
Empat hari telah berlalu.
Albert dan keluarga Luna sudah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan siri dirinya dan Luna. Sekarang Al sudah mantap dan siap untuk mengucapkan ijab kobul yang di laksanakan tepat KUA setelah selesai ijab kobul mereka segera pulang ke rumah Luna bersama beberapa orang saksi.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau sodara ananda Albert Gondokusumo bin Gondokusumo dengan anak saya yang bernama Luna Bagaskara dengan maskawin berupa uang tiga milyar rupiah," mantap Bagas mengucapkan sambil memegang tangan Albert.
"Saya terima nikah dan kawinnya Luna Bagaskara binti Bagaskara dengan maskawinnya yang tersebut tunai," jawab Albert dengan pas dan lancar.
"Bagaimana saksi sah?" tanya bapak penghulu.
"Saahhh."
Serentak sambil mengusap wajah mereka tanda syukur. Luna yang sudah duduk tepat di sebelah Al memakai baju kebaya sederhana berwarna putih. Walaupun cuma nikah siri di KUA tapi tetap mereka mengadakan acara makan-makan khusus orang yang bersangkutan menjadi saksi mereka. Setelah Luna lulus kemungkinan mereka akan mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan resepsi mereka.
Luna duduk di sebelah Albert, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menci*m punggung tangan Albert lalu Albert menc*m kening istri kecilnya. Kini keduanya sudah sah di mata hukum dan negara. Bagas masih tidak menyangka sekarang sahabatnya adalah menantu suami putrinya.
"Kamu sekarang sudah menjadi milikku seorang Daddy," bisik Luna. Albert menoleh ia sangat gemas melihat Luna tampil cantik.
"Luna."
Acara ijab kobul telah selesai, kini mereka lun lanjut pulang untuk mengadakan acara makan sederhana di rumah Luna untuk para saksi saja. Setelah acara selesai, Albert berinisiatif untuk membawa Luna pulang kerumahnya. Walaupun agak berat melepaskan kepergian Luna, Soraya dan Bagas mengikhlaskan putri mereka yang kini sudah menjadi milik Albert seutuhnya.
__ADS_1
"Jaga Luna baik-baik Al, kalau misal dia nakal kamu omelin saja jangan ragu-ragu," titah Soraya sambil mengusap air matanya yang mengalir.
"Mamih, Luna cuma pindah rumah kok, besok Luna kesini main setelah pulang sekolah," ujar Luna tangisan Soraya malah semakin pecah.
Setelah acara perpisahan dengan kedua orangtua Luna. Ia pamit pergi, Arga hanya bisa cemberut wanita yang ia harapkan hadir malah tidak datang membuat Arga kecewa begitu berat.
"Byee, Mamih."
Luna melambaikan tangan sebelum ia masuk ke dalam mobil Albert. Al mengemudikan mobilnya secara perlahan, Luna terus menyenderkan kepalanya ke pundak Albert.
"Daddy, Luna lapar," rengeknya manja.
"Sebentar lagi kita nyampe kok ke rumah kita, Luna sebaiknya makan dulu yah setelah itu kita istirahat dan tidur. Besok kan Luna sekolah," cerocos Albert.
"Daddy, pengantin baru itu harusnya lembur dong bukan malah tidur. Bagaimana sih Dad," rengek Luna tidak terima.
"Sabar Luna sayang, pokoknya setelah kita sampai rumah Luna makan dulu saja," bujuk Albert. Tapi Luna masih marah ia tidak menyahut Albert.
Sesampainya di depan rumah besar Albert, Luna masih duduk diam sambil memel*k dad*nya. Ia tidak mau keluar hingga Albert pun menggendong Luna masuk ke dalam rumah. Pembantu Anna segera membawakan koper Luna dan menaruhnya di kamar atas milik Al.
"Bi, siapkan makanan untuk kita," titah Albert yang segera di angguki Anna pembantu rumah tangganya.
__ADS_1
"Daddy, kok tidak peka sekali sih!" kesal Luna sambil mencubit perut Albert yang kini sedang mengendong Luna menuju kamar miliknya.
Al hanya bisa terkekeh, melihat tingkah laku istri kecilnya yang sangat agresif.
"Sebaiknya Luna ganti pakaian dulu, setelah itu kita makan. Daddy lapar," bisiknya membuat Luna merinding. Luna segera mengalungkan tangannya, ia menatap penuh wajah suaminya. Luna membelai wajah Al, setelah itu Al menurunkan tubuh Luna ke atas tempat tidur.
"Ganti pakaian Luna dulu yah!" titah Al.
"Bantuin," rengek Luna.
Al segera menghembuskan napasnya pelan, ia kemudian duduk di sebelah Luna. Ia menoleh melihat Luna duduk di sebelahnya.
"Daddy, Luna tidak bisa membuka kebaya ini," rengek kembali Luna. Padahal itu hanya bualan Luna saja supaya Al tergoda oleh nya.
Kancing belakang Al buka satu persatu, terlihat kulit putih mulus Luna membuat dirinya harus menarik napas agar tidak tergoda lebih dulu.
"Awwsshiit! Luna."
"Daddy."
Luna segera membalikan tubuhnya yang kini sudah berhadapan satu sama lain. Albert mencoba menenangkan debaran jantungnya supaya ia tidak kelepasan sebelum waktunya tiba.
__ADS_1
Luna mendekati Al tubuh mereka semakin dekat, Luna mulai jail ia membuka kancing kameja Al satu persatu membuat Al tidak bisa menolak.
"Luna."