
Albert menatap tajam kepada Melisa yang saat ini sudah melayangkan tangannya untuk menampar Luna di depan mata kepalanya sendiri. Tentu saja Albert marah besar, dan segera mencegah agar Melisa tidak menampar gadis kecil miliknya.
"Al, kenapa Kamu tidak salah menghalangiku untuk memberi pelajaran kepada keponakan sialanku ini. Anak ini sudah kurang ajar padaku," ungkapnya kesal sembari menatap tajam kepada Luna.
"Kamu tidak berhak menamparnya, apa Kamu lupa. Hidupmu di tanggung oleh orangtua Luna, Kamu hanya bisa menghabiskan uang dan uang saja tanpa memikirkan bagaimana mencari uang," cecarnya kesal.
"Kamu membela wanita kecil ini hah! Apa jangan-jangan kalian pacaran!" selidik Melisa menatap ke arah Albert dan berganti pada Luna.
Luna hanya bisa diam membisu, ia tidak mau membantah apa yang di ucapkan Melisa kepada mereka berdua. Melisa menatap curiga pada Al yang terlihat gelagapan tidak bisa menjawab pertanyaan yang Dia katakan.
"Soraya harus tahu, bahwa sahabat yang sudah mereka anggap seperti keluarganya sendiri tega menjadikan Putrinya kekasih gelap. Asal Kamu tahu Luna, Aku sudah curiga saat kalian ada di kamar berdua saat Aku datang kemarin," ujarnya tertawa puas.
"Kamu jangan so tahu Tante! Lebih baik urus saja urusanmu. Dari Luna kecil Tante tidak pernah bersikap lembut atau baik pada Luna. Jadi jangan salahkan Luna yang tidak menyukai mu," serunya sambil menatap sinis.
__ADS_1
"Lebih baik Kamu pergi saja Melisa dari kantor ku," titah Albert pada Melisa.
Melisa tersenyum getir saat ia mendengar Albert mengusirnya dari sana. Ia tidak menyangka bagaimana bisa Albert lebih memilih Luna dari pada dirinya.
"Aku masih mencintaimu Al, walau bagaimana pun Aku tidak akan pernah melupakan momen dimana kita pernah menjalin asmara. Dan Kamu Luna, sebentar lagi Soraya dan Bagas pasti marah padamu karena kalian diam-diam pacaran," ujarnya sembari menatap kepada mereka berdua dan berlalu pergi.
Luna melihat Melisa keluar dari kantor Albert. Ia langsung menghampiri Al yang saat ini sedang berdiam diri.
"Luna, itu hanya masalalu. Biar Daddy jelaskan, sebelum menikah Melisa hampir saja menjebak Daddy di kamar hotel. Ia ingin memiliki Daddy tapi Daddy tidak pernah mencintai Melisa. Hingga pada akhirnya rencana Melisa gagal, Daddy akhirnya menikahi mantan istri Daddy. Sejak saat itu Kita tidak pernah bertemu satu sama lain. Dan sekarang Kita bertemu kembali, Daddy kira Melisa sudah bisa melupakan Daddy. Tapi nyatanya dia tidak pernah melupakan Daddy," terangnya.
Luna mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk mata indahnya. Albert segera memeluknya untuk mencoba menenangkan gadis kecil miliknya.
"Ishh Luna kesal sekali Daddy. Kenapa Luna telat sih bertemu Daddy," isak tangis Luna di dalam pelukan Albert.
__ADS_1
Albert hanya bisa tertawa, Luna memang sangat lucu dan menggemaskan.
"Luna. Bagaimana mungkin Daddy menyukai Luna yang masih kecil," serunya sembari menghapus air mata Luna.
"Daddy hanya milik Luna seorang. Pokoknya Luna tidak mau Daddy dilirik wanita lain lagi kecuali Luna sendiri," ujarnya sembari cemberut. Albert semakin gemas, ia langsung saja memeluknya kembali.
Sementara Melisa mencoba menghubungi Soraya. Ia ingin sekali membocorkan hubungan antara Luna dan Albert yang diam-diam berhubungan tanpa sepengetahuan mereka.
"Pokoknya kalian harus berpisah, bagaimana mungkin Luna bisa mendapatkan cinta Albert. Sedangkan Aku yang sedari dulu tidak pernah mendapatkan semua itu. Luna lihat saja Soraya pasti memisahkan cinta kalian berdua," ujarnya sembari menatap gedung yang menjulang tinggi.
Melisa mencoba mengirim pesan singkat karena sambungan tlp-nya tidak di angkat oleh Soraya. Ia harap Soraya segera membuka pesan singkat darinya supaya rencana untuk menghancurkan Albert dan Luna segera terkabul.
"Lihat saja Luna, Kamu pasti dimarahi oleh Soraya termasuk Kak, Bagas," batin Melisa tersenyum licik.
__ADS_1