lihatlah, Mamih sudah pulang. Luna tidak mau masuk kedalam, Luna pengen tidur di rumah Daddy," rengeknya manja.
"Luna sayang, itu tidak baik. Sebaiknya kita turun, dan segera menyambut kedatangan Mamih mu," bujuk Albert yang segera di angguki Luna dengan lemasnya.
Mereka pun berjalan secara beriringan, Luna merasa kesal. Yang dia harapkan gagal total, padahal Luna belum puas berada dirumah Albert.
"Mamih," ucap lemas Luna menghampiri kedua orangtuanya yang saat ini sedang duduk berdua menunggu kepulangan Luna dan Albert.
"Sayang!" Albert maaf yah sudah merepotkan mu. Apa dia nakal?" tanya Soraya seraya memeluk Luna yang saat ini sedang cemberut kepadanya.
"Tidak masalah, malahan Aku lebih senang dia berada dirumah," jawabnya.
Soraya terdiam dengan ucapannya Albert. Luna melihat ke arah Albert sambil mengedipkan matanya.
Soraya melihat gerak-gerik Luna dan Albert, ia pun mengajak mereka untuk duduk di sofa. Soraya juga ingin mengumumkan sesuatu kepada Luna sekalian biar Albert menjadi saksinya.
"Begini, Luna Kamu sudah besar. Untuk menempati janji Papih kepada salah satu teman yang ada di luar kota. Kamu Papih jodohkan dengan Juno Putranya," ucapnya.
__ADS_1
Deg!
Keduanya tercengang dengan kalimat perjodohan yang terlontar dari mulut Bagas. Luna melihat ke arah Albert yang saat ini duduk tenang untuk menyembunyikan rasa kecewa yang amat dalam benaknya.
"Tidak! Luna tidak mau di jodohkan dengan siapapun. Pokoknya Luna menolak perjodohan tengil ini," pekik Luna berdiri. Matanya berkaca-kaca seakan dunianya runtuh. Bagaimana bisa Bagas menjodohkan Luna dengan Juno, Albert merasa sakit baru tadi siang mereka jadian dan malam ini semua hancur dengan kata perjodohan.
Luna menangis sambil berlari ke arah kamarnya. Ia mengunci pintunya supaya Bagas dan Soraya membatalkan niat mereka untuk menjodohkannya dengan Pria lain.
"Luna," panggil Soraya.
Albert hanya menghembuskan napasnya berat, sesak rasanya. Cinta yang dia miliki terhalang oleh cinta orang lain, ia juga tidak bisa marah kepada sahabatnya karena memang hubungan mereka belum diketahui.
"Anak itu, sudah biarkan saja. Nanti juga berubah pikiran," ucap Bagas dengan tenang.
Albert berdehem sambil melonggarkan dasinya, ia berdiri dan meminta untuk membujuk Luna supaya luluh.
"Saya mengerti perasaan Luna. Kalau boleh biar saya bicara dengannya siapa tahu dia luluh dan mengerti," pinta Albert yang segera di angguki oleh Soraya.
Ia menaiki anak tangga untuk menemui kekasih kecilnya bersama Soraya. Mereka berjalan ke arah kamar Luna, Soraya sengaja ikut untuk mengantar Albert ke depan pintu kamar Putrinya. Albert mulai mengetuk pintu kamar Luna, walaupun hatinya juga sakit tapi mau bagaimana lagi.
"Luna, Om mau bicara sama Kamu!" pekik Albert seraya mengetuk pintu.
__ADS_1
Soraya merasa khawatir ia takut Luna melakukan hal nekad di dalam kamar. Tapi begitu pintu itu terbuka, ia merasa lega.
Wajah kusut Luna terlihat sangat kacau. Hidungnya yang merah, air mata berjatuhan dari pelupuk mata indahnya. Ia langsung memeluk Albert sambil menangis, Soraya hanya bisa diam melihat kelakuan Putrinya.
"Kalau begitu, Aku pergi dulu. Bujuk Luna yah Al," ucap Soraya dan segera di angguki oleh Albert.
Luna segera mengusap air matanya, ia langsung melonggarkan pelukannya dan menarik Albert masuk kedalam kamarnya.
"Luna."
Albert pun duduk di tepi tempat tidur, Luna kini hanya mengenakan tangt*p dan juga celana selutut. Ia berhasil pura-pura sedih di hadapan orangtuanya.
"Daddy, bagaimana akting Luna. Pokoknya Luna tidak mau dijodohkan dengan Pria lain," serunya membuat Albert menggelengkan kepalanya.
Luna duduk di pangkuan Albert sambil mengalungkan kepalanya. Luna menatap wajah tampan itu dan membelai wajah tampan sang pujaan hatinya yang kini ada di hadapannya.
Albert mencoba tetap diam, ia tidak mau sosis yang dalam kurungnya bergerak meronta. Luna sudah merencanakan supaya perjodohannya gagal total supaya Dia masih bisa berpacaran dengan Albert.
"Daddy, Kau tampan sekali," ucap Luna menatap dalam sambil mendekatkan dirinya hingga gunung kenyal itu terasa menempel di bidang dad* Albert. Sungguh ini ujian untuknya, supaya bisa menahan gejolak hasrat yang menggebu. Ia menarik napasnya supaya bisa mengontrol dirinya supaya tidak kebablasan.
Deg ... deg
__ADS_1
Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, Luna tersenyum. Kalau pun misal Soraya dan Bagas tidak mau membatalkan rencana perjodohan dirinya dengan Juno, Luna akan membeberkan hubungannya dengan Albert.
"Luna," pekik Soraya membuyarkan kemesraan mereka berdua.