
Luna segera mengalihkan tangan suaminya supaya tidak membunuh Serly. Albert tercengang saat tangannya mengarah ke atas saat dirinya menekan tombol pistol, langit-langit rumah hingga mengakibatkan bolong akibat peluru Albert mengarah ke atas. Luna mengeratkan pelukan tubuh kekar itu sambil memejamkan matanya tangannya mencekal kuat tangan kekar Albert mengarahkan ke arah lain.
"Daddy," Luna memanggil namanya.
Serly memejamkan matanya sambil menangis, ia membuka secara perlahan. Ternyata dirinya masih hidup selamat dari kematian yang mengancam nyawanya.
"Lu-na," Albert langsung memeluk erat tubuh kecil yang telah menyelamatkan dirinya dari khilap terdalam.
Al melonggarkan pelukannya ia mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya sambil menci*m keningnya.
"Maafkan Daddy sayang," ucap Albert kembali memeluk istrinya.
Untung saja Luna langsung mengikuti suaminya saat dirinya masuk ke ruangan Soraya dan Bagas yang di rawat disana. Ia membalikan tubuhnya kembali saat tahu suaminya pergi membawa Melisa ke arah parkiran. Luna melihat dan menyaksikan bagaimana Melisa di tembak oleh Juno dan Serly. Ia segera bergegas menyuruh sang supir orangtuanya untuk mengikuti arah mobil Albert yang melaju cepat menyusul anak buahnya menangkap kedua buronan.
Luna pun mengikuti sampe akhirnya ia tiba di tempat dimana Serly di sekap. Ia menerobos masuk memohon kepada anak buah suaminya untuk mengijinkan dirinya menggagalkan rencana Albert membunuh Serly.
"Daddy jangan kotori tangan mu sendiri hanya untuk membalaskan dendam rasa sakit hati Daddy kepada wanita itu. Dengar Daddy berhak marah dan emosi tapi bukan begini caranya, Luna mengerti bagaimana perasaan Daddy sekarang, tapi ingat jangan pernah melakukan kesalahan karena emosi membara di benak Daddy. Ini tidak akan menyelesaikan masalahmu, lebih baik Tante tua ini kita jebloskan kepenjara dan pastinya ia akan di hukum mati karena telah merencanakan pembunuhan Daddy, dan orang tua Luna," tegas Luna sambil menatap penuh amarah kepada Serly.
"Tidak, aku tidak mau mati!" jerit Serly menggelengkan kepalanya tapi tidak dihiraukan oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, Albert melonggarkan pelukannya. Ia tidak menyangka istri omes dan kecilnya ini punya pikiran sedewasa ini. Ia hampir saja membuat kesalahan kepada dirinya sendiri karena akan membunuh Serly oleh tangannya sendiri.
"Kamu benar sayang, mohon maafkan Daddy atas semua kesalahan yang tidak pernah terpikirkan sebelum bertindak. Terima kasih sekali lagi Daddy sayang Luna," kecup Albert menci*m bib*r istrinya dengan lembut. Serly merasa muak melihat adegan dewasa itu.
"Menjijikan," umpat Serly sambil membuang ludahnya.
Pagutan mereka terlepas sehingga napas keduanya terengah. Cumbuan dan buaian Albert kepada Luna membuat Serly ada rasa cemburu ia mengingat bagaimana Albert dulu pernah menc*mbunya.
"Luna-Luna, sayang sekali. Suamimu adalah bekas aku tiduri! Jadi kamu mendapatkan sampah hahhaha," seru Serly tertawa senang.
"Diam!" pekik Albert menatap tajam.
"Bajingan kamu Luna," pekik Serly.
Plak ... plak ...
Tamparan kuat mendarat di pipi kiri dan kanan Serly. Albert emosi ia segera menamparnya untuk memberi pelajaran.
"Ingat, kamu hanyalah sampah bagiku," desis Albert mencengkram kedua pipi Serly sangat kuat kemudian ia hempaskan kembali membuat Serly meringis kesakitan.
__ADS_1
"Daddy, sudah cukup sayang.Tamparan ini hanya untuk menuntaskan amarah suamiku sana padamu, untung Luna masih punya rasa kasihan padamu Tante Tua," ujar Luna dengan tegas.
"Sialan!"
"Sudahlah Daddy abaikan saja wanita gila ini! Dengar Alvin sudah siuman dari komanya. Daddy senang bukan mendengar berita ini," seru Luna.
Albert tercengang ia segera memeluk kembali istrinya. Mereka segera bergegas pergi meninggalkan rumah kosong itu dan memerintahkan kepada anak buahnya untuk menjebloskan Serly masuk ke dalam penjara. Walaupun Luna dan Albert tidak menghukumnya, tapi hukum alam lah yang akan menghukum Serly dengan caranya sendiri.
"Brengs*k kalian, aku akan menghantui kamu Al, lepaskan aku tidak mau mati konyol," pekik Serly memberontak.
Rantai yang ada di pergelangan kaki Serly terlepas begitu saja. Ia berhasil menendang kepemilikan orang suruhan Albert. Serly berlari sekuat tenaganya menyusul Albert dan Luna. Namun, sayang mereka sudah pergi jauh sehingga membuat dirinya menjerit histeris di tengah jalan raya yang tidak jauh dari rumah kosong itu.
Anak buah Albert mengejar Serly sehingga membuat diri Serly tertawa lepas karena berhasil meloloskan diri.
"Manusia bodoh!" ujar Serly sambil tertawa mengacungkan jari tengah kepada anak buah Al yang hanya diam mematung melihat ke arahnya. Namun, sayang. Di saat dirinya tertawa lepas sambil membalikan tubuhnya tiba-tiba mobil besar menghantam kuat tubuh Serly sehingga ia terpental jauh.
Bugh!
Anak buah Albert kaget setengah mati melihat Serly terlempar jauh dari lokasi kejadian.
__ADS_1