
Luna langsung saja membuat kopi hitam untuk kekasih hatinya. Walaupun agak kesal kepada Albert tapi Luna bisa menahannya. Harapannya untuk bermesraan pupus sudah tidak sesuai yang Luna inginkan.
"Daddy sangat menyebalkan sekali sih!" gerutu Luna sambil memutar air kopi dalam gelas.
Tangan kekar itu tiba-tiba melingkar di tubuh mungil yang kini sedang membelakangi dirinya. Luna tersenyum, ia segera membalikan tubuhnya, akhirnya Albert kalah. Ia tidak bisa marah terlalu lama kepada Gadis kecilnya.
"Kamu marah sama Daddy?" tanya Albert dengan sedikit parau.
"Hmm, Daddy sangat menyebalkan sekali. Masa cuma begitu saja hukuman buat Luna!" serunya. Luna segera membungkam mulutnya.
"Salah bicara, dasar Luna bodoh! Bagaimana nanti Kalau Aku dihukum lagi untuk memberisihkan ruangan ini," batinnya menjerit tidak rela.
Tangan kekar itu menurunkan tangan Luna yang saat ini sedang membungkam mulut manisnya. Albert menatap dalam sambil terus mendekati tubuh mungil itu, hingga kini Luna ada di bawah kukungan tubuh kekar Albert.
"Kamu sangat nakal! Ini kan yang Kamu mau," ucap Albert segera menempelkan bib*rnya. Luna membulatkan matanya, ia tidak percaya bahwa kini dirinya sedang di cumb* oleh Albert.
Tanpa mau menunggu lama, Luna membalas c*man kekasihnya sambil mengalungkan tangannya kembali. Ini yang Luna mau dari Albert, dirinya ingin sekali terus bermesraan dengannya.
Mereka menikmatinya sambil meresapi setiap sentuhan. Albert menahan gejolak dalam benaknya supaya tangan kekar itu tetap diam dengan posisi biasa. Tapi ia meronta ingin sekali Albert memainkan gunung kenyal itu yang menempel di bagian bidang dad* kekarnya. Tapi Al berhasil mencoba menahan dengan cara memeluk erat tubuh kecil itu walaupun hasrat dalam dirinya menggebu.
Ci*man lembut itu saling membalas satu sama lain. Luna serasa di bawa ke atas awan saking nikmat-nya bercint*.
__ADS_1
Pagutan mereka terlepas, hingga keduanya terengah. Napas keduanya memburu sampai Luna menatap Albert penuh cinta.
Tok .. tok
Lagi-lagi gangguan datang, Luna berdecak kesal. Ia langsung merapihkan bajunya sambil tersenyum dan berbisik kepada Albert.
"Daddy, lebih baik Kita menikah saja dan segera berbulan madu ke tempat yang sangat jauh," bisiknya membuat Albert menggelangkan kepalanya.
"Luna ini mes*m sekali. Sabar ada waktunya kita bersama. Daddy akan terus berusaha untuk meyakinkan kedua orangtua mu," sahutnya yang segera di angguki oleh Luna.
"Muuahh, Luna belum puas Daddy!" rengek Luna.
Albert yang sudah merapihkan kameja dan jas-nya segera berjalan ke arah kursi kebesarannya untuk duduk kembali. Sedangkan Luna ia duduk di sofa sambil membaca majalah.
"Akhemm ... masuk," suruh Albert.
Melisa segera membuka pintu sambil tersenyum ke arahnya. Betapa kesalnya Luna siapa yang datang mengganggu dirinya.
Melisa membawa senyuman untuk Albert yang saat ini sedang melihat ke arah kekasih hatinya.
"Al."
__ADS_1
Melisa berjalan menuju meja kerja Albert, ia belum sadar ada Luna yang saat ini sedang menatapnya kesal.
"Tante ngapain kesini!" kesal Luna berdiri sambil menutup majalah dan menyimpannya kembali ke atas meja. Ia berjalan ke arah Melisa sambil menatap dingin.
"Luna ngapain Kamu ada disini?" tanya Melisa.
"Luna hanya main saja, lagian di rumah sangat membosankan karena ada Tante," desisnya. sambil memeluk tangannya di dad*.
"Luna, Kamu sangat menyebalkan sekali. Sikap mu tidak pernah berubah. Eh, lihatlah kenapa Bib*r mu merah seperti sudah melakukan sesuatu," tunjuk Melisa mendekati Luna sambil memincingkan wajahnya.
"Apaan sih Tante, pikirannya merajalela. Luna sudah dewasa jadi berhak dong melakukan apa saja yang Luna mau. Termasuk bermesraan dengan pacar Luna," cecarnya kesal.
Luna tidak peduli Melisa marah kepadanya karena memang benar. Luna sudah dewasa, Soraya bahkan tidak melarang Luna untuk berpacaran asal tahu batas untuk menjaga diri.
Hal seperti berci*man memang sangat wajar bagi kalangan remaja. Luna juga tidak pernah berbuat senonoh dengan pria mana pun.
"Dasar anak nakal!" serunya seraya melayangkan tangannya sambil menatap dingin.
Tangan Melisa berhasil Albert tahan supaya tidak berhasil menamp*r gadis kecil miliknya.
"Melisa!" bentak Albert menatap dingin.
__ADS_1