
Albert masih menatap wajah gadis itu yang saat ini ada di hadapannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa Luna mencintai dirinya, Albert benar-benar tidak percaya. Tapi walau bagaiman pun ia juga punya perasaan yang sama kepadanya.
Albert menghembuskan napasnya berat, ia mulai menurunkan tangan Luna agar ia tidak terlalu menatap atau terlalu dekat dengannya. Luna berkaca-kaca, ungkapan perasaannya tidak bisa membuat Albert tersenyum, ia tidak tahu letak kesalahannya dimana.
"Om, tidak menyukai Luna?" tanya Luna dengan butiran air mata yang mulai menetes. Albert menghela napasnya panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Luna.
"Luna, dengarkan Om," jawabnya tapi tidak di hiraukan olehnya hingga membuat Albert sempat bingung sendiri.
Albert mulai mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata indah Luna. Ia menatapnya dalam. Jantungnya lagi-lagi tidak beraturan, ia mencoba menetralkan diri tapi tetap tidak bisa.
"Om, tidak mencintai Luna! Om, tega sama Luna," ucapnya kembali parau sambil terisak tangis. Luna pun memalingkan wajahnya keluar jendela.
__ADS_1
Albert memberanikan diri memegang tangan mungil itu. Terdapat jauh sekali perbedaan mereka, Albert mulai keriput, sedangkan Luna masih segar nan masih muda.
"Luna, Om tidak tahu harus jawab apa sekarang. Dengarkan Om sekali saja! Luna masih usia 18 tahun, sedangkan Om. Sudah menginjak 37 tahun. Papah Luna usia 39 tahun, Om sama Papah Luna cuma beda dua tahun. Persahabatan kita cukup lama dari Papah Luna masih single belum menikah sama Mamih Luna. Luna juga belum ada di dunia ini, bagaimana bisa Bagas bisa menerimaku sebagai menantunya. Luna ini tidak benar, Kamu masih muda, lihatlah Kamu sangat cantik, usia kita sangatlah Jauh. Banyak Pria yang masih muda dari Om," Jawab Albert panjang lebar membuat Luna sakit.
Luna mulai melihat ke arah Albert, ia juga merasakan tangan Albert menyentuhnya bahkan menggenggam-nya dengan sangat erat.
"Om, cinta tidak memandang pisik atau pun usia. Tidak ada batas usia untuk mencintai seseorang, begitu juga Luna sangat mencintai Om, sejak awal kita berjumpa. Luna sudah punya rasa, apa Om tidak menyukai Luna? Papih sama Mamih pasti mengerti, mereka orang baik. Kalau pun mereka tidak menyetujui hubungan Kita, Luna akan terus berjuang untuk meluluhkan hati Papih dan Mamih" seru Luna sendu sambil meneteskan air matanya.
Mata indah itu membulat saat Albert mendaratkan kec*pan kecil di bib*r mungilnya. Jantung keduanya berpacu, entah mengapa Albert melakukan ini, ia menggerutuki dirinya sendiri karena telah lancang.
"Luna, maafkan Om," ucapnya dan segera melepaskan genggaman tangannya dan pagutan mereka. Tapi, Luna malah menarik pergelangan tangan Albert hingga wajah keduanya kembali bertemu. Luna mulai menci*m bib*r Albert dengan lembut dan akhirnya mereka pun kembali berci*man dalam keheningan di dalam mobil. Luna memejamkan mata indahnya sambil mengatur debaran jantung. Mereka bermain cukup lama, Albert merasakan hasrat yang sudah lama ia pendam. Ia begitu antusias sambil memeluk tubuh mungil itu. Selang beberapa menit, pagutan mereka terlepas. Napas keduanya terengah, mata indah itu saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Maafkan, Om." Ucap Albert meminta maaf.
"Om, jadi kita resmi jadian kan hari ini dan detik ini?" tanya Luna antusias.
Albert pun mengangguk sambil tersenyum, bisa-bisanya dia menerima cinta seorang wanita yang menembak dirinya duluan. Bahkan wanita itu adalah seorang gadis berusia 18 tahun. Tapi bagi Albert tidak masalah, toh tidak ada aturan dalam sebuah hubungan asal keduanya saling mencintai.
"Apa, Om mencintai Luna? Kalau begitu Om cepat ungkapkan perasaan Om pada Luna!" pinta Luna berbinar menatapnya penuh harap.
Albert merasa senang, ia tidak melihat air mata jatuh dari pelupuk indahnya lagi.
"Om, juga mencintai Luna. Tapi, untuk hubungan ini lebih baik Luna jangan bicara dulu kepada orangtua Luna. Sebaiknya kita cari cara dulu supaya mereka tidak marah pada Om atau pun Luna. Bagaimana? Sekarang kita jalani saja dulu," seru Albert. Hatinya terasa plong telah mengungkapkan semua perasaanya kepada gadis kecil miliknya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, hari ini Aku mempunyai kekasih gadis kecil yang masih SMA. Oh Tuhan Kau gila Albert," batin Albert seraya tersenyum kepada Luna.