
Sarapan pagi telah tiba.
Luna sudah siap memakai baju seragam sekolahnya. Rambutnya ia kuncir kuda, Luna segera mengambil tas sekolah dan langsung saja ia menuruni anak tangga. Albert yang sudah menunggu Luna di meja makan langsung terpesona melihat penampilan Luna yang sangat lucu. Baru kali ini Albert terpesona kepada anak gadis.
"Pagi Om ku, yang sangat tampan," sapa Luna seraya menarik kursi dan segera duduk. Albert yang masih diam menatap Luna tidak berkedip, debaran jantungnya membuat Dia harus selalu mengaturnya.
"Om," pekiknya membuat Albert segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maaf, Kita segera sarapan. Setelah itu Om antar Luna ke sekolah," sahutnya sambil mengambil roti bakar kesukaannya.
Luna hanya manggut-manggut sambil melihat Albert yang gelagapan. Ide jail Luna muncul, ia langsung diam setelah bunyi ponselnya berdering.
"Hallo, eh Kak Juno. Ada apa? Kakak mau datang ke sekolah Luna, oke, Luna tunggu yah Kak," serunya sambil menaruh kembali ponselnya.
Albert yang mendengarkan percakapan Luna dengan orang lain membuat dirinya kesal. Entah mengapa ia tidak suka Luna bercakap dengan Pria lain.
"Hmm, Luna habiskan sarapan mu, setelah itu Kita berangkat," ucapnya dingin. Luna hanya merasa geli melihat perubahan wajah Albert setelah ia menerima tlp.
"Om, nanti Luna mau perkenalkan dengan Kak Juno. Apa Om mau?" tanya Luna.
__ADS_1
"Tidak," dinginnya membuat Luna tertawa kecil.
"Om, roti bakarnya jangan di tusuk-tusuk begitu, biar Luna suapi Om," tawarnya seraya bangkit dari tempat duduk dan segera mengambil roti bakar. Luna langsung menyuapi Albert sambil tersenyum manis.
Deg!
Debaran jantung Albert berdetak lebih cepat saat Luna menyuapi dirinya. Luna juga mengusap selai yang menempel di bib*r Albert.
"Oh, tuhan. Calon imam Ku ini sangat tampan, rasanya Aku pengen menikah dengannya. Mamih pokoknya Luna pengen menikah dengan Om Albert sekarang," batin Luna kelepek-kelepek.
"Luna," ucap Albert dengan suara beratnya.
"Iya, Om," seru Luna.
"Bagaimana mungkin Aku menyukai gadis ini," batin Albert.
Setelah habis sarapan, Albert masih bete, ia tidak mau Luna dekat dengan Pria lain. Hatinya mendadak kesal sendiri saat Luna mau bertemu dengan Pria yang bernama Juno. Padahal hanya akal bulus Luna untuk menggoda Albert. Luna sengaja menyalakan alarm pada ponselnya dan berpura-pura menerima tlp dari seseorang.
"Om?" tanya Luna.
__ADS_1
Albert masih diam, hatinya mendadak lemas. Ia jadi tidak bersemangat untuk pergi ke kantor dan meninggalkan Luna di sekolah. Albert ingin tahu wajah Pria yang di maksud Luna itu.
"Luna, sudah sampai. Sebaiknya Kamu langsung masuk kelas dan jangan pernah bertemu dengan Pria," titahnya dingin.
Luna malah mendekati Albert, bukannya turun dan segera masuk kelas. Luna menatap inten, sekilas ia langsung membuka sabuk pengaman dan.
"Muuaahh."
Luna menci*m pipi Albert dengan lembut, ia pun segera pergi membuka pintu mobil sebelum di marahi Albert.
"Bye, Om." Seru Luna sambil melambaikan tangannya dan masuk gerbang.
"Luna. Ya ampun anak itu lagi-lagi aahhhh! Bagaimana bisa dia menci*mku. Luna Kamu bikin gemas," ucap Albert seraya menyentuh pipi yang di ci*m oleh anak gadis.
Di dalam kelas Luna terus tertawa, akhirnya ia bisa menci*m Albert. Tapi bagaimana nanti pulang sekolah, Luna takut Albert marah kepadanya. Luna pun mencari cara agar Albert tidak memarahinya hanya gara-gara Dia menci*mnya.
Di dalam perjalanan, Albert masih memikirkan Luna yang sempat menci*mnya di dalam mobil. Dad*nya bergetar, tidak di sangka Luna sangat jail, ia harus menanyakan perihal ini kepada Luna.
"Luna, Kamu bikin Aku tidak karuan. Bagaimana bisa Dia menci*mku, Anak itu benar-benar mes*m," ucap Albert seraya memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Lara yang baru datang, segera menyambut kedatangan Albert dengan senyuman manisnya. Tapi sayang, Albert tidak menggubris ia masih memikirkan Luna, hanya Luna yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Luna, kenapa dia selalu ada dalam pikiranku," ucap Albert segera menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya.