
Dilihat dari raut wajah Andi, terlihat seperti yang aku rasakan kemarin. Saat pertama kali melihat catatan aneh itu. Benar-benar membingungkan.
“Komandan, seperti yang dikatakan senior Misya, kertas ini memang benar-benar aneh aku sudah mencoba beberapa kali hasilnya sama saja, kosong!” Ucap Andi.
Bibirku tersenyum melihat Komandan yang diam tidak menanggapi. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Mataku yang sedikit terpejam menanti responnya.
Melihat kebingungan dan kebimbangan yang terpancar dari raut wajah mereka. Aku langsung berdiri dan menghentakkan tangan kemeja. “Itu mustahil! Mana mungkin kertas itu tidak bisa di copy, mungkin saja mesin copy nya yang rusak." pandanganku mengarah pada pria yang merendahkan ku. "Komandan…, bagaimana menurut anda?” ketus ku dengan nada mengejek.
“Apakah kau sudah benar-benar mencobanya?” Tanya komandan yang masih tidak percaya kepada Andi yang masih berdiri.
“Ya komandan.” jawabnya tanpa keraguan.
“Apa maksudmu, mana mungkin kertas itu tidak bis…”
“Komandan, Apakah anda masih tidak percaya juga dengan apa yang kukatakan, komandan! kemarin aku sudah mencobanya beberapa kali kertas itu memang aneh.” Aku memotong kalimatnya. “ Apakah anda ingin menyuruh Hana juga untuk mengcopy kertas itu? Komandan, saya sarankan anda saja yang mengcopy nya!'’
Semua pandangan kembali berpusat padaku.
Aku sudah lama di rekrut komandan menjadi bawahannya di kepolisian, Sakin lamanya aku tidak ingat lagi, sejak kapan dan mengapa dia begitu tertarik padaku.
Sudah berbagai macam kasus yang ku jalani di bawah perintah nya, hal-hal seperti ini sudah menjadi santapan nya setiap hari. Sekalipun begitu dia tidak pernah memarahiku walaupun aku selalu menggertaknya. Padahal pangkatnya sudah Inspektur Jenderal. Mungkin itu sifat rendah hatinya.
“Komandan, sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan lengkap Misya tentang catatan itu, saya juga merasakan sesuatu yang janggal sejak mendengar nama pengirim pesan itu,” Hana menanggapi. ''Dua nama di tempat yang berbeda. Itu sangat tidak mungkin terjadi. Pasti nya ada hal-hal ganjil di baliknya. Bagaimana bisa Ada nama Jara di tempat yang tidak ada kaitannya sedikitpun.''
“Benar komandan, Saya rasa tidak mungkin insting dari senior bisa melesat sejauh itu. Tidak mungkin dia menyampaikan sesuatu yang tidak ada dasar, saya rasa komandan lebih mengenalnya.” Andi menyahut.
“Baik…, kita akan membedah catatan itu setelah Riko dan Surya datang.”
Komandan mengambil catatan neraka itu dari Andi dan membacanya kembali.
“Lalu siapa Jara itu? Apakah itu nama senior?’’ Tanya Andi sambil memposisikan duduknya.
“Entahlah, paling tidak dia ingin disebut seperti itu” Tandas ku.
"Apakah ada sesuatu yang aneh atau tersembunyi dari nama itu." Ujar nya penasaran.
__ADS_1
"Maksudmu, ada pesan tersembunyi."
"Ya." Andi mengangguk.
Aku kembali memutar otak dan mengingat-ingat semua teori yang membuatku hampir tidak tidur semalaman.
Aku merasa kalau saja catatan ini bisa dipecahkan secepatnya pasti Amelia Earhart akan ditemukan. Tidak…, bahkan yang mengaku Jara ini juga pasti terungkap. Jujur, sedari awal membaca nama itu, aku merasa ada yang aneh. Mengapa dia memberikan informasi itu? Apakah itu sebuah perangkap? Atau hanya sekedar pengecoh saja? Hembusan angin perlahan masuk kedalam kepalaku.
“Misya, Menurutmu catatan ini ada kaitannya dengan hilangnya Amelia?’’ Komandan bertanya membuyarkan lamunanku.
“Ya, Aku merasa ketiga kasus ini semuanya berkaitan”
“Tiga?” Hana menyahut seakan ingin membantah.
“Ya tiga. Pertama kasus bunuh diri manajer Amel, kedua hilangnya Amel dan ketiga catatan ini.”
“Maksudmu?”
Mendengar pernyataan ku itu sepertinya mereka kesulitan mencernanya.
“Bukannya Amel hilang dari kediamannya dua hari setelah kasus bunuh diri manajernya?” Hana membantah.
“Menurut ku tidak, dari perkataan agensinya. Amel sudah tidak pulang ke apartemennya dua hari, Karena tidak pulangnya mereka merasa ada sesuatu hal terjadi padanya, lalu mereka melapor ke kantor polisi, aku merasa satu hari dari kasus bunuh diri lah Amel hilang.” Jelas ku membuat Hana mengangguk.
Komandan hanya diam, sepertinya dia memikirkan asumsi yang kusampaikan.
“Sepertinya itu benar, informasi yang kudapat dari teman-teman dekatnya Amel bisa dikatakan seperti itu, terakhir kali mereka melihatnya di cafe favoritnya. Saat itu mereka mengadakan acara dukungan untuk memberi semangat kepada Amelia yang menjadi nominasi musisi favorit yang sebentar lagi akan diadakan di korea selatan.” Andi Menyahuti.
“Nominasi apa?” Tanyaku.
“Tiga hari lagi akan ada acara penghargaan kepada musisi seluruh dunia disana, Amel dan dua musisi indonesia lainnya juga masuk dalam nominasi tersebut.” Jelasnya. “ Saat mereka sedang berbicara santai ponsel Amel berbunyi, Amel mengatakan itu panggilan dari kantor. Dari semua orang yang aku temui merekalah yang terakhir bertemu Amelia” Hana melanjutkan.
“Nominasi ya…, Selain Amel siapa saja yang akan berangkat kesana?” Cetus ku cepat.
“SKYC lalu NADA BAND.”
__ADS_1
“SKYC…? Kantor tempat LN bunuh diri ya?”
Hana mengangguk.
"Ada sebuah acara penghargaan musik untuk para musisi dunia, tiba-tiba salah satu seorang Artis yang menjadi nominasi hilang dan manejer nya bunuh diri. Lalu tempat bunuh dirinya, di tempat artist yang ikut dalam acara itu. Sebuah pola yang terencana dan tersusun dengan rapi." Aku bergumam dalam hati.
“Bagaimana menurutmu? senior.”Tanya Andi
Aku terdiam sejenak memikirkan kenapa LN memilih bunuh diri di sana. Apakah ini sebuah kebetulan?. Pasti ada pola tersembunyi dalam kasus ini.
“Menurut informasi yang kudapat, LN ingin mengajukan project kolaborasi kepada pihak SKYC,” Hana kembali menjelaskan.
“Lalu…, apakah mereka menolaknya.’’ Komandan menyahut.
“Tidak komandan, pihak SKYC mengatakan mereka belum sempat membicarakan proyek itu. Kata mereka ketika LN baru saja sampai langsung minta diantar ke toilet, karena menunggu terlalu lama mereka mengecek toilet itu. Saat mereka membuka paksa toilet itu LN sudah tak bernyawa.” Hana menjelaskan.
“ Sungguh rumit untuk dipahami ya…” cetus komandan.
“Untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya memang harus menunggu mereka datang dahulu ya?,” sahutku dengan nada lirih.
Hana mengangguk. “ Karena kemarin aku mencari informasi dari kerabat dekat LN saja, merekalah yang bertugas memeriksa TKP.” Sambungnya.
Saat kami berempat memikirkan apa yang sebenarnya terjadi disana saat itu, pintu kembali terbuka ternyata itu Riko dia sudah kembali dari Rumah sakit membawa hasil autopsi LN.
“ Semua fakta mengenai LN sudah lengkap kami kumpulkan komandan.” Ujarnya sekaligus menyerahkan berkas yang dia bawa.
“Kamu sendiri, kemana Surya.” Tanya komandan.
Riko dan Surya juga termasuk dalam tim dalam penyelidikan ini. Dengan datang nya mereka lengkaplah semua tim sehingga aku bisa menjelaskan detail tanpa harus mengulang nya.
“Dia pergi menemani Komandan Yuno ke bangkok mengejar bandar narkoba yang lari ke sana, lalu komandan Yuno meminta saya agar komandan mengizinkannya.” Jelasnya.
“Baik, silahkan duduk!, kita akan bahas tuntas kasus ini lalu mencari pelakunya secepatnya”
Kami semua mengangguk. Ternyata Surya tidak bisa hadir dalam rapat, seperti nya kami akan sangat kesulitan tanpanya.
__ADS_1
Surya adalah spesialis bagian medis dalam tim ini. Walaupun pun begitu Misi ini harus kami selesaikan secepatnya. Sebelum korban pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan oleh Jara ini, Bertambah.