
"Daddy Luna ke kamar mandi dulu sebentar," ucap Luna sembari lari ke arah kamar mandi. Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia masih belum menyangka bahwa Luna sudah sah menjadi istri kecilnya, entah mengapa Al serasa masih muda yang baru saja menikah. Perasaannya tidak karuan, Luna selalu membuat dirinya serasa di permuda.
"Dasar istri kecil," umpat Albert mengusap wajar gusar.
Tok ... tok
Pintu kamar di ketuk nyaring oleh Bi Anna. Al segera beranjak turun dari tempat tidur, tidak lupa juga ia membenarkan kancing kamejanya yang sempat Luna buka di bagian bidang dad*nya.
Ckeett!
Pintu kamar di buka sedikit oleh Al, terlihat sekali wajah Bi Anna menunduk tanda hormat.
"Ada apa Bi?" tanya Albert.
"Begini, Tuan.."
Belum sempat meneruskan ucapannya, Serly datang dengan angkuhnya. Albert menyuruh Bi Anna pergi, ia tahu kedatangan Bi Anna ke kamarnya sudah pasti mau memberitahukan Serly yang memaksa datang ke rumah tanpa malu.
__ADS_1
"Al aku rasa kamu sudah gila menikahi gadis 18 tahun," cecarnya sambil memeluk dad* senyum menyungging. Albert menoleh kebelakang ia melihat Luna sudah keluar dari kamar mandinya.
"Apa maksudmu?" tanya Albert menutup kamarnya supaya Serly tidak melihat Luna.
"Jangan pura-pura, Al. Aku sudah tahu semuanya, apa kamu menghamili gadis itu sehingga kami menikahi nya! Aku tahu kamu hanya melampiaskan semua hasrat mu karena kamu belum bisa move on dariku," tuduh Serly.
Plaak!
Albert tidak terima Serly mantan istrinya mencampuri urusan pribadinya. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu dan sekarang Serly tiba-tiba datang dan menghina dirinya.
Serly menatap tajam Al, beraninya dia menamparnya. Serly tidak terima ia segera melayangkan pukulan untuk membalas Al, tapi Al segera menangkis lalu mendorong Serly yang amat ia benci. Setelah berselingkuh dan meninggalkan dirinya, sekarang Serly datang mengacau di hari pernikahannya dengan Luna.
"Al lihatlah pembalasanku," pekik Serly yang di seret oleh satpam menuruni anak tangga.
Albert segera membuka kamarnya dan menutup kembali. Ia menghela napas sambil mengusap wajahnya kasar. Al membalikan tubuhnya ia melihat ke tempat tidur terdapat Luna sedang menangis. Ia mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Apa Luna mendengar ocehan Serly, Oh tidak. Luna," batin Albert segera berjalan ke arah istrinya. Ia duduk sambil menarik dagu Luna yang terisak tangis.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Al.
"Lu-na. Daddy malam ini kita gagal," jerit tangis Luna sambil memeluk Albert.
"Gagal kenapa sayang?" tanya Albert tidak mengerti. Luna melonggarkan pelukannya, ia melihat ke arah Albert sambil mengusap air mata yang tumpah.
"Lu-na, datang bulan," jawab Luna menangis histeris.
"Datang bulan?" tanya kembali Al.
"Iya Daddy, malam ini kita gagal menembus gawang. Luna tiba-tiba halangan dan kita tidak bisa malam pertama," isak tangis Luna memeluk Albert kembali.
Albert tertawa, ia kira Luna menangis karena mendengar ocehan mantan istri pertamanya dan ternyata ia menangisi datang bulan.
"Luna, dengar malam pertama kita tetap berjalan dengan lancar kok. Malam pertama Luna sama Daddy tidur bersama untuk pertama kalinya. Kenapa kamu menangis begini," ujar Albert mengusap air mata Luna lalu ia memeluknya kembali.
"Luna, pengen anu Daddy," rengek Luna.
__ADS_1
"Luna." Albert mencubit hidung mancung Luna dengan gemasnya.