
Arga terus mendekati Al sampe tubuh kekar nan tinggi itu terpentok ke dinding tembok. Al menelan salivanya susah payah mengatur debaran jantungnya yang kian membuncah. Al mengusap keningnya yang keluar keringat dingin, membuat Arga semakin yakin apa yang selama ini ia lihat itu adalah kebenaran.
Mulai dari lari pagi, Arga mencoba mengikuti Al sampai melihat Luna dan Al jalan bersama. Ia yakin bahwa keduanya memiliki hubungan khusus. Setelah ia yakin Luna adalah pacar Al, ia terus mengikuti Al kemana saja dia pergi. Dan saat Al menyelamatkan Luna dari kejahatan Juno, Ia melihat mereka begitu mesra mulai dari tatapan keduanya yang saling ingin memiliki. Arga menghembuskan napasnya kasar sampai Al menundukan kepalanya. Untuk menghindari rasa gugup yang sekarang sedang menyelimuti dirinya.
"Om, Al. Kamu tampak sekali gugup di hadapanku. Malam ini kamu mau ke acara pertunangan Luna yang akan segera berlangsung meriah bukan, sayang sekali Om, Al. Cuma menjadi tamu undangan yang harus menahan amarah melihat kekasih hatinya bersanding dengan yang lain," cecarnya membuat Al mengadahkan kepalanya langsung ke arah Arga yang kini sedang mengintrogasi dirinya.
"Arga, Om sama Luna tidak ada hubungan apapun. Sudah sepantasnya Om datang ke acara itu," jawabnya mencoba menahan kesal.
"Owh, jadi Om tidak menyukai Luna. Sayang sekali padahal Arga ingin sekali Om jadi adik ipar tua Arga. Kalau begini sih, Arga aduin saja sama Luna bahwa Om Al tidak mencintai Luna," timpalnya menyeringai.
Al tercekat atas apa yang ia dengar dari mulut calon kakak iparnya. Arga pun tertawa terbahak melihat exspresi Albert yang tercengang kaget.
"Kenapa kamu tidak marah padaku?" tanya Albert penasaran.
"Itu tidak penting, Om, Al. Bisa-bisanya kalian berpacaran. Tapi itu tidak masalah yang terpenting Om harus menjaga Luna. Dan ingat kamu sekarang jadi adik ipar tertua Arga hahahah," ejek Arga sembari pergi dari hadapan Albert.
"Sialan! Tapi memang benar, Arga sama Aku pun jauh berbeda usianya. Nasib menyukai gadis kecil, Arga Om sumpahin kamu menyukai janda tua!" pekik Albert.
"Oh, no. Itu tidak akan terjadi," sahutnya sembari tertawa dari balik pintu kamar Albert.
"Janda, tidak mungkin hahahah," sambung Arga menuruni anak tangga sembari tertawa.
Malam telah tiba.
Luna mendengus dan berdecak sebal, ia tidak mau tunangan ini berlangsung. Sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Para tamu sudah mulai berdatangan membuat Luna menggigit bib*r bawahnya gugup. Iya harap Albert datang melihat pertunangan sialannya. Albert pun kini keluar dari mobil mewah miliknya bersama anak buahnya, ia bergabung bersama Jordan dan juga Juno yang sudah ada di acara pesta.
__ADS_1
Albert bersikap seolah-olah dirinya baru kenal Juno. Ia ingin sekali mencekik leher Juno, tapi ia tahan karena memang ini bukan waktunya untuk melaksanakan misinya.
"Albert, apa kabar," ucap Jordan memeluk Albert teman lamanya termasuk Bagas.
Mereka pun berbincang, Juno yang masih berdiri di dekatnya menatap Albert dari ujung kaki sampai kepala. Ia melihat sosok Albert seperti pria yang pernah ia lihat, tapi ia masih bertanya-tanya dimana dan kapan.
Wajah Juno yang masih memar membuat Albert menahan tawanya. Ia berusaha bersikap santai sambil duduk cuek kepada Juno.
"Saya permisi dulu," ucap Albert beranjak pergi.
Sedangkan Luna ia masih cemas karena Albert tidak bisa ia hubungi. Seketika juga pintu kamar diketuk oleh seseorang, Luna segera berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya.
Cleeekk!
"Daddy."
Luna segera memeluk erat tubuh kekar Albert melepaskan rasa rindu di dad*. Albert tertawa kecil sambil melonggarkan pelukan gadis kecilnya.
"Kamu siap tunangan sama Juno? Daddy ada bersamamu. Jadi Luna tidak perlu khawatir ini hanya tunangan saja kok," ucapnya menenangkan Luna yang saat ini cemas dengan pertunangannya.
"Bagaimana bisa Daddy bersikap tenang begini, Luna mau tunangan Daddy dan setelah tunangan Luna menikah," sungutnya sambil menjauhkan tubuh Albert kesal.
Albert kembali menarik tubuh kecil itu hingga kini tubuh keduanya berdempet sangat int*m. Mereka saling menatap satu sama lain. Pandangan yang pernah hilang itu sekarang bertemu kembali, Albert menahan gejolak dan debaran jantungnya yang tidak berhenti berdetak lebih cepat dari biasanya.
Perlahan wajah itu mendekatinya, Luna memejamkan matanya. Albert pun langsung menempelkan bib*rnya menci*m lembut bib*r gadis kecil itu dengan penuh cinta. Mereka berci*man sambil berpelukan melepaskan rasa rindu yang telah lama mereka pendam. Keduanya menikmati setiap cumb*an dan ci*man lembut, Luna terus memeluk tubuh kekar itu sampai mereka lupa waktu.
__ADS_1
Tok... tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan ci*man mereka. Sontak saja keduanya segera melepaskan pagutan ci*man mereka, napas keduanya terengah. Luna tidak mau membuka pintu ia malah kembali memeluk Albert.
"Tidak, Luna tidak mau membuka pintunya Daddy," rengek Luna memeluk manja tubuh kekar Albert kedalam dekapannya.
"Luna lihatlah lipstikmu berantakan," unjuk Albert ke arah bib*r Luna yang terlihat mungil.
"Daddy. Biarin lipstik Luna begini, pokoknya malam ini Luna mau tidur saja sama Daddy disini," manja Luna tidak mau melepaskan pelukan Albert.
"Luna, acara sudah mau dimulai," pekik Bagas dari balik pintu.
Keduanya tercengang mendengar Bagas yang mengetuk pintu kamar. Ia pikir hanya seorang pelayan.
"Sial!" Albert berdecak kesal.
"Luna, apa kamu di dalam! Papih dobrak nih pintu kalau misal Luna tidak mau membukanya!" pekik Bagas mendobrak pintu dan..
Bragh! Pintu terbuka lebar Matanya membulat tidak percaya atas apa yang dia lihat di depan mata kepalanya sendiri.
"Luna."
Arga.
__ADS_1