
Soraya tidak habis pikir Luna akan berbuat nekad seperti ini. Ia tidak bisa diam membiarkan Putrinya seperti ini, dari tadi ia hanya memikirkan Luna, ia takut ada Pria yang berani mendekatinya Putrinya saat berada di club'.
"Ini semua gara-gara Kamu! Coba kalau Kamu tidak marah dan menghukum Luna dengan cara seperti itu. Dia sudah besar bisa menentukan cintanya berlabuh kepada siapa. Kalau pun Dia mencintai Al, bagiku tidak masalah. Demi kebahagiaan Luna, apa Kamu mau Luna menjadi anak nakal di luar sana?" tanya Soraya dengan lantang mengeluarkan unek-uneknya.
Bagas pun hanya bisa diam membisu, memang ia tidak sepantasnya marah kepada Albert atau pun Luna. Tapi Dia tidak menyangka bahwa Putri kesayangannya mencintai sahabat karibnya. Walau bagaimana pun Al adalah sahabat sejatinya yang selalu ada menolong dikala dirinya sedang kesulitan.
"Aku sudah terlanjur menjodohkan Luna kepada Jordan. Juno Putranya sangat baik, Dia juga Pria yang dekat dengan Luna. Perbedaan usia Al dan Luna sangat jauh. Tapi dengan Juno itu masih tahap wajar," jawabnya sambil menghela napas.
Luna datang membuka pintu, untung saja Luna sebelum pergi mencipratkan minuman itu ke baju seragam sekolahnya terlebih dahulu. Hingga pada saat Luna masuk ke dalam rumah bau minuman menyengat di hidung Bagas dan Soraya.
Luna berjalan gontai pura-pura mabuk dan sempoyongan. Bagas semakin khawatir dengan keadaan Luna yang sangat memperihatinkan karena jauh dari Albert.
"Oh Papih, Oh Mamih. Kalian jahat pada Luna. Hahahah Papih jelek sekali, lihatlah kumis ini tidak menarik berada di wajahmu," ucap Luna pura-pura mabuk dan pingsan.
__ADS_1
"Luna," pekik Soraya memeluk tubuhnya yang lunglai ke bawah lantai. Bagas merasa panik, ia tidak menyangka Putrinya benar-benar meminum minuman anggur merah itu.
"Ini semua gara-gara Kamu, sebaiknya Kita bawa Luna ke kamarnya. Biar Aku yang urus, Kamu mau melihat Putri Kita setiap hari minum dan pergi ke club' sendirian. Apa Kamu tidak takut terjadi sesuatu kepada anak Kita," cecar Soraya kembali marah.
Bagas pun segera mengendong Luna ke dalam kamarnya. Ia menatap wajah polos nan cantik itu, Bagas sangat sayang kepada Luna, tapi ia masih berat untuk menerima Albert sebagai menantunya.
"Tidak, Mungkin," batinnya.
Bagas menuruni anak tangga, ia menerima sambungan tlp dari anak buahnya.
"Hallo." ~ Bagas.
"Hallo, Boss. Luna sudah pulang Dia tidak minum anggur merah itu disini Boss, Dia hanya photo Selfi setelah itu pulang." Orang suruhan.
__ADS_1
Sambungan tlp terputus setelah Bagas mematikannya. Ia mengepal geram membalikan tubuhnya untuk menemui Luna yang ada di kamarnya kembali.
"Luna, dasar anak nakal!" gerutunya berjalan kembali ke kamar Putrinya.
Di rumah Albert.
Albert membaca laporan yang setelah anak buahnya mendapatkan semua rahasia Juno dan keluarganya. Ia tersentak kaget setelah tahu siapa yang membunuh Kakek Luna yang berada di China.
"Jadi, bukan meninggal karena kecelakaan tapi di bunuh. Ini tidak benar, Luna, Bagas, Soraya dan Arga mereka sedang dalam bahaya. Aku tidak akan membiarkan Jordan menyakiti keluarga sahabatku," ujarnya menutup Map coklat itu dengan kasar.
Ia segera menghubungi orang suruhannya untuk melindungi Keluarga Luna yang kini sedang dalam bahaya.
"Rencana mereka hanya sampai Juno menikahi Luna. Dan setelah itu mereka akan melenyapkan Bagas dan Soraya, tidak ini kacau. Luna harus Aku beritahu semua ini, tapi bagaimana cara memberitahunya Dia pasti tidak akan percaya dengan bukti ini. Tidak, Aku tidak boleh memberitahu siapa pun, Aku harus pura-pura tidak mengetahui rencana busuk Jordan dan Jordi. Sialan, mereka hanya ingin membalas kan dendamnya karena kalah dalam bisnis dengan Bagas di masalalu," sambung Albert tidak percaya.
__ADS_1