
Ting!
Luna mendapat pesan singkat dari Soraya, ia menyuruh-nya untuk segera pulang. Luna memperlihatkan pesan singkat itu kepada Albert. Luna harap Tante Melisa tidak memberitahukan hubungan mereka. Albert bergegas untuk mengantar Luna pulang kerumah.
"Daddy yakin Mamih tidak akan marah! Maksud Luna bagaimana kalau misal Mamih mengetahui hubungan Kita?" tanya Luna menatap kepada Albert.
"Kalau misal Soraya tahu tentang Kita, ya sudah. Itu malah lebih baik, Aku tahu sipat Soraya bagaimana. Lebih baik kita segera pulang temui Mamih mu," serunya segera menggandeng Luna menuju parkiran mobil.
Di rumah Soraya, ia hanya bisa diam dan diam setelah mencerna pesan singkat dari Melisa. Ia Ia masih tidak percaya Putrinya berpacaran dengan sahabat sekaligus orang yang dipercaya penuh olehnya dan juga Bagas.
"Bagaimana mungkin ini terjadi, Luna sipat mu sangat aneh selalu menyukai orang yang lebih tua darimu. Tapi bagaimana mungkin Albert yang Kamu pilih, Ya Tuhan anak itu, Bagas apakah Dia akan marah dan menerima Albert sebagai menantu Kita," ucap Soraya bertanya-tanya dalam benaknya sembari duduk menunggu kedatangan Luna dan Albert.
Ia akan mengintrogasi mereka berdua sebelum Bagas mengetahui tentang hubungan Luna dan Albert. Ia masih tidak menyangka, Luna berbuat senekad ini, pantas saja dirinya merasa curiga soal kedekatan mereka berdua akhir-akhir ini terlebih setelah kepulangan mereka dari China.
__ADS_1
Tidak lama suara mobil Albert sudah terdengar olehnya. Ia Mencoba tetap tenang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Mamih."
Luna segera berlari kecil dan memeluk dirinya dengan lembut hingga ia mulai menci*m seluruh wajah Mamih nya dengan gemas.
"Luna, hentikan." Ucapnya seraya menatap ke arah Putri kecilnya itu.
Albert duduk setelah ia menyapa, ia menghela napas dalam sebelum berbicara atau menjawab semua pertanyaan Soraya kepadanya.
"Mamih, Luna mohon jangan pisahkan Luna dan Daddy. Dia hidupku dan nyawaku, pokoknya semua rintangan Luna akan hadapi. Tolong restui hubungan Kita berdua jangan pernah marah dan satu lagi batalkan perjodohan Luna dengan Kak Juno." Ujar Luna seraya memejamkan matanya mencangkup kedua tangannya memohon ampun kepada Soraya.
Soraya hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata benar Luna dan Albert punya hubungan di belakang mereka. Albert jadi cemas sendiri melihat Luna dan Soraya berbicara.
__ADS_1
"Luna, ishh. Diamlah, tatap Mamih dan lihatlah, apakah Mamih marah padamu setelah mengetahui hubungan kalian. Dari awal Aku sudah curiga kepada kalian Al. Luna memang suka orang yang lebih tua. Aku mengerti karena memang dia Anakku, Luna stop Kamu sangat cerewet sekali," terang Soraya menjewer telinga Putrinya di hadapan Albert.
"Mamih malu sama calon imam Luna," rengeknya membuat Soraya dan Albert tertawa.
"Jadi, Mamih setuju Luna sama Daddy pacaran gitu. Mamih cepat jawab," sambung Luna tidak sabaran.
"Bagaimana bisa Mamih menghancurkan semua kebahagiaan anak yang Mamih sayangi. Kamu harus berjuang Al untuk mendapatkan kepercayaan dan keyakinan Bagas juga Kakak Luna yaitu Arga," ucap Soraya menatap ke arah Albert.
Albert menghela napas kembali, ternyata perjuangan untuk mendapatkan Luna tidak semudah yang dia pikir. Ia harus berhadapan dengan Kakak juga Bagas sahabatnya sendiri. Walau bagaimana pun Arga dan Bagas tidak mudah untuk di luluhkan. Apalagi ia tahu persoalan hubungan mereka berdua, Luna dan Albert harus berusaha memperjuangkan cinta mereka.
"Ishh, Papih pasti luluh kan Nih? Kak, Arga Dia kan baik," serunya sambil tersenyum ke arah Albert.
Di balik dinding tembok seseorang bersembunyi mendengarkan percakapan mereka bertiga. Melisa mengepal geram ia pikir Soraya akan marah kepada Luna dan Albert tentang hubungan beda usia itu. Tapi nyatanya Soraya malah mendukung mereka berdua. Semua harapannya hancur tidak seperti yang Melisa pikirkan dan bayangkan.
__ADS_1
"Tidak, Albert harus menjadi milikku, dia hanya milikku. Luna Kamu harus dihukum!" batinnya mengepal geram.