
Luna segera turun dari pangkuan Albert. Ia langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimbut tebal. Luna pura-pura menangis kembali supaya Soraya tidak curiga kepadanya. Langkah kakinya segera melangkah menuju pintu yang saat ini sedang di ketuk oleh seseorang.
Ckeet!
Pintu kamar terbuka dan Albert tercengang, ia melihat sosok wanita cantik nan Ayu yang kini ada di hadapannya tersenyum manis. Melisa Adik kandung Soraya sengaja datang ke Jakarta untuk bertemu Albert. Setelah ia tahu Albert sudah pulang ke Indonesia, Melisa pun bergegas pergi untuk menemui Pria yang membuat dirinya jatuh cinta.
Albert hanya bisa mempersilahkan Melisa masuk ke kamar Luna. Ia langsung memeluk Albert tanpa memperdulikan adanya Soraya dan Luna yang tercengang melihat adegan mereka berdua.
Albert segera melepaskan pelukan Melisa, ia hanya menganggap Melisa sebagai Adik, tidak lebih dari itu. Tapi, Melisa dari dulu tetap mencintai Albert, Pria yang membuat dirinya tidak pernah berpaling kepada Pria lain.
Setelah mengetahui Albert sudah cerai lima tahun silam. Melisa seperti mendapatkan lampu hijau, Soraya sengaja tidak memberitahu Adiknya mengenai Albert yang telah lama berpisah.
"Melisa, Kamu tidak boleh bersikap begitu," ucap Soraya seraya menarik Adiknya dari hadapan Albert.
__ADS_1
Albert hanya bisa menghela napas, ia melirik ke arah Luna yang saat ini sedang cemberut ke arahnya.
Luna geram melihat tingkah laku Tante nya yang seenak jidat memeluk kekasih nya di depan mata kepalanya sendiri. Ia langsung turun dari tempat tidurnya. Hatinya terbakar cemburu karena Melisa begitu centil di depan Albert.
"Tante, jangan memeluk Om, Albert." Desisnya menarik Albert menjauh dari hadapan Melisa.
"Tau apa Kamu anak kecil, sebaiknya Kamu urus saja perjodohan Kamu dengan Juno," cecarnya tidak terima.
Soraya segera meminta maaf kepada Albert karena Luna dan Melisa memang tidak akur. Melisa pun pergi membawa Melisa dari hadapan anak dan sahabatnya. Melisa akan menunggu Albert di lantai bawah, karena baginya cinta dan kasih sayangnya masih sama seperti dulu.
Albert terkekeh ia mencangkup kedua pipi gadis kecil yang kini sudah resmi menjadi kekasih hatinya.
Luna sangat menggemaskan saat ia cemburu atau marah. Albert masih tidak menyangka bahwa dirinya bisa memiliki kekasih kecil yang telah berhasil memikat hatinya.
__ADS_1
"Daddy juga kaget tahu, Melisa tiba-tiba saja memeluk Daddy. Lagian Luna lihat sendiri Daddy tidak membalas pelukan Melisa," jawabnya menenangkan pacar posesif kecilnya.
"Pokoknya Daddy hanya milik Luna seorang," pekiknya. Untung Albert segera membungkam mulut bawel Luna supaya tidak ketahuan orang rumah termasuk Soraya dan Bagas.
"Luna, pelankan suaramu! Kalau misal mereka dengar Luna berteriak tadi, bagaimana! Ini bukan saatnya kita memberitahu tentang hubungan Kita," bisik Albert sambil membungkam mulut Luna.
Luna segera melepaskan bungkaman tangan kekar itu, ia langsung menutup pintu kamarnya dan segera mengunci. Luna mendekati Albert sambil memeluknya kembali. Lagi-lagi Albert harus menjaga hasrat yang dia pendam.
"Luna," ucap Albert dengan suara beratnya yang kini sedang menahan hasrat. Luna pun segera menempelkan bib*rnya ke bib*r Albert dengan lembut ia mulai menci*mnya. Kakinya jingjit ke atas karena Albert lebih tinggi dari Luna.
Albert segera membalikan tubuh gadis kecil itu, pagutan mereka terlepas, kini posisi Luna menyender ke dinding tembok dan di bawah kukungan tubuh kekar Albert.
"Kamu ini mes*m sekali sih!" serunya mencubit hidung mungil itu dengan lembut.
__ADS_1
"Ini hukuman untuk Daddy! Awas kalau misal Daddy dekat-dekat Tante Luna. Luna langsung umumkan tentang hubungan Kita," ancamnya membuat Albert tertawa kecil.
Sungguh baru kali ini ia mendapatkan wanita secentil dan semes*m Luna.