
Luna mencoba tetap diam bersama Bagas di samping gerobak kang bubur yang dihalangi ember hitam lumayan besar. Mereka berdua menjadi pusat perhatian konsumen yang sedang makan bubur disana.
Bagas celingukan kesana kemari, mencari Soraya dan Luna. Ia melihat ke arah lapangan besar dimana banyak sekali orang yang sedang melakukan senam pagi. Ia berpikir mungkin Soraya dan Luna berada dikumpulan orang-orang itu. Bagas pun berinisiatif untuk duduk di tempat kang bubur yang dimana ada Albert dan Luna sedang bersembunyi.
Dag-dug-dug jantung keduanya, keringat dingin mulai keluar saat mereka melihat kaki Albert menuju ke arah mereka.
"Bagas," teriak Soraya dari arah belakang mencoba melindungi Luna dan Al.
"Dimana, Luna?" tanya Bagas membalikan tubuhnya dan pergi dari lokasi kang bubur.
"Dia ada lagi senam bersama orang-orang disana. Aku malas jadi hanya bisa melihat Luna dari jarak jauh saja sambil mengawasinya," ujarnya berbohong demi putrinya.
"Oh, oke deh. Apa kamu sudah sarapan, lebih baik kita makan bubur ayam dulu disini," tawarnya sambil tersenyum.
"Ahh, tidak. Aku mau makan nasi uduk saja disebelah sana," tolaknya sambil segera menarik tangan suaminya supaya tidak curiga bahwa anak dan sahabatnya sedang bersembunyi di balik gerobak.
Al lega melihat Bagas sudah mulai menjauh dari lokasi mereka berada. Luna menghembuskan napasnya dalam, ia tidak tahu kalau misal ketahuan mungkin dirinya bakalan dihukum lebih dari Minggu kemarin.
"Papih menyebalkan sekali," gerutu Luna beranjak kembali duduk ke tempat semula.
Albert yang melihat wajah merah Luna akibat panas terik matahari menyinari wajah gadis kecilnya pun merasa kasian. Ia segera mengusap wajah Luna yang berkeringat dengan sapu tangan berwarna putih lembut.
__ADS_1
Luna terdiam saat tangan kekar itu mengusap keringat yang bercucuran dari wajahnya. Baru kali ini Luna panas-panasan dan berkumpul bersama orang banyak.
"Maafkan Daddy, gara-gara Daddy Luna sampai begini," ujarnya seraya mencubit pipi tirus gadis kecil miliknya.
"Kalau misal kita kawin lari bagaimana Daddy," saran Luna membuat orang yang ada di sekitarnya melihat kepada mereka berdua heran.
"Kawin lari neng, memangnya gak cape apa?" tanya kang bubur mencoba mengajak becanda Luna.
Hahahah .... semua orang tertawa bersama.
"Ishh, Daddy!" rengeknya membuat kang bubur itu tertawa.
Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya, kekasih kecilnya ini ada saja tingkah yang bisa membuat dirinya tertawa. Sudah satu Minggu ini Albert tidak tertawa seperti ini, serasa separuh jiwanya hilang.
"Daddy, tidak mau membawa kabur anak orang. Buat apa coba, sedangkan Mamih mu sudah setuju dengan hubungan kita. Jangan terlalu cepat dalam memilih sesuatu hal, kita pasti bisa meluluhkan Papih mu," ujarnya seraya menggenggam tangan indah Luna memberi Luna nasehat lembut.
"Papih Luna, calon Papih Daddy. Jadi mulai sekarang Daddy harus Panggil Papih juga," pintanya sembari menurun naik kan alisnya.
"Papih, Bagas." Keningnya berkerut.
Albert merasa lucu, ia tidak sadar sahabatnya adalah calon Papih untuknya. Sangat konyol Albert hanya bisa tertawa mendengar Luna meminta Al memanggil sebutan Papih untuk Bagas.
__ADS_1
"Luna, kamu ini ada-ada aja," batin Albert gemas sambil mengacak-acak rambut Luna.
Mereka berdua pun pergi setelah membayar bubur ayam. Mereka menghabiskan waktu berdua sampai-sampai tidak terasa waktu sudah cepat berlalu. Sebagian orang sudah pulang kini hanya tinggal sedikit yang berada di lapangan karena memang jam sudah menunjukan pukul sembilan.
"Luna, Daddy pulang dulu. Pokoknya besok Daddy jemput Luna di sekolah oke," ujarnya seraya menci*m tangan gadis kecilnya di balik mobil orang.
"Baik, Daddy sayang," seru Luna memeluk Albert erat. Sampai Luna tidak mau berpisah dengan Al karena dirinya merasa masih butuh waktu untuk menghabiskan bersama.
Mereka pun berpisah, Luna sangat sedih melihat Albert pergi dari hadapannya. Hatinya sangat sakit melihat pria yang dia cintai tidak direstui oleh orangtuanya. Ia harap perjuangan Albert dan dirinya membuahkan hasil.
"Luna," panggil Bagas menghampirinya. Luna segera menghapus air matanya, ia melihat kembali pandangannya kedepan memastikan Albert sudah tidak ada disana. Soraya lega akhirnya Albert bisa menghibur putrinya walaupun cuma beberapa jam tapi ia bisa melihat lagi keceriaan dari wajah putrinya.
Beberapa menit telah berlalu.
Bagas, Luna dan Soraya sudah tiba di rumahnya. Mereka melihat Juno sedang duduk di atas sofa ruang tamu menunggu Luna pulang.
"Juno, apa kabar?" sambut Bagas menghampirinya.
"Hai, Om. Kabar baik, hai Luna!" sapa Juno tapi Luna hanya bisa diam. Ia beranjak pergi meninggalkan mereka di ruang tamu. Ia merasa kesal Juno terlihat sangat lebay baginya.
"Dasar cowok lebay," gerutu Luna menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Luna, Kamu mau kemana?" pekik Bagas tapi tidak dihiraukan olehnya.