
Setelah perjalanan kurang lebih 17 jam. Luna dan Al sampai di Indonesia dengan selamat, mereka tiba sampai larut malam, Albert menggendong Luna yang tertidur akibat kecapean. Ia berjalan menuju kamar utama yang di ikuti oleh Bi Anna yang membawa koper mereka tiba-tiba suara menggelegar mengacaukan keheningan malam di ruangan tengah rumah membuat Albert segera membalikan tubuhnya sambil menggendong Luna.
"Ternyata Nyonya Albert kecapean," ucap Serly berkacak pinggang menatap kesal kepada mereka berdua. Al segera menyuruh Bi Anna menyimpan barang-barangnya, ia sengaja tidak mengusir Serly dari rumahnya.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Albert.
Luna yang mendengar percakapan mereka segera membuka mata sambil mengerjapkan matanya rupanya ia sudah sampai rumah dengan selamat.
"Daddy."
Panggil Luna dengan suara paraunya, ia segera memeluk kembali rupanya Luna belum sadar ada wanita yang sedang menatapnya kesal di bawah sana.
"Cepat katakan apa mau mu?" tanya Al kepada Serly dengan dingin.
"Aku mau sebagian harta kamu!" pinta Serly dengan tegas.
Luna segera menatap ke arah Serly mengerutkan keningnya. Ia segera turun dari gendongan suaminya berjalan menuruni anak tangga. Albert takut terjadi sesuatu kepada istrinya karena ia mengenal Serly begitu jahat kepada siapapun.
"Apa yang Tante tua katakan?" tanya Luna berjalan ke arahnya.
"Ini bukan urusanmu anak bodoh," cecar Serly.
__ADS_1
"Jelas urusan saya, apa hak kamu meminta harta suamiku!" kesal Luna menatap sengit.
Albert segera menghampiri istrinya, Serly pasti mengatakan hal yang sebenarnya kepada Luna supaya hubungan mereka retak dan Albert kembali gagal berumah tangga.
"Luna Luna, kamu tidak tahu hah. Suamimu sudah mempunyai anak kembar, tapi sayang Alvan sudah meninggal dunia akibat kecerobohannya sendiri, dan sekarang tinggal Alvin yang sedang berjuang di rumah sakit dan itu gara-gara pria ini tidak becus menjadi kepala rumah tangga. Semua harapanku hancur untuk menjadi ibu seutuhnya. Dan dia pun tidak pernah memperdulikan Alvin anak satu-satunya kita yang masih hidup. Dia tidak mau menanggung semua biaya nya. Terutama menjenguknya pun tidak pernah," terang Serly menangis pilu mengeluarkan air mata buayanya.
Deg!
Luna segera menatap ke arah Albert, ia melihat ke arah wajahnya sambil mencangkupkan kedua tangannya.
"Daddy."
Plak ...
Plaak ...
"Wanita sepertimu, pantas saja suamiku dulu memilih diam dan meninggalkan mu. Sekarang kamu memutar balikan fakta mengenai dirimu sendiri hah! Wanita macam apa kamu Serly! Sekali lagi kamu menghina suamiku di depanku, pukulan yang akan melayang, begini-gini juga Luna bisa karate. Wacicaw kamu bakalan kalah oleh tanganku Tante tua. Dan ingat ucapanmu sama sekali tidak akan bisa mematahkan cinta, kepercayaan dan kasih sayangku kepada suamiku. Sebelum aku menikah dengan pria yang sekarang mantan suami mu, semua tentangnya Luna sudah tahu. Jadi kamu jangan pernah mengatakan hal buruk lagi, sekarang kamu pergi," timpal Luna berkacak pinggang, menyuruh Serly pergi Luna menatapnya tajam ke arahnya penuh emosi.
"Berani sekali kamu," kesal Serly melayangkan tangannya untuk membalas Luna. Namun, sayang Albert menghalanginya ia segera menghempaskan tangan Serly dan menyuruh kedua bodyguardnya mengusir mantan istrinya keluar rumah.
"Bawa dia keluar!" titah Al yang segera di angguki kedua bodyguardnya.
__ADS_1
"Sialan kamu Luna, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu," pekik Serly.
Al segera memeluk hangat meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka istri kecilnya sudah mengetahui semua masalalu tentangnya.
"Terima kasih sayang," ucap serak Albert meneteskan air matanya sekarang ia tidak sendirian merawat putranya.
"Daddy, cup cup cup jangan menangis, nanti ketampannya hilang lho," ejek Luna sambil mencubit hidung suaminya mengusap air matanya dan memeluknya kembali.
"Luna sayang Daddy dan masalalu Daddy. Tidak ada yang perlu khawatirkan lagi sekarang, Luna sayang Alvin," ucap Luna menenangkan suaminya dalam dekapannya.
"Luna tahu Alvin dari siapa?" tanya Al melonggarkan pelukannya.
"Siapa lagi kalau bukan Mamih, Luna juga sering menjenguknya kok. Daddy lupa yah! Mamih sama Papih kan sahabat Daddy ihhh Daddy. Semua masalalu Daddy Luna tahu kok dari Mamih dan Papih" ujarnya membuat Albert lega dan tidak percaya Luna sudah mengetahui semuanya.
"Terima kasih sayang," ucap lirih Albert kembali memeluk istrinya dan menangis.
Sekarang ia tidak sendirian lagi, Luna telah membuat dirinya kuat dan percaya diri lagi. Tuduhan Serly membuat Albert merasa dirinya gagal menjadi seorang Papah untuk Alvin.
Serly yang telah meninggalkan Al dan kedua anak kembarnya hingga salah satu anak mereka meninggal dunia. Dari lahir Alvin tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Serly. Dan sekarang ia malah menuduh Albert yang tidak-tidak untuk menghancurkan rumah tangganya dan yang lebih kesal lagi Serly meminta harta sebagian dari perusahaannya. Sungguh sangat keji wanita seperti Serly.
"Boss, semua tentang Serly sudah ada di dalam map ini," ucap salah seorang bodyguard Albert yang di suruh Al mencari tahu siapa suami Serly. Albert curiga Serly mempunyai rencana lain, bukannya ia tidak mau mengetahui sejak tahun lalu dengan siapa Serly menikah tapi ia lebih fokus kepada Alvin. Semenjak Serly kembali hadir ia terlihat lebih wow dari sebelumnya membuat Albert curiga dan waspada.
__ADS_1