
Juno berhasil di bawa kerumahnya, anak buah Jordan melaporkan bahwa ada pria tubuh tinggi kekar menghabisi Juno dengan sekali pukulan.
Bragh!
Jordan meninju meja yang ada di hadapannya tepat di sebelah tempat tidur. Ia menatap sengit kepada dua orang suruhannya yang telah berhasil membawa Juno pulang.
"Siapa pria itu? Apa aku mengenalnya sehingga membuat ia mengincar dan menghalangi Juno bersama Luna. Kalian cepat cari pria itu, kalau bisa matikan dia jangan lupa jasadnya buang ke laut atau kalian bakar sekalian. Berani sekali dia telah membuat putraku babak belur yang dimana nanti malam akan melaksanakan tunangan," titah Jordan sambil menatap Juno yang masih pingsan di atas tempat tidur dengan wajah babak belur. Kedua orang suruhannya pun bergegas pergi untuk menyelidiki Albert.
Di tempat lain.
Luna keluar dari mobil, ia segera berlari menuju rumahnya. Luna emosi membuka tas selempang yang dia pakai sambil menatap kesal kepada Albert kemudian ia menatap tajam Bagas yang kebetulan ada di rumah sedang membaca koran bersama Soraya.
"Papih," Luna berteriak sambil melempar tas miliknya ke bawah lantai. Ia berjalan ke arah kedua orangtuanya yang sedang duduk. Napasnya terengah menandakan dirinya marah dan kesal atas perbuatan Juno.
"Ada apa, kenapa kamu begitu kacau?" tanya Bagas.
"Papih Luna tidak mau menikah dengan pria yang sangat jahat seperti Juno. Luna di lecehkan olehnya sambil di ancam, pokoknya malam ini Luna tidak mau lamaran," pekiknya membalikan tubuhnya meninggalkan Bagas yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak akan terjadi Luna," jawab Bagas menatap punggung Luna yang perlahan menghilang dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Pih, lebih baik kita batalkan saja acara pertunangan Luna, mamah juga tidak setuju atas apa yang Juno lakukan kepada Luna Walau bagaimana pun Luna tidak akan berbohong mengenai hal ini," ujar Soraya. Tapi Bagas tidak mau, ia sudah sepakat untuk menjadi Jordan sebagai besan yang tentunya menjauhkan Albert dan Luna supaya mereka tidak bisa bersatu.
"Tidak, keputusan Papih sudah bulat," cecarnya membanting koran itu ke lantai dan bergegas pergi meninggalkan Soraya.
Di rumah Albert.
Ia segera membersihkan dirinya, sedangkan Arga ia mencoba menerobos masuk ke kamar Al untuk menanyakan perihal hubungannya dengan Luna kepada Albert. Tentu saja Al segera memasukan baju miliknya ke dalam mesin cuci yang dimana bau maskulin Luna tercium oleh Arga.
"Malam ini Juno resmi melamar Luna, tenang Al. Kamu pasti bisa menggagalkan semua rencana licik mereka dan ini hanya tunangan saja. Bukti itu belum terkumpul semua, jadi untuk saat ini biarkan mereka senang dulu," ucap Albert memejamkan matanya sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk menenangkan pikirannya. Walaupun ia sangat tidak rela Luna tunangan dengan Juno. Tapi ia juga tidak akan gegabah mengenai urusan besar ini, ia dan Arga akan terus berusaha untuk menguak kejahatan Jordan.
"Sialan," Albert segera melilitkan handuk kecil itu di atas pinggangnya. Ia mendengar ponselnya berdering sontak saja Albert segera mengangkat Vidio call itu yang ternyata Luna. Albert menekan tombol warna biru, ia segera bertatap muka dengan Luna.
"Daddy, turunkan ponselnya ke bawah cepat," pinta Luna membuat Albert mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa? Luna dasar cab*l mana mungkin Daddy memamerkan tubuh Daddy sama Luna," ujarnya terkekeh Al segera meletakan ponselnya di atas meja dan ia segera mengambil baju ganti yang berada di lemari.
Luna hanya bisa menggigit jarinya, mendengar Albert sontak saja Luna tertawa kencang, karena Albert sengaja mengalihkan arah kamera supaya Luna tidak bisa melihat tubuh kekar miliknya.
"Daddy malam ini datang kan ke acara Luna?" tanya Luna sedikit kesal.
__ADS_1
"Hmm .. Daddy datang kok, kamu tenang saja," sahutnya sambil mengenakan baju tipis dan boxser andalannya.
"Luna kangen pelukan Daddy," pekik Luna di dalam Vidio call tersebut. Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil meraih ponsel miliknya.
Tiba-tiba saja Arga keluar dari kolong tempat tidur Albert tidak terduga membuat Al terkejut setengah mati.
"Luna."
Arga berteriak memanggil nama adiknya membuat Luna bingung karena ia mendengar suara Arga di sambungan Vidio call.
"Kak, Arga."
Albert segera mematikan ponselnya, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ketahuan oleh Arga.
"Kalian! Waahhh Om, Al. Kenapa tidak memberitahu Arga?" tanya Arga sambil berdiri mendekati Albert yang tercengang melihat Arga keluar dari kolong tempat tidur.
Ia tidak tahu harus bicara apa mengenai Luna, dan pastinya Arga mendengar percakapan mereka berdua.
"Arga, biar Om jelaskan dulu!" Albert menghela napas membuat Arga terus menatap dalam.
__ADS_1