
Luna yang mendengar pintunya di ketuk begitu keras oleh Bagas hanya bisa diam sambil memeluk Soraya. Bagas merasa jengkel kepada Putrinya yang sudah mengerjai dirinya.
"Luna awas yah Kamu," pekiknya dari balik pintu.
Soraya hanya bisa menghembuskan napasnya dalam sambil mengusap kepala Putrinya. Ia harap perkara antara anak dan Papih nya segera selesai. Bagas memang keras kepala tidak mau mendengarkan apa yang di minta Luna.
"Mamih!" rengek Luna melonggarkan pelukannya sambil menatap sendu Soraya.
"Apa sayang, Kamu lapar?" tanya Soraya lembut.
"Luna kangen Om Albert, pokoknya Mamih jangan pernah bilang sama Papih kalau Luna dapat nomor ponsel Om, Al dari ponsel Mamih," serunya tersenyum. Soraya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Luna memang banyak sekali akalnya, membuat ia kewalahan.
"Dasar nakal. Malam ini Luna boleh chat Om Al, asal jangan pernah ketahuan sama Papih mu, Kamu tahu sendiri kan Papih mu itu sangat egois," serunya sambil mencubit hidung mancung Luna dengan gemasnya.
Luna segera menghubungi Al, tapi nomor ponselnya tidak kunjung di angkat ia berdecak kesal sambil memanyunkan bib*rnya.
"Daddy, ngeselin. Apa Dia sedang mencari gebetan lain yang lebih seksi dari Luna dan lebih dewasa dari Luna," gerutunya menghempaskan-nya diri ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Di tempat lain.
Melisa dengan pedenya mengganggu Albert dengan cara menemui ke rumahnya. Ia tidak di ijinkan masuk oleh Anna pembantu rumah tangga.
Melisa berinisiatif untuk datang kembali ke kantor Al besok siang, untuk merayu Albert karena sekarang ia tahu Albert dan Luna tidak direstui oleh Bagas.
Albert keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya beserta rambut basah. Ia melihat ponselnya untuk melihat siapa yang telah menghubunginya karena dari tadi terdengar bunyi dari ponselnya.
"Gadisku," gumamnya.
Setelah selesai berganti pakaian ia membalikan tubuhnya dan melihat sosok gadis kecil itu berada di atas tempat tidurnya sambil melambaikan tangannya. Albert mengerjapkan matanya sambil menatapnya heran, ia mengucek-ucek matanya untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Dan itu hanya halusinasi dirinya saja. Albert mengacak rambutnya sambil berdecak kesal.
"Luna, kenapa dengan diriku. Satu Minggu kita tidak bertemu, rasanya Aku sangat merindukan dirimu, Aku kesepian tidak melihat senyum dan tawa mu lagi. Terutama ... ahh sudahlah kenapa Aku malah memikirkan hal mes*m," ujarnya.
Bi Anna mengetuk pintu kamar Albert, ia memberitahukan bahwa ada seseorang yang sedang menunggu di lantai bawah. Bi Anna juga memberitahu bahwa Melisa datang memaksa untuk bertemu dengannya.
"Maaf, Tuan. Ada seseorang di bawah ingin bertemu dengan mu," ucapnya membungkukan tubuhnya memberi hormat.
__ADS_1
"Satu lagi, tadi ada Nyonya Melisa datang kesini memaksa ingin bertemu dengan mu Tuan," sambungnya kembali.
"Baik, terima kasih Bi," sahut Albert.
Ia pun melangkah menuju lantai bawah memakai stelan santai. Albert mengerutkan keningnya, rasanya Al pernah melihat Pria yang kini berada di rumahnya sedang duduk santai di sofa ruang tamu.
Arga datang tanpa sepengetahuan Bagas dan Soraya. Al menghubungi Arga untuk cepat pulang ke Indonesia, dan mengajaknya untuk bekerja sama dengan dirinya mengenai keluarganya yang sekarang dalam bahaya.
Arga segera pulang dan tidak langsung kerumah Bagas selaku orangtuanya. Ia hanya ingin menemui Albert untuk merencanakan rencana yang mereka rancang untuk menjebak Jordan dan Juno supaya acara pernikahan Luna dan Juno gagal.
"Arga, syukurlah Kamu pulang juga," sambutnya senang.
Arga berdiri sambil tersenyum, mereka berpelukan menepuk pundak satu sama lain.
"Malam, Om. Maaf Arga mendadak datang kesini," ujarnya seraya kembali duduk bersama Albert.
"Kamu pasti cape, minumlah dan istirahat dulu. Besok Kita mulai rencana untuk menjebak Jordan," ucapnya yang segera di angguki oleh Arga tanda setuju.
__ADS_1