Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )

Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )
Selfi bersama Albert


__ADS_3

Mata Luna berbinar terang setelah tahu siapa itu Anna. Luna langsung bergerak cepat untuk segera berangkat ke rumah Albert. Soraya hanya bisa menggelengkan kepalanya, Anaknya ini benar-benar bikin dirinya khawatir. Setelah drama Luna selesai. Soraya dan Bagas pamit untuk pergi menggunakan pesawat jet pribadinya. Hati Luna bersorak ria, ia berdoa semoga Oma yang ada di China bisa mengerti dirinya dan membiarkan Soraya dan Bagas lama disana sampai Kakaknya sarjana.


Kesempatan emas untuk Luna mencuri perhatian Albert. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini terjadi, Luna juga akan menjaga Albert dari Lara wanita genit yang tidak disukainya.


"Mamih pergi dulu sayang, jaga diri baik-baik. Ingat Om Albert akan terus mengawal mu kemana pun Kamu pergi," ucap Soraya seraya mengec*p kening Putrinya untuk pamit pergi. Begitu juga Bagas ia memeluk Putrinya, sering kali mereka pergi keluar negeri meninggalkan Luna. Tapi sekarang ia tidak perlu repot menitipkan Luna kepada sodaranya yang ada di luar kota. Albert sudah dipercaya penuh untuk menjadi pendamping Luna selama mereka tidak ada disisinya.


"Ingat! Tidak boleh bandel dan tidak boleh merepotkan Om, Albert. Pokoknya kalau misal Luna nakal, hubungi saja saya Al," ujar Bagas kepada Luna dan Albert.


"Luna janji tidak akan nakal kok Pih, kan ada Om, Albert yang selalu ada di dekat Luna. Yakan Om," serunya seraya mengedipkan matanya.


Albert hanya bisa tersenyum, perasaan kepada Luna entah harus senang atau sedih. Ia masih tidak pede pasti dirinya dibilang calon Papah tua. Ia tidak mau itu terjadi karena melihat Luna yang masih muda Albert meras malu. Lagi-lagi ia tepis perasaan kepada Luna, tapi sekarang Luna malah akan terus bersamanya dengan waktu yang tidak tahu sampai kapan.


Setelah perpisahan, Luna langsung melambaikan tangannya ke arah mobil yang saat ini sudah hilang dari penglihatannya.


"Om, ayo pulang," serunya langsung membawa koper berwarna pink miliknya. Albert hanya bisa mengelus d*danya, Luna benar-benar membuat dirinya mati kutu dengan perasaan yang sulit Albert artikan.


Di dalam mobil, Luna terus memandang Albert sambil senyum-senyum sendiri. Sesekali Luna jail memotret Albert membuat Albert menggelengkan kepalanya. Wajah tampan, rahang yang terlihat tegas. Tubuhnya seperti roti sobek, tangan kekar membuat Luna ingin memeluk Albert dengan damai.


"Om, ayo kita Selfi, pokoknya Luna akan share ke ig. Lihat saja temanku pasti bakalan kepo," serunya sambil menekan tombol kamera ponselnya dan langsung berpose senyum cantik. Albert pun tidak tahu harus bagaimana, ia tetap diam sambil menyetir dan memandang ke arah depan.

__ADS_1


"Luna, jangan. Nanti Om di bilang penculik anak orang hahahah," candanya membuat Luna terpesona melihat tawa dari seorang Albert.


"Oh Tuhan, lihatlah calon imamku begitu tampan dan seksinya dia saat tertawa," batin Luna kelepek-kelepek terpesona.


"Tidak! Luna akan tulis caption. CALON IMAMKU," serunya sambil mengetik status. Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah.


"Jangan Luna. Nanti orangtuamu salah paham," ucapnya sambil melihat tingkah Luna.


"Biarin Om, biar Mamih segera membuat pesta pernikahan Kita berdua," serunya segera membuka pintu mobil dan berlari ke arah pintu utama.


Albert segera menyusul Luna, ia tidak mau Luna membuat caption itu. Benar-benar membuat ia gemas sendiri melihat tingkah Luna yang sangat jail.


Sesampainya dikamar, Luna tidak sengaja masuk ke dalam kamar Albert. Begitu sejuk nan sangat luas. Poster Albert yang hanya telanjang dad* membuat ia terpesona.


Albert membuka pintu, ia melihat Luna sedang menatap poster dirinya yang terpang-pang jelas nan besar.


"Luna," ujarnya seraya menghampiri gadis cantik itu dengan suara beratnya. Membuat Luna kaget dan langsung menghadap ke arah Albert yang kini ada di belakangnya.


Luna was-was ia takut Albert marah kepadanya membuat ia langsung menutup kedua mata oleh tangannya yang kini sedang memegang ponselnya.

__ADS_1


"Maafkan, Luna Om. Sungguh Luna tidak sengaja masuk kedalam kamar Om," ucapnya lirih sambil terus menutup matanya.


"Luna, Om. Tidak marah kok, lagian untuk apa Om marah padamu," sahutnya mencoba menenangkan Luna.


Dalam hati Luna bersorak, ia berhasil pura-pura sedih dan bersalah supaya Albert tidak marah kepadanya. Senyuman itu terukir indah dari raut wajah cantiknya sehingga membuat Albert menahan debaran jantungnya.


"Terima kasih, Om." Ucap Luna seraya langsung memeluknya begitu saja. Albert tercengang atas apa yang dilakukan Luna kepadanya.


"Ayo, Om. Balas peluk Luna," batin Luna meronta.


Deg! Debaran jantung Albert mulai berpacu.


ia langsung mengusap kepala Luna dengan lembut sambil melonggarkan pelukannya karena ia tahu Luna mulai curiga kepadanya.


"Om, kenapa jantungnya berdetak lebih cepat?" tanya Luna sambil menatap penuh kepadanya.


"Sial, kenapa Luna menyadari debaran jantungku sih!" batinnya.


Albert gelagapan, ia tidak tahu harus bicara apa kepada Luna yang masih polos itu. Sebisa mungkin Albert tidak boleh ketahuan yang sebenarnya ia rasakan. Al akan mencari alasan yang lebih tepat supaya Luna tidak curiga.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2