Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )

Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )
Malas


__ADS_3

Luna membuka pintu kamarnya, Soraya mengikuti Luna ia ingin menanyakan sesuatu hal kepada putrinya. Luna menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, ia menghela napas kemudian memejamkan matanya. Rasanya cape dan lelah habis jalan santai. Eh tapi bukan jalan santai sih cuma buat ngedate hahah.


Tok ... tok ...


Pintu kamar di ketuk oleh Soraya, Luna mengijinkan Mamih nya masuk. Ia masih terbaring lemas, Soraya membuka pintu kebetulan Luna tidak menguncinya. Ia segera duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum melihat Luna sedang memeluk ponsel miliknya yang terdapat photo Albert.


"Sayang, Juno ingin mengajak mu jalan-jalan," ujarnya sambil menatap ke arah Luna yang masih menutup matanya.


"Ishh, Luna cape Mih, lagian Kak, Juno kan punya pacar mereka sudah tunangan eh bukan menikah kalau gak salah," jawabnya ketus.


"Masa sih, tapi kata Juno dia sudah putus dan memilih di jodohkan denganmu. Dia menyesal sudah mengabaikan perasaanmu, tapi itu sih terserah Luna," ucapnya mencoba memancing Luna.


"Tidak! Sekarang perasaan Luna sudah hilang buat Kak, Juno. Cowok lebay so-soan putus padahal sudah menikah, tau ahh Luna tidak mau jalan sama dia Mih. Bilangin sama Papih biar mereka saja yang jalan berdua Luna sih no." Sahutnya ketus.


Soraya tersenyum, ia pikir Luna masih menyukai Juno. Tapi setelah dia punya Albert, terlihat sekali Luna menyayangi sahabatnya itu.


"Mih."


"Hmm."


"Besok Luna mau makan siang sehabis pulang dari sekolah. Tolongin Luna yah biar mulus bertemu calon imam Luna," pintanya bangkit dan duduk berendengan dengan Soraya.


"Calon, imam. Calon imam! Itu urusan gampang buat Mamih bantu kalian," sering tersenyum.

__ADS_1


"Mamih is the best. Luna makin love-love deh,"


"Dasar anak nakal," ujarnya seraya memeluk putrinya ke dalam dekapannya.


Sementara di rumah Albert.


Ia baru sampai, Arga heran ia melihat dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ia baru kali ini melihat Albert memakai baju olahraga. Arga yang baru bangun dan kini sedang duduk diam menatapnya penuh keheranan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Om, habis dari mana? Tumben sekali jalan pagi apa


Om sudah punya kekasih lagi?" tanya Arga sembari melahap roti tawar berbalut selai kacang coklat.


Albert hanya tertawa kecil, ia menghampiri pria itu yang sedang menatapnya heran. Albert tidak mau Arga syok kalau ternyata kekasihnya adalah adiknya sendiri.


"Siapa wanita itu, Om. Pasti sangat cantik bukan, kapan-kapan ajak kesini boleh yah!" pintanya sambil terkekeh.


"Rahasia," jawabnya beranjak dari tempat duduk.


"Dasar pelit," gerutunya.


Albert menerima pesan singkat dari anak buahnya. Mereka menemukan info baru lagi mengenai Juno. Ia mengerutkan keningnya, dan ternyata Juno sudah menikah, ia hanya menjebak Luna setelah mereka menikah Luna akan mereka buang.


Ia mendengus kesal, Al segera menyuruh anak buahnya untuk memberi pelajaran kepada Juno. Hal ini tidak boleh lengah karena yang mereka hadapi keluarga licik Jordan.

__ADS_1


Al segera menghubungi anak buahnya untuk memberi perhitungan kepada Juno. Ia tidak akan membiarkan gadis kecilnya dalam bahaya, mungkin untuk hal ini ia harus sabar dalam mengerjakan misinya sebelum memberitahu kepada Bagas terkait rencana licik Jordan.


"Bawa dia ketempat yang aman, dan pastikan anak buah Jordan jangan sampai tahu hal ini," ujarnya kembali menutup sambungan tlp.


Di rumah Luna.


Luna bergegas ke bawah menuruni anak tangga ia masih melihat Juno menunggunya untuk berbicara. Luna hanya bisa memutar bola matanya malas, ia juga sengaja tidak mandi dan berdandan dulu.


"Ada, apa Kak?" tanya Luna duduk sambil memeluk dad* oleh kedua tangannya.


"Kamu kok belum bersiap sih, kita kan mau pergi," ungkapnya agak kesal.


"Kakak, saja sana yang pergi. Luna sih ogah," jawabnya ketus.


"Luna kenapa kamu kasar sekali kepada calon suamimu," ujar Bagas menghampiri Luna.


"Ihhh, ya sudah Papih saja yang menikah sama Kak, Juno. Luna sih gak mau karena Kak, Juno sudah punya pasangan. Iwhh Luna gak mau jadi istri kedua Kak, Juno," cecarnya marah sambil berdiri menatap kesal Juno.


"Diam! Papih tidak mengajarkan kamu tidak sopan. Tahu apa kamu tentang menantu Papih hah!" pekiknya marah.


Luna pun melangkah pergi keluar rumah mengabaikan ocehan Bagas. Juno merasa kesal, ia pikir Luna masih mengejar cintanya, tapi sekarang dia hanya bisa meremehkan dirinya saja.


"Lihat saja Luna, malam ini kamu akan aku kasih pelajaran. Kamu tidak boleh menolakku untuk aku miliki," batinnya menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2