
Hari semakin panas membuat Luna ingin berjemur di tengah terik matahari yang menyengat menusuk kulitnya. Albert yang sedang meminum minuman di tangannya melihat istrinya membuka kimono transparan itu dan menaiki anak tangga. Luna ingin berjemur di tepi kolam renang yang terbuat dari kaca tebal di atas kapal. Al terus memperhatikan istrinya jalan tertatih membuat dirinya terkekeh.
"Masih sakit saja sudah mau minta ronde kedua, Luna kamu ini ada-ada saja," batin Al sambil menegug minumannya kembali. Setelah ia melihat Luna tidak mengenakan sehelai benang pun Albert kembali menyeringai ia beranjak bangkit mengikuti istrinya berjalan ke atas. Setelah itu Al segera berjalan ke arahnya untuk menggoda sang istri.
Luna berdiri membelakangi Albert, keduanya tanpa menggunakan sehelai benang pun. Luna merentangkan kedua tangannya sambil menungging sedikit membuat Albert bergairah kembali melihat istrinya begitu menggoda di depan mata kepalanya sendiri.
"Luna masih sakit?" bisik Al di daun telinga istrinya tangan kekar itu hinggap di gunung kenyal sambil memainkannya dengan lembut Luna kembali mengerang.
"Ronde kedua ya Daddy!" seru Luna.
"Katanya masih sakit, jalan saja masih terlihat pincang," pancing Albert sambil terus memainkan gunung kenyal istrinya dari arah belakang memeluknya dengan hangat.
"Bagaimana bisa menolak, Daddy saja terus menggoda Luna ahhhh Daddy," Luna menungging seketika sosis yang sudah mengeras itu langsung menancapkan nya dan langsung menghujamnya secara perlahan.
"Dad."
Albert memegang kendali, ia memeluk tubuh istrinya sambil membelainya. Luna serasa terbang jauh Albert menghujam dengan sangat pelan dari arah belakang. Luna menungging, walaupun masih agak sedikit sakit tapi semuanya tertutupi oleh rasa nikmat yang luar biasa.
"Uuhhhh .... Daddy," perlahan demi perlahan hujaman yang Al berikan bertambah semakin kencang membuat tubuh Luna bergetar, mereka bercinta untuk yang kedua kalinya di atas kapal bersama terik matahari. Keduanya mengeluarkan suara indah mengerang, menjambak, memeluk, menci*m, membelai. Kini tubuh keduanya saling berhadapan, Al pegang kendali dengan mengangkat kaki istrinya satu ke atas. Mereka melakukan kembali hingga keringat terus bercucuran. Tidak mau kalah, Luna menc*m lembut bib* suaminya Albert terus bekerja sampai Luna merem melek.
__ADS_1
"Daddy, lebih cepat. Luna tidak kuasa ahhh," ucap terengah Ambil memejamkan matanya menikmati hujaman yang Al berikan.
Belum puas posisi berdiri, kini Luna Al tidurkan di pinggir kolam, Al menghujamnya kembali membuat Luna terus menjambak rambut Albert.
"Ssttt .... Luna ahhh I love you," ucap Albert terengah. Sensasi yang Luna berikan mampu membuat Albert terus bergairah. Ia terus menghujam istri kecilnya dengan perasaan puas. Perlahan tubuh Al turunkan, dan hinggap di gunung kenyal istrinya. Albert memainkan gunung kenyal itu dengan lembut membuat Luna mengerang kembali sambil Al menghujamnya.
"Daddy, lebih cepat Luna mau meledak," ucap rintih sambil menjambak rambut Al yang kini sedang menikmati gunung kenyalnya. Ritme semakin cepat membuat tubuh keduanya bergetar, maju mundur Luna terus mengeluarkan suara indah di daun telinga Albert.
"Uuhhh ... Daddy. Cepat," pinta Luna Al semakin semangat 45. Albert terus menghujam sampai keringat yang ada di tubuhnya keluar begitu banyak. Terik matahari tidak menjadi patokan kepanasan untuk mereka menjalankan kewajiban suami istri.
Hingga tiba saatnya mereka meledak bersama, keduanya melenguh. Tubuh kekar itu jatuh lunglai ke bawah, lemas tidak berdaya.
"Terima kasih sayang," sahut Albert kecapean.
"Daddy nanti Luna hamil yah, Daddy jangan tua dulu," ucap Luna membuat Albert terkekeh.
Al menghadap ke arah Luna yang ada di sebelahnya. Luna menatap wajah suaminya, ia melihat dua matanya sangat indah nan tampan.
"Daddy selalu menjaga pola makan, bagaimana bisa Daddy langsung tua begitu saja," sahutnya sambil mencubit hidung istri kecil.
__ADS_1
"Kalau misal Luna hamil, apa yang mau Daddy lakukan. Apa nanti besok Luna langsung hamil yah Daddy?" tanya Luna seketika Al tertawa lepas.
"Sayang, hamil itu butuh proses, harus lebih giat membuatnya," ucap Al.
"Kita mulai lagi Dad, ronde ketiga," ucap Luna tiba-tiba membuat Albert tercengang.
"Luna ini omes sekali sih, ronde ketiga nanti saja yahh malam. Siang ini kita istirahat dulu, Daddy takut Luna nanti kecapean," bisik Albert.
"Ronde ketiga Luna yang pegang kendali oke Daddy. Rasanya enak ya Daddy walaupun goa Luna masih terasa sakit," rintih Luna sambil melihat ke arah bawah.
"Ronde ke tiga, malam saja Luna. Kita mandi saja berdua di kolam renang, lihatlah disini begitu panas, Daddy gerah," ajak Al membuat Luna terkekeh.
"Daddy so jual mahal ihh, awas saja lihat apa yang akan Luna lakukan pada Daddy," pekik Luna membuat Albert tertawa.
"Baiklah, Daddy pengen lihat apa yang akan Luna lakukan pada Daddy nanti malam. Daddy siap di perkos* sama Luna kok, Daddy pasrah," sahut Albert sambil mencubit kedua pipinya dengan gemas.
"Bagaimana?" tanya Al sambil menci*m gunung kenyal istrinya.
"Ahhhh Daddy," Luna melenguh.
__ADS_1