Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )

Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )
Pura-pura


__ADS_3

Albert langsung saja tancap gas melaju kencang menuju rumah sakit yang dimana Luna sedang di rawat disana. Jantung nya tidak karuan, tapi ia bersyukur dan puas telah memberi pelajaran kepada Jordan. Ini saat nya ia menghancurkan mereka, siap-siap saja Jordan harus menerima semua kenyataan pahit.


"Luna, apa dia baik-baik saja," batinnya sambil membuka pintu mobil. Ia segera berjalan lebih cepat supaya segera sampai ke tempat tujuan. Tiba di lorong IGD, Albert melihat seorang pria membelakanginya sambil menangisi jenazah yang sudah di tutupi kain putih.


Deg!


"Itu, Arga. Tidak mungkin Luna!" pekik Albert berlari sekuat tenaga. Ia menangis sambil memeluk jenazah yang sudah terkujur kaku di tutupi kain putih. Suster yang melihat Albert meraung di hadapan mereka hanya bisa mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kakak, ipar!" pekik Arga dari arah belakang. Albert berhenti menangis, ia menoleh ke arah suster dan pria yang ada di sampingnya.


"Kamu siapanya mamah ku?" tanya pemuda itu menatapnya aneh. Albert menoleh ke arah sumber suara yang ia dengar seperti teriakan Arga.


Dilihat nya Arga lagi memeluk dad* sambil tertawa terbahak menertawakan Albert yang salah orang. Al pun segera meminta maaf kepada suster dan pemuda itu bahwa dirinya salah orang.


"Maaf," ujarnya berlalu pergi. Al mendekati Arga yang kini masih tertawa.


"Ya Tuhan. Kamu ini adik ipar, itu bukan Luna melainkan orang lain. Dasar pikun, heehhh ayo ikut aku, Luna ada di ruang rawat. Aku mencari'mu kemana-mana tapi kamu tidak ada di rumah sakit," gerutunya.


Albert mengelus dad* mengucap syukur karena Luna baik-baik saja. Sangat memalukan karena sudah menangisi jenazah orang lain.


"Luna, bagaimana keadaannya?" tanya Albert sambil mengikuti Arga dari arah belakang.


"Dia masih belum sadarkan diri, tapi kata dokter dia baik-baik saja. Hanya mengalami Luna di bagian punggungnya saja, besok mungkin dia baru sadar," sahutnya sambil membuka pintu ruang rawat yang dimana Luna ada di sana.

__ADS_1


Albert masuk, senyuman kecil terukir di wajahnya. Ia mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya seumur hidup nya Albert baru pertama kali ini ia menangisi seorang wanita.


Arga duduk santai di sofa sambil melihat interaksi Albert. Al duduk lalu menggenggam tangan lemah Luna yang menancap jarum infusan. Albert menci*mnya sambil menangis. Ia menyesal tidak bisa melindungi gadis kecil miliknya yang dimana telah dilukai orang lain.


Mata indah itu mulai membukanya secara perlahan. Luna melihat wajah Albert samar, ia mulai mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


"Ini, dimana?" tanya Luna dengan suara paraunya. Albert dan Arga tercengang mendengar suara lembut Luna yang membuat mereka bernapas lega.


"Luna, sayang." Sahut Albert mengusap wajahnya dengan lembut.


"An-da siapa?" tanya Luna kembali. Arga hanya bisa diam membisu sambil memperhatikan Luna dan Albert. Rasanya sulit dipercaya Luna sudah kembali siuman.


"Aku..." jawabnya lemah sambil menatap sendu.


"Anda, siapa? Apa kamu orangtuaku," ucapnya membuat Albert tercengang mendengar pertanyaan Luna kepadanya.


"Luna, ini Daddy! Apa kamu lupa sama Daddy hahh?" tanya Albert memastikan.


"Daddy."


Luna menggelengkan kepalanya lemah, Albert tampak gusar. Ia mengusap wajahnya lalu menoleh ke arah Arga yang masih memperhatikan mereka. Albert segera menekan tombol pemanggil Dokter, Arga beranjak dari tempat duduknya menghampiri Luna dan Al.


"Luna tampaknya hilang ingatan deh, untuk adik iparku. Mohon di mengerti yah, mungkin Luna lupa sama pacarnya dan dia lebih menganggap mu orangtua nya hahahah. Sabar Al, semua pasti akan baik-baik saja oke," ujarnya menepuk pundak Albert.

__ADS_1


Tidak lama Dokter datang, ia segera memeriksa kondisi Luna. Albert sudah tidak sabar, apakah Luna beneran hilang ingatan.


"Bagaimana Dok?" tanya Albert.


"Luna baik-baik saja, mungkin ingatannya terganggu sedikit hanya saja Luna harus banyak istirahat," sahutnya setelah itu ia pergi meninggalkan mereka. Albert mendeham sambil memincingkan wajanya.


"Akheemm!"


"Luna, kalau kamu menganggap Daddy orangtua mu. Berarti Daddy harus mencari ibu untuk mu dong," ujarnya. Luna menoleh sambil mengerutkan keningnya.


"Ibu?" tanya Luna.


"Yaps, seorang ibu untuk mu karena Daddy pria single. Jadi ya sepertinya harus mencarikan ibu sambung biar Daddy tidak sendirian lagi," serunya memancing keseruan. Arga hanya bisa terkekeh, rupanya Albert sangat pintar dan ia tidak bisa Luna bohongi.


"Ahhh, Daddy jahat," rengeknya. Albert akhirnya tertawa dan kebohongan Luna terbongkar. Ia hanya pura-pura hilang ingatan saja, tadinya sih Luna mau merayu Bagas dengan taktik ini. Tapi karena sudah terlanjur dan Bagas pun sudah sadar akan kesalahannya jadi Luna melanjutkan aksinya untuk mengerjai Albert.


"Dasar, anak nakal. Daddy tahu kamu hanya pura-pura sayang," ucapnya sambil mencubit hidung Luna.


"Daddy."


"Berisik sekali sih! Jangan pernah memperlihatkan lagi ke uwuan kalian di depan pria jomblo sepertiku," ucapnya sambil duduk diam memeluk dad*.


"Jomblo! Apa kamu lupa sama gebetan mu perawan tua itu," celetuk Albert membuat Luna tertawa. Arga membulatkan matanya ia tidak segan melempar bantal sofa mengenai Albert.

__ADS_1


"Sialan."


Tidak lama, Bagas datang bersama Soraya memakai kursi roda. Suasana jadi hening membuat Luna dan Albert tercekat.


__ADS_2