
Pagi telah tiba.
Luna dan Albert sarapan pagi bersama, Luna hanya bisa diam menatap nasi goreng buatan Bi Anna. Ia hanya melamun menatapnya dalam sambil memainkan sendok tingannya, Luna berpikir ia harus menyiapkan segala sesuatu di saat tamu bulanan telah selesai. Albert mengerutkan keningnya tidak mengerti biasanya Luna selalu cerita tetapi untuk hari ini ia hanya bisa diam dan diam saja.
Bangun tidur pun Luna hanya terdiam, Al mengerti memang wanita yang sedang datang bulan lebih sensitif maka dari itu ia membiarkan Luna.
"Daddy, pulang sekolah langsung ke butik, antar Luna mau kan?" tanya Luna nada lemah sambil menatap penuh harap pada Albert.
"Memang nya Luna mau beli apa?" tanya Albert menghadap kepada istri kecilnya sambil memegang tangan Luna dengan lembut. Luna berbinar, ia segera memeluk Albert saking senangnya.
__ADS_1
"Luna mau beli baju lakn*t," jawab Luna antusias. Albert mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti baju apa yang Luna maksud. Seumur-umur baru kali ini Al mendengar baju lakn*t. Begitu senang dan antusiasnya Luna setelah ia ingin membeli baju itu untuk persiapan malam pertama dengan Al.
"Daddy, nanti juga tahu baju apa yang Luna beli, oh, iya. Daddy Minggu depan kita liburan keluar kota, Daddy ikut kan? Nanti disana Daddy pura-pura jadi Om Luna saja biar semua teman-teman Luna tidak curiga kalau Daddy suami Luna. Satu lagi kapan kita bulan madu Dad?" tanya Luna tanpa henti membuat Albert terkekeh. Baru kali ini ia selalu cerita setiap harinya berbeda dengan masalalunya yang penuh tekanan batin.
"Oke, oke. Pokoknya nanti Minggu depan Daddy ikut, tapi untuk bulan madu, nanti saja deh, Luna juga masih datang bulan," jawab Albert lembut membelai wajah Luna.
"Apa Luna siap punya baby di usia segini?" tanya Albert menatap penuh harap.
"Siap, kok. Baby yang mungil, Luna sudah tidak sabar menanti hal itu," serunya membuat Albert menggelengkan kepalanya. Benar-benar Luna ini keturunan Soraya, Albert tidak habis pikir Luna sudah berpikir dewasa, pasti ia tahu dari teman-temannya yang mulai tidak benar. Tapi untung saja Luna tidak terjerumus seperti teman-temannya yang sering menggugurkan kandungannya di luar nikah.
__ADS_1
Setelah sarapan bersama, Luna jadi semangat karena sehabis pulang sekolah ia akan membeli baju lakn*t yang sering teman-temannya bicarakan. Luna sudah tidak sabar ingin memakai baju itu, mungkin setelah tamu bulanan pergi Luna langsung memakainya.
Rambut panjang ia kucir kuda, baju pendek berwarna putih, rok selutut berwarna abu. Luna terlihat cantik sekali, sesekali Albert mencuri pandangannya. Ia masih tidak menyangka mencintai dan menikahi gadis seperti Luna. Walaupun Luna masih 18 tahun, tapi Luna sangat cantik sekali apalagi saat memakai baju seragam sekolah terlihat seksi membuat Albert selalu tidak karuan.
"Daddy, pokoknya jangan lupa oke!" seru Luna menci*m pipi Albert setelah itu ia membuka pintu mobil dan melambaikan tangannya.
Albert hanya bisa terkekeh, Luna si centil, manja dan cerewet membuat Albert tidak mau jauh-jauh dengannya. Bagaimana tidak, sekarang Luna sudah sah menjadi istrinya dan pastinya Albert sangat bahagia.
"Apa aku harus beli kond*m saja, Luna masih kecil bagaimana bisa dia mengandung di saat masa putih abu nya terganggu. Oh, tidak kenapa aku jadi ikut mes*m seperti Luna. Malam pertama, bagaimana ini anak itu sudah tidak sabaran tapi aku takut Luna kenapa-napa saat kita melakukannya," batin Albert melanjukan mobilnya membelah jalanan meninggalkan sekolah Luna.
__ADS_1