Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )

Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )
Godaan


__ADS_3

Luna keluar dengan wajah berbinar, Albert hanya bisa menghembuskan napasnya berat. Setelah itu ia segera menghampiri Luna, sesekali Al mengusap dad*nya karena ia tidak tahan melihat Luna tampil seksi di hadapannya.


"Daddy, ayo kita pulang, Luna pengen makan di kantor saja. Boleh kan Dad?" tanya Luna mengguncangkan pergelangan tangan Al yang sedang membayar baju lakn*t ke kasir.


"Boleh dong sayang, kita langsung order gofood saja. Jadi, setelah kita sampai di kantor makanannya sudah sampai," saran Albert yang di angguki Luna. Mereka keluar butik membawa beberapa paper bag. Banyak pakaian yang Luna beli termasuk baju lakn*t, boxer Albert tidak lupa baju tipis Al yang mereka beli. Luna sengaja membeli baju buat Al biar mereka samaan saat honeymoon tiba.


Setelah pulang berbelanja, Luna duduk sambil memeluk paper bag di dalam dekapannya. Al tertawa sambil menoleh, Luna hanya mengerutkan keningnya sambil cuek bebek ke arah suaminya.


"Daddy kenapa sih?" tanya Luna.


"Enggak, Luna ngapain peluk paper bag, sudah simpan di belakang. Lagian tuh baju tidak akan terbang kok," seru Albert menahan tawa.


"Ishh, Daddy. Luna sudah tidak sabar ingin pakai baju ini, honeymoon kita masih lama yah Dad," pasrah Luna sambil menunduk. Albert menggelengkan kepalanya Luna benar-benar mes*m sekali. Tapi, bagaimana pun Al sangat senang memilki istri seperti Luna yang selalu membuat dirinya ceria sepanjang hari.


"Sabar, sayang. Kata Luna tamu bulanannya cuma empat harian, jadi setelah itu kita.." Albert menghentikan laju mobilnya, ia hampir keceplosan membuat Luna sedikit penasaran.


"Setelah itu apa Daddy?" tanya Luna menoleh.


"Lebih baik kita masuk saja, sepertinya makanan kita sudah sampai," ucap Albert membuka pintu mobil ia menghindari pertanyaan Luna.


"Daddy."

__ADS_1


Luna segera menghampiri Albert, mereka sampai di ruangan kantor yang dimana banyak karyawan menatap ke arah mereka karena Al membawa wanita yang masih sekolah. Setelah melewati mereka, Al segera menggandeng Luna masuk ke ruang kebesarannya.


Dan benar saja makanan yang Al pesan sudah ada di meja sofa tertata rapih siapa lagi kalau bukan OB kepercayaan Al yang selalu ia perintahkan.


"Daddy, Luna lapar," ucap Luna seraya duduk di sofa sambil menaruh barang belanjaannya. Al segera menyusul Luna, ia membuka makanannya setelah itu ia segera menyuapi Luna. Namun, pandangannya tertuju pada gunung kembar yang terlihat sangat menggoda jiwa dan raga Al.


"Sabar, ini waktunya makan siang. Bukan waktunya makan Luna," batin Albert meronta. Ia taruh kembali makanan itu sambil mengusap wajah sesekali Al menghembuskan napasnya secara perlahan.


Luna yang sedang duduk sambil menyenderkan tubuhnya pun menatap Al aneh. Luna segera mendekati suaminya sambil menaruh tangannya tepat di pah* Al.


Deg!


"Emm, anu sayang. Luna ganti baju seragam sekolah yah, baju Luna yang sekarang di pakai terlihat kecil dan ketat," saran Al gugup membuat Luna mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.


"Baju," Luna melihat tubuhnya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Baju Luna dari dulu begini kok Dad," sahut Luna dengan polosnya. Ia semakin mendekati Albert dan terjadilah gunung itu menyenggol pergelangan tangan Al.


"Awwshiit, sabar Al sabar. Istrimu sangat polos jadi dia belum mengerti," batin Albert.


"Luna, kapan datang bulan itu pergi?" tanya Al.

__ADS_1


Luna tercekat, ia tersenyum mengembang, Luna memeluk Albert sambil menci*mi seluruh wajah suaminya.


"Luna, hentikan," pinta Al.


"Daddy sudah tidak tahan yahh, sabar dong Dad. Pokoknya setelah datang bulan Luna pergi, kita harus perang semalaman," goda Luna sambil mengalungkan kedua tangannya. Luna pun duduk di pangkuan Albert membuat dirinya harus menahan sosis nya yang mulai aktif di dalam sangkar.


Brakk!


Pintu terbuka lebar, Serly menatap tajam dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu. Ia menatap tajam Luna sambil berjalan maju, tapi Luna abaikan ia malah memeluk Albert hingga keduanya melihat Serly heran.


"Kamu, anak kecil gatel sekali yah! Di usia mu yang masih remaja gini tuh harusnya memikirkan sekolah mu dan masa depan mu. Apa kamu hamil duluan hingga rela di nikahi pria tua ini," cecar Serly menatap sengit kepada mereka berdua.


Albert takut Luna marah kepadanya, ia mencoba menenangkan istri kecilnya sambil memeluk tubuh Luna.


"Apa maksud Tante! Memangnya Luna salah apa sama Tante. Dengar yah Tante, lebih baik urusi hidupmu sendiri jangan pernah mengurusi rumah tangga orang lain," timpal Luna memeletkan lidahnya ke arah Serly sambil terus duduk di pangkuan Albert.


Serly mengepal geram, ia kena mental dan segera pergi meninggalkan ruang kebesaran Albert sambil membanting pintu.


Bugh!


"Sialan sekali anak kecil itu," gerutu Serly berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2