
“Apakah yang anda katakan tadi benar?’’ Pria ini bertanya menggerutu ketakutan. Setelah aku mengancam akan mendatangkan pihak berwajib memeriksa ruangan tempat tidurnya.
“Tentu saja! Aku tidak butuh barang milikmu itu! Anda kira karena Aku belum memeriksa kamarmu, Kami tidak tahu apa yang anda sembunyikan!’’ Aku mencoba mengecamnya.
Dia hanya menunduk terdiam tidak mampu menjawab. Pria ini sungguh mudah terkecoh.
“Jadi mohon kerjasamanya!’’ Aku tersenyum padanya.
“Baiklah!” Sahutnya pasrah tidak mampu berbuat apa-apa.
Setelah dia mengizinkan Kami beranjak memeriksa kamarnya. Satu persatu celah tidak kami lewatkan. Setiap lembaran-lembaran buku pun kami tetap mencarinya. Aku mendengus tidak menemukan catatan neraka.
“Apakah ini yang anda sembunyikan?’’ Aku mengangkat lembaran barang haram yang disembunyikan di dalam sepatu.
“Ya.” Ucapnya menunduk ketakutan.
“Bagaimana?’’ Aku berteriak pada Nanda. Setelah mencari kemana-kemana.
“Tidak ada.” Jawabnya.
Aku menatap Riko yang baru saja datang memeriksa pekarangan. Nanda memintanya untuk memeriksa halaman depan dan belakang bagian rumah. Namun Dia juga mengatakan hal yang sama.
Hatiku mulai gelisah di depan pintu memikirkan sesuatu yang mengganggu semenjak tadi. Riko dan Nanda masih berbicara dengan penghuni rumah. Mereka memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada teman kontrakannya itu. Hamdi kelihatan gemetar ketakutan mendengarnya. Dia tidak menyangka Angga akan mati seperti itu.
“Kalau begitu terima kasih.” Terdengar suara Nanda kepada Hamdi. Kami pergi meninggalkannya.
Sudah kuduga pria itu pasti menyembunyikan sesuatu di kamar. Akan tetapi Aku tidak menyangka akan menemukan barang haram seperti itu. Mataku terhenti melihat Riko memegang ponsel. Sudah pasti dia menghubungi pihak berwajib untuk memeriksa pria bernama Hamdi itu. Riko adalah tipe orang yang akan menuntaskan segala aspek kejahatan. Dia tidak peduli apapun itu. Keadilan sudah tertancap kuat dalam dirinya. Pasti pria bernama Hamdi itu, akan terkejut karena dijemput Badan Narkoba. Bagaimana mungkin seorang polisi akan membiarkan kejahatan di depan matanya. Sungguh lelaki yang bodoh.
Aku berjalan terlalu cepat. Meninggalkan mereka yang sedang sibuk memegang ponsel. “Apakah mereka sama-sama menelpon Badan Narkoba untuk menangkapnya? Yang benar saja. Huh…” Suara helaan nafasku terasa hangat.
Saat kami berjalan menjauhi bangunan tersebut, Nanda berkata perlahan, “Sepertinya kau tidak begitu terkejut saat mengetahui catatan neraka itu tidak ada? Apakah kau sudah menduga catatan neraka itu tidak ada disana?”
Aku mengangguk berhenti di sebelahnya. “Tidak seutuhnya. Aku akan menjelaskannya di mobil!”
“Lalu apa yang akan kita lakukan?’’
Aku menghapus wajah yang tak berkeringat. “Aku tidak tahu. Kita kembali saja ke Rumah Sakit.”
Demikianlah, nyaris tanpa rencana apapun di benak, kami menaiki mobil.
***
__ADS_1
Ditengah perjalanan menuju Rumah Sakit, Nanda, yang sejak tadi berpikir keras mendadak buka suara. “Misya, Apa kau pernah mendengar Voodoo?”
“Voodoo…, Suatu tradisi keagamaan dari Afrika, ya?’’
“Ya, lebih tepatnya Nigeria, Afrika Barat. Pengikut Voodoo percaya bahwa dunia manusia juga dihuni roh.”
“Apa maksudmu?’’ Riko memotong penjelasan Nanda.
“Santet, sihir atau guna-guna. Apa kau pernah mendengarnya?’’ Nanda bertanya pada Riko yang duduk dibangku belakang.
“Ya, tetapi Aku tidak percaya seperti itu!” Ketusnya.
“Terserah, Yang jelas santet dan guna-guna hampir sama seperti Voodoo. Mereka yang menggunakannya, meyakini bahwa roh dapat berdampak pada dunia orang-orang yang masih hidup. Semua itu mereka gunakan untuk berbuat jahat kepada seseorang atau target.”
“Oh ya?”
“Tentu, cara kerjanya adalah dengan ilmu hitam. Mereka menggunakannya dengan jarak jauh, biasanya pengguna menggunakan banyak medium.” Kami mendengarkan dengan baik penjelasan Nanda tanpa menyela. “Medium-medium itu dikirim oleh pengguna agar ritual terlaksana. Kepercayaan seperti itu bukan hanya mengakar kuat di tubuh budaya kita. Masyarakat Malaysia dan Thailand juga sangat kental akan hal seperti itu.”
“Apa kaitannya dengan catatan neraka?’’ Tanya Riko mendekatkan kepala ke depan.
“Sejauh yang aku tahu. Ritual tersebut memiliki jarak yang berbeda-beda.”
“Apabila jarak target terlalu jauh dari si pengguna maka santetnya tidak akan manjur.” Jelas Nanda.
“Gagal, Maksudmu?” Sergah Riko.
Aku melihat Riko yang kebingungan di belakang. “Seperti yang kukatakan tadi. Catatan neraka akan batal apabila catatan itu tidak ada pada si korban. Berbeda dengan Santet yang biasa kita dengar. Pengguna menggunakan medium seperti boneka paku dan macam-macam.”
“Tidak kusangka sudah memakai iblis juga bisa batal. Hahahaha. Misya, Sepertinya kau sangat paham akan dunia seperti itu?’’ Riko tersenyum melihatku.
“Setidaknya di film yang kutonton. Dukun-dukun itu memakainya.” Aku membalas senyumnya.
“Jadi maksudmu! Catatan neraka adalah medium seperti boneka yang digunakan para dukun?’’ Tanya Riko.
“Ya.’’ Aku mengangguk.
"Apa kau hanya ingin memastikan jarak antara korban dengan catatan neraka?" Cetus Nanda menatapku.
Aku mengangguk. " Bagaimana menurutmu?"
“Ya, karena catatan itu tidak ada di rumahnya. Bisa kita pastikan catatan itu harus sangat dekat dengan target untuk menjalankan ritualnya. Kalau begitu sudah tepat kita memeriksa di rumah sakit, pasti catatan neraka itu ada disana!"
__ADS_1
"Sepertinya."
"Apa yang membuat kalian yakin seperti itu? Kepalaku tidak bisa mengikuti pikiran kalian berdua?" Ucap Riko.
"Kau masih ingat catatan neraka milik ibu Kirana?” Aku meminta Riko untuk mengingat catatan neraka milik ibu Kirana. “Catatan itu diberikan kepada Nayla satu Minggu sebelum kejadian menimpanya. Berarti Sebelumnya, Jara terus mengikuti wanita itu. Sampai hari yang ditentukan. Kalau begitu sudah bisa kita pastikan pesulap itu adalah Jara."
"Karena jarak catatan neraka dengan target harus dekat ya? Hmm.. Aku akhirnya paham."
"Hei, apa kau benar paham?" Aku melihatnya yang mengangguk-angguk.
“Misya, Aku sangat benci dengan sifat selalu merendahkan itu, Kau kira hampir semua kasus yang kita jalani selama ini, tanpa bantuanku. Kau tidak akan bisa memecahkannya.”
“Oh ya. Hahahaha.” Aku tertawa menanggapinya.
Kami berdua tertawa lepas seakan teringat semua kasus yang kami pecahkan bersama.
Saat di perjalanan menuju Rumah sakit, sebuah kereta cepat melesat lewat di atas kami. Tiba-tiba saja aku teringat akan kasus yang hampir merenggut reputasi bahkan nyawaku. Riko benar-benar datang tepat waktu saat aku menemui pelaku pencurian di dalam kereta cepat. Saat aku mencoba menangkapnya. Aku tidak menyangka orang yang duduk di belakangku saat itu adalah temannya. Pisau yang terasah tajam sudah hampir menggesek leherku.
"Bukannya TKP di ruang interogasi? Kenapa kita memeriksa ke rumah sakit?" Kilah Riko membuyarkan lamunanku. Setelah kami diam beberapa saat.
“Kantor maksudmu?’’ Aku bertanya setelah mengingat kasus itu.
“Ya. Hana memeriksa Angga disana. Lagi pula dia juga mati di toilet kepolisian.”
"Seharusnya polisi sudah memeriksa ruangan itu semua.” Nanda mencoba mematahkan pendapat Riko. “Kalau catatan itu benar-benar ada disana. Pasti mereka menemukannya. Tapi kau bilang tadi mereka tidak menemukan nya. Bukan?"
“Ya. Sebelum membawanya ke Rumah Sakit polisi juga memeriksa seluruh pakaiannya. Tetap saja tidak ada.”
“Aku sudah menelpon tim Rumah Sakit untuk memeriksanya.’’ Ketus Nanda.
“Oi, Polisi saja tidak bisa menemukannya. Bagaimana mungkin kau meminta Dokter mencarinya!’’ Bentak Riko.
Nanda tidak begitu peduli dengan pernyataan Riko. Seketika kedua bola mataku membelalak ke arah Nanda setelah beberapa saat memikirkan mengapa dia menelepon Tim Forensik. “Jangan-jangan…”
“Oh, Apa kau sudah menyadarinya?’’ Nanda begitu serius melihatku.
“Apa mungkin! Angga menelan catatan neraka itu?’’
“Menelan?’’ Cetus Riko terkejut.
“Ya. Dari teori yang kau jelaskan, pasti catatan neraka itu ada dalam perutnya!”
__ADS_1