Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )

Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )
Satu detik Pusshh


__ADS_3

Albert segera memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak pintu utama yang di jaga ketat oleh anak buah Jordan. Hatinya tidak karuan saat ia mendengar teriakan Soraya yang begitu histeris memanggil Luna.


Braggh!


Pintu terbuka lebar setelah beberapa anak buah Al mendobraknya begitu keras. Beberapa orang jahat itu segera menodongkan pistol ke arah Albert dan beberapa ke arah anak buahnya. Luna sudah jatuh pingsan, Soraya menangis histeris memeluk tubuh lemah Luna yang terdapat bercak darah di lantai. Bagas masih terengah saat kepalanya di injak oleh seorang pria yang begitu amat di percaya Jordan. Wajahnya memar dan terluka di bagian seluruh bibir dan hidungnya mengeluarkan darah.


Albert menarik napasnya sebelum ia mengeluarkan pistol dari balik jas yang ia gunakan. Tatapan sengit itu mengarah ke arah orang yang sangat di percaya Jordan sambil mengambil pistol.


Dor ... dor


Albert mengarahkan dua pistol sekaligus langsung mengenai jantung penjahat yang sedang menginjak kaki Bagas. Ia tergeletak jatuh ke bawah lantai. Darah segar keluar, semua para pembantu yang di borgol menjerit kaget melihat orang mati di depan mata kepalanya sendiri.


Dor .. dor


Dengan cekatan ia terus menghabisi anak buah Jordan tanpa ada yang tersisa satu orang pun.

__ADS_1


Albert segera menghabisi semua anak buah yang akan melawan dirinya. Semuanya sepuluh orang, mereka terkapar meninggal satu tatapan tajam langsung menghabisi semuanya. Albert segera berlari ke arah gadis kecilnya yang terlihat lemah bersama genangan darah yang terus mengalir di area mulutnya.


"Brengsek!" umpat Albert menyimpan kembali pistol nya ke balik jas.


Bagas tercengang, Albert menghabisi semua anak buah Jordan hanya dalam hitungan detik semuanya mati. Ia mencoba untuk berdiri dan segera dan di bantu oleh beberapa anak buah Albert. Sayang sekali anak buah Bagas berhasil dihabisi oleh mereka yang telah keji memperlakukannya dengan sangat buruk.


"Sayang, bangun lah," ucap lirih Albert segera menggendong Luna kedalam pelukannya dan berlalu pergi meninggalkan rumah Luna. Soraya segera mengikuti Albert begitu juga Bagas. Bagas menyesal telah memperlakukan Albert sangat buruk dan merendahkannya. Albert membuka pintu mobil, ia segera menidurkan Luna di susul oleh Soraya untuk menemaninya di kursi belakang.


"Al. Maafkan aku," ucap Bagas dengan tertatih wajahnya sangat mengenaskan.


Albert mengepal geram, siapa lagi kalau bukan Jordan. Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk memberi pelajaran kepada Jordan.


"Awas!"


Arga berhasil menghalangi satu tembakan dari arah sebelah kiri Albert.

__ADS_1


Dorr! ...


Tembakan itu berhasil lepas landas tapi tidak mengenai tubuh Albert atau pun Bagas. Arga menatap penuh wajah Bagas yang terlihat babak belur membuat keduanya saling menatap.


"Arga."


Soraya menjerit, tidak mau menunggu waktu lama. Albert menyuruh semuanya masuk ke dalam mobil untuk segera menyelamatkan Luna. Bagas masih bingung tidak mengerti, bagaimana bisa Arga ada di Indonesia, sedangkan ia harus mengikuti acara kelulusan kuliahnya di negara lain.


"Ada apa ini?" tanya Bagas kepada Al dan Arga.


"Pih, nanti Arga jelasin semuanya, tentang Tante Melisa dan juga keluarga Jordan sialan," jawabnya.


Soraya masih menangis, Bagas hanya bisa diam sambil mengusap wajah putrinya yang ada di pangkuannya. Albert tidak akan melepaskan begitu saja Jordan dan antek-anteknya. Ia akan terus memburu sampai ke akar-akarnya. Ia tidak rela gadis kecilnya menjadi korban kebiadaban Jordan yang tidak segan mencelakainya langsung.


"Sialan, maafkan Daddy Luna. Kamu pasti selamat," batin Albert menatap ke arah jalanan sambil terus fokus menyetir mobil membawa hatinya yang sangat cemas memikirkan keselamatan Luna.

__ADS_1


__ADS_2