
Albert berdiri dengan santainya sambil merapihkan jas miliknya. Ia berjalan mendekati Bagas yang sedang menatap kepergian Juno dan Melisa keluar rumah megah miliknya memasuki mobil. Semua para wartawan mengambil potret Juno dan Melisa untuk jadi bahan gosip. Juno membuat pencemaran nama baik juga memalukan pesta yang seharusnya berjalan dengan lancar dan mulus kini hanya jadi bahan gosip. Bagas tidak mengerti bagaimana bisa Juno melakukan hal menjijikan di depan umum seperti itu hingga ia menyakiti hatinya. Para wartawan juga turut memotret adegan Juno yang terus-terusan menci*min wajah dan tubuh Melisa. Albert hanya bisa tertawa kecil sambil menepuk pundak Bagas melihat kepergian mereka berdua.
"Jadi, bagaimana. Itu calon menantu idaman mu yang sudah menikah dengan adik angkat istrimu sendiri. Sebenarnya Aku sudah tahu semuanya tapi yaa aku tidak mau kamu tambah membenciku hanya gara-gara membeberkan kebenaran. Aku harap kamu bisa melihat kebenaran lain setelah ini," terangnya berlalu pergi meninggalkan pesta.
"Daddy."
Luna menghampiri Albert tapi ditahan oleh Bagas. Soraya hanya bisa berdecak kesal suaminya masih buta akan kebenaran.
"Al, kamu pulang saja dulu, nanti kita bisa bicara lagi," ucap Soraya. Luna hanya bisa menatap sedih kepergian Albert.
"Papih, jahat. Om Jordan!" teriak Luna menghampiri Jordan yang mau kabur dari pesta kacau balau ini tanpa rasa bersalah.
"Cincin ini tidak pantas untuk Luna, sebaiknya Om, Jordan jangan pernah menampakan wajah lagi di hadapan Luna. Terutama Juno sialan," sambungnya membuang cincin pertunangannya tepat kehadapan Jordan.
Criing!
Bagas pun emosi, ia malu telah percaya kepada Jordan dan anaknya. Terutama Melisa ia masih tidak mengerti kenapa Melisa bisa menikah dengan Juno tanpa sepengetahuan mereka.
Bugh!
__ADS_1
Wajah Jordan Bagas pukul sekuat tenaga dengan emosi yang melanda dirinya. Ia tidak mengerti da apa yang sebenarnya terjadi antara Melisa dan Juno.
"Saya putuskan bahwa pertunangan ini batal, kamu telah menipu putriku. Memalukan semua inves dan kesepakatan kita saya batalkan," ujarnya menatap tajam ke arah Jordan yang masih termangu. Ia berjanji perilaku Luna dan Bagas malam ini harus ia balas, ia tidak mau begitu saja di tindas oleh mereka.
"Lihat saja! Kalian akan tahu akibatnya," batin Jordan berlalu pergi sambil mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya Bagas ingin sekali memukul habis Jordan. Namun, ia tahan karena banyak wartawan yang meliput kejadian menjijikan ini dan ini bisa mempengaruhi reputasinya sebagai pengusaha terkenal seperti mereka.
"Melisa."
Soraya pingsan. Luna yang melihat Mamihnya pingsan telah di sampingnya berteriak.
"Mamih."
Sementara di perjalanan Albert segera menghubungi anak buahnya untuk menghabisi Jordan dan Juno. Mungkin ini balasan sederhana yang di berikan Albert untuk Jordan, tinggal menunggu waktunya tiba pembalasan yang amat tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya.
Melisa telah menikahi Juno, semua informasi mengenai Luna Melisa berikan kepada Juno. Bukan itu saja Melisa juga memata-matai semua keluarga Bagas karena ia di perintahkan untuk mengintai kekurangan keluarga Bagas dengan cara menjadi adik angkat Soraya. Setelah tercapai tujuan mereka, Juno diam-diam menikahi Melisa karena mereka sudah di jodohkan sejak dari kecil. Dan sekarang kedua orangtua Melisa berada di luar negeri. Semua rencana mereka berhasil hingga sekarang pun Bagas belum paham tujuan Melisa mendekati Soraya dan berpura-pura anak yatim piatu.
Di rumah Luna mencoba untuk tetap tenang, ia menunggu Soraya yang sedang di periksa oleh Dokter.
Bagas menerima tlp dari salah satu kepercayaan bahwa semua aset keluarga dan perusahaan telah jatuh ke tangan Jordan membuat dirinya tercengang. Dan tentunya ini adalah kerjaan Melisa yang telah bersekongkol dengan Jordan dan Juno.
__ADS_1
"Bagaiman ini bisa terjadi," ucapnya lemas sambil berdiam diri.
"Papih, kenapa?" tanya Luna menghampiri Bagas.
"Kita jatuh miskin sayang, semua aset rumah dan perusaan telah berhasil Jordan rampas. Brengsek Kamu Jordan dan ini semua ulah Melisa yang telah menipu kita selama puluhan tahun," ujarnya sambil berteriak tidak terima. Luna hanya bisa duduk lemah mendengar semuanya dari mulut papihnya.
"Tidak, Luna tidak mau kehilangan rumah ini," tangisnya pecah saat itu juga.
Sementara di rumah Albert ia segera melonggarkan dasinya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu. Arga muncul dari ruang kerja Al, ia tersenyum penuh kemenangan. Ia segera memberikan semua hasil kerja yang dia lakukan selama ini bersama Albert.
"Semua misi kita selesai, walaupun aku tidak tega melihat Papah dan yang lainnya harus hidup miskin," ujarnya memberikan semua berkas itu kepada Albert. Senyuman itu mengembang setelah Al membaca semua isinya.
"Bagus, ini yang kita tuju. Jordan nikmati saja semua kemenangan palsu ini, besok aku akan bawa mereka kerumah baru," ujarnya enteng menyimpan berkas itu ke atas meja tepat di hadapan Arga.
"Adik, ipar tua. Ingat! Kamu harus memanggilku Kakak muda mengerti," ujarnya tertawa lebar penuh kemenangan.
"Sialan! Ingat Arga. Angka umurku saja yang kecepetan, tapi lihatlah wajahku sangat muda darimu hahahha," ejeknya tidak mau kalah.
"Apa-apaan kamu ini, Kamu tetap adik ipar tua. Kalau kamu tidak setuju ingat, Luna!" ancamnya membuat Albert mati kutu di buatnya.
__ADS_1
"Dasar anak durhaka," pekik Albert melihat kepergian Arga sambil tertawa lepas.