
Semua sudah selesai waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Luna masih cemberut karena sejak tadi Lara mengajak ngobrol Albert terus.
"Mih, Luna pulang bareng Mamih saja," ucapnya sambil berjalan ke arah mobil. Albert yang sudah beres mengarahkan Lara untuk segera membereskan berkas pentingnya untuk besok meeting bersama client. Ia langsung pulang, tapi saat ia membuka pintu tas berwarna putih berukuran sedang itu ada di dalam mobilnya.
"Itu kan punya Luna," ucap Albert.
Tapi Albert bingung, Luna yang tadinya ceria mendadak murung tidak seperti biasanya. Ia langsung melihat kepergian Mobil Bagas setelah mereka berpamitan pulang. Ada rasa yang mengganjal dalam hatinya, Luna tidak biasanya cuek dan dingin. Albert mencari cara supaya ia bisa bertemu kembali dengannya.
Di sepanjang jalan Luna hanya diam membisu, Soraya akan berbicara kepada Putrinya setelah nanti sampai dirumah. Bagas menerima tlp kebetulan Albert yang menghubunginya.
"Hallo, Al. Ada apa?" ~ Bagas.
"Begini, tas Lunas ada di dalam mobilku. Sebentar lagi Aku akan kerumah mu siapa tahu tas ini nanti di cariin Luna." ~ Albert.
"Baiklah Kamu kerumah saja." ~ Bagas.
Bagas segera menutup sambungan tlp-nya.
"Siapa, Pih?" tanya Luna.
"Tas punyamu ada di dalam mobil Albert. Dia mau mengantarkan tas Kamu ke rumah," jawabnya.
Hatinya langsung berbunga, setelah akal bulus lunas berhasil kini ia tersenyum bahagia. Soraya jadi curiga melihat raut wajah putrinya yang mendadak ceria kembali.
__ADS_1
"Akhirnya Om, Albert kerumah juga," batin Luna senang.
Setelah sampai di depan rumah.
Luna langsung masuk ke dalam, lalu ia duduk santai di ruang tengah. Bagas hanya bisa tersenyum melihat putrinya sangat ceria tidak murung lagi.
"Sayang, Mamih masuk kedalam kamar dulu yah. Kamu tunggu saja Om, Albert. Bilangin sama Dia, Papih sama Mamih lagi istirahat," ucap Soraya sengaja. Ia ingin tahu ada apa dengan Putrinya karena tidak seperti biasanya Luna menyembunyikan sesuatu darinya.
"Siap Mih," sahut Luna.
"Dasar nakal," batin Soraya.
Mobil mewah Albert sudah sampai tepat di depan rumah mewah Luna. Ia langsung mengambil tas itu untuk segera di kembalikan kepada pemiliknya.
"Om, itu tas Luna yah!" serunya berdiri wajahnya berbinar.
"Hmm, tas Kamu tertinggal di dalam mobil Om," ucapnya seraya menghampiri Luna yang tengah berdiri melihat ke arah Albert yang berjalan ke arahnya.
"Sebentar, Luna buatkan minuman untuk Om dulu," serunya. Tanpa menunggu jawaban Albert Luna langsung pergi ke arah dapur.
Hatinya sangat senang, Luna akan mencari cara supaya dirinya selalu dekat dengan Albert. Apalagi sekarang Bagas dan Albert bekerja sama satu proyek.
"Om, jangan tua dulu, Luna siap menanti jadi istrimu," batinnya bersorak.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara deheman yang membuyarkan lamunannya. Luna langsung tersentak kaget saat ia membalikan tubuhnya dan jus orange itu tumpah tepat di tubuh Albert dan mengenai jas miliknya.
"Om, maafin Luna," kagetnya seraya langsung tercengang melihat stelan formal Albert kena siraman jus.
"Tidak, ini bukan salahmu kok. Maaf Om mengagetkan Kamu Luna," sahutnya. Luna langsung mengambil tisu untuk segera membersihkan tumpahan air yang terkena tubuh Albert.
Luna segera mengusapnya dengan tisu, Albert sudah menolak tapi Luna tetap melaksanakan tanggung jawabnya. Tubuh kekar itu ia pegang, debaran jantung Luna tidak karuan, wajahnya seketika juga langsung memerah membuat dirinya salting.
"Omegot, kekar sekali, tahan napas pelan-pelan Luna. Tubuhnya seksi sekali, Om Albert Luna hanya untuk mu," batin Luna kelepek-kelepek.
Bukannya memberisihkan tumpahan jus, Luna malah bengong menatap tubuh Albert sambil tersenyum. Albert pun meraih tisu dari tangan Luna sambil berbisik.
"Sudah, ini tidak apa-apa kok," bisik Albert membuat Luna tercengang. Hembusan napas dari mulut Albert terasa di daun telinganya.
Albert pun sama menatap ke arah wajah cantik gadis itu. Hatinya mendadak ingin terus menatap lebih dalam, Luna sangat cantik walaupun usiannya masih 18 tahun tapi dia sangat pandai merias wajahnya.
"Hentikan Albert, Luna masih gadis. Belum cukup umur untuk Kamu sukai. Itu mustahil Albert, kali saja Luna sudah punya pacar, lagian kalau misal Kamu menyukainya Luna belum tentu menyukai dirimu Al," batin Albert menolak.
BERSAMBUNG.
Luna. Cocok gak visual Luna? Kalau tidak cocok Aku ganti lagi nanti.
__ADS_1