
Luna dan Albert menuruni anak tangga bersamaan. Melisa merasa kesal, ia terus menatap Luna dengan sinisnya, Albert pun pamit pulang karena memang sudah larut malam mengharuskan dirinya pergi.
"Bagas, Aku pulang dulu yah! Besok Aku kesini lagi jemput Luna," ujarnya seraya di angguki oleh Soraya dan Bagas tapi tidak dengan Melisa.
"Maaf yah Al, Kita jadi repotin Kamu lagi," ucap Bagas. Albert pun menepuk pundak Bagas sambil tertawa kecil.
"Ini semua sudah kewajiban Ku, Luna masih gadis remaja yang sangat manja," serunya. Luna melet ke arah Albert membuat Melisa yang melihat adegan itu semakin geram.
Luna pun mengantar Albert sampai ke ambang pintu, karena takut mereka curiga ia hanya bisa melambaikan tangan saja. Padahal dirinya gatal ingin sekali Luna memeluk Albert sambil menci*mnya.
Setelah perpisahan, Luna segera menaiki anak tangga. Ia membiarkan Melisa kesal sendiri, Luna tidak akan membiarkan Tante Melisa mendekati Albert lagi.
"Wangi maskulin Daddy masih tercium dikamar Luna. Kapan Kita menikah Daddy," ucap Luna seraya menci*m photo Albert yang ada di layar ponselnya.
Pagi telah tiba.
Alarm berbunyi, Luna masih tidur dengan posisi masih memeluk guling. Soraya terus mengetuk-ngetuk pintu agar Putri-nya segera bangun.
"Luna, cepat bangun sayang. Nanti Kamu kesiangan, di bawah sudah ada Om Albert menunggu mu," pekiknya.
Luna segera bangun dengan semangat, ia langsung membuka pintu. Padahal Soraya hanya membual supaya Putri-nya segera bangun.
"Mana mah Om, Al?" tanya Luna tergesa.
"Cepat Kamu mandi dulu, setelah itu Kita sarapan bareng," ujarnya seraya langsung pergi meninggalkan Luna yang mematung.
__ADS_1
"Isshh, tapi kalau benar Daddy sudah ada di bawah itu tandanya. Dia Pria sejati yang selalu menempati janji. Oh, ayolah Luna sebentar lagi Kamu akan menikah dengannya," serunya seraya langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian.
Luna menuruni anak tangga, ia tidak melihat Albert ada disana. Hanya ada Melisa, Papih Bagas dan Soraya saja, Luna berdecak kesal karena Mamih nya berhasil mengerjai dirinya.
Ia langsung menarik kursi sambil cemberut, rasanya tidak ada gairah di jiwanya karena pagi ini ia tidak melihat Albert ada di rumahnya. Padahal malam tadi Albert sudah berjanji akan datang menjemput.
"Luna, cepat makan sayang nanti Kamu kesiangan," cecar Soraya.
"Iya Mamih bawel." Sahutnya kesal.
"Mih, Luna pengen nikah saja," ceplosnya membuat Bagas mendadak tersendat batuk saat mendengar perkataan Luna begitu juga Soraya.
"APA!" seru Melisa.
"Juno masih kuliah sayang, Dia belum mau menikah," ucap Bagas.
"Ishhh, Luna bukan mau menikah sama Kak, Juno," serunya.
"Lantas, Kamu mau menikah dengan siapa Luna centil. Kamu masih polos dan juga masih bau kencur," cecar Melisa sambil tertawa kecil.
"Luna mau menikah sama..." ucapannya terhenti saat ia melihat Albert datang.
"Pagi semuanya," ucap Albert memotong perkataan Luna. Hampir saja Luna mengatakan yang sebenarnya. Kalau sampai Albert telat datang, habislah Dia.
__ADS_1
Albert segera duduk tepat di samping Luna. Ia hanya duduk diam sambil menunggu Luna menghabiskan sarapan paginya.
Melisa kesal Albert terlihat cuek dan tidak menyapa dirinya. Padahal Melisa berharap ia di sapa olehnya.
Setelah sarapan berlalu, Luna dan Albert pergi bersama. Bagas juga pergi ke kantornya, tidak ada yang curiga terhadap mereka berdua hanya Soraya yang merasa aneh akan tingkah laku Al dan Luna.
"Apa mereka pacaran! Ahh itu tidak mungkin," gumamnya sambil melihat kepergian Luna dan Albert.
Di dalam mobil, Luna tidak berhenti menatap Albert yang sedang menyetir mobil. Luna segera memotret Albert kembali sambil tertawa kecil.
"Daddy, lihatlah. Kamu tampan sekali mengalahkan Papih," serunya.
"Luna, Kamu ini." Sahut Albert.
"Daddy, setelah menikah nanti. Daddy mau anak berapa dari Luna?" tanya Luna membuat Albert tercengang. Ia langsung saja menghentikan mobilnya, Albert segera menatap penuh wajah kekasih kecilnya sambil menghela napas.
"Luna, Kita belum menikah sayang. Setelah menikah Kita baru bahas soal anak," sahutnya pelan sambil tersenyum.
"Ishh, Daddy. Rencana kan boleh, Luna pengen nikah sekarang sama Daddy," ucapnya cemberut.
Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia pun segera melajukan kembali mobilnya supaya Luna tidak kesiangan. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Luna segera turun ia marah dan tidak mau menyapa Albert lagi.
"Luna," pekik Albert tapi tidak di hiraukan oleh Luna.
Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya, di saat ia mau melajukan mobil. Di depan mobilnya ada seorang Pria tampan menghampiri Luna sambil menarik pergelangan tangannya.
__ADS_1
Percikan api cemburu membara dalam benaknya. Albert pun menghela napas ia ingin tahu siapa Pria yang berani mendekati kekasih kecilnya.
"Siapa Pria itu," ucap Albert kepo.