SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
BIMBANG


__ADS_3

Setelah Riko pergi meninggalkanku diruang siaran.


Akupun segera datang ke ruang tunggu memenuhi panggilan komandan. Perlahan aku berjalan meninggalkan ruangan. Beberapa karyawan tv terlihat berlalu lalang di didepan ku sesekali aku tersenyum menyapa mereka. Terlihat di sisi kiri ku mobil-mobil antri karena padatnya jalanan, orang-orang yang beraktifitas di jalanan sana semuanya terlihat sangat kecil. Riko memintaku untuk datang ke ruang tunggu. Apa yang sebenarnya terjadi mengapa dia berwajah seperti itu, baru sekali ini aku melihatnya marah.


Setelah meninggalkan ruangan itu aku masuk ke ruang tunggu terlihat dua orang duduk merenung dan Hana berdiri sedang menelpon.


“Bagaimana komandan?” Ucap ku mendatanginya.


Komandan hanya mendongak ke atas tidak menjawab. Ruangan terasa begitu sesak pandangan mereka terhadapku begitu menusuk, seolah-seolah menyesali keadaan.


“Misya, Apa yang kau lakukan?’’ Tanya komandan.


Mendengar pertanyaan komandan membuatku terkejut dan bertanya-tanya apa maksudnya, Bukankah kemarin aku sudah menceritakan semuanya kepada mereka. Lalu mengapa mereka begitu terkejut akan keadaan ini.


“ Komandan, apa maksud anda?’’ Sanggah ku.


“ Apa kau tahu akan ada warga sipil yang akan menjadi korban?’’ Cetusnya gusar.


“Ya, tentu komandan, bukankah kemarin dalam rapat sudah kukatakan’’


“Oi, apa maksudmu?, kau tidak menjelaskan kepada kami hal seperti ini.’’ Sanggah Riko tegas. “Lagi pula komandan tidak akan setuju kalau akan memakan korban apalagi itu warga sipil!” terang Riko seakan menyambar telingaku.


Aku menoleh ke arahnya yang tidak jauh duduk di sebelah komandan.“Oi, apa maksudmu?’’


“Apa kau pikun?, lihat di dada mu itu tertulis apa…?, Sejak kapan… polisi mengorbankan warga sipil untuk mencapai tujuannya?’’ 


“ Bukannya kemarin sudah ku jelaskan semuanya kepada kalian?’’


“Hah..?, Oi, wanita kanibal!, apa kau sudah gila?’’


Tubuhku terasa goyang dan melayang setelah mendengar pernyataan Riko itu. Bagaimana mungkin mereka tidak mendengar penjelasan ku kemarin. Aku kembali mengingat-ingat apa yang kukatakan kepada mereka kemarin.


Saat tangan kananku menahan dagu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, terlintas begitu cepat di kepalaku. “Andi..!, Dimana dia?”

__ADS_1


Semua orang memutar pandangannya ke arahku.


“Entahlah?, Hana sudah menelponnya dari tadi tapi tidak ada balasan’’ Imbuh Riko.


Aku melihat ke arah Hana sedang sibuk berdiri menggenggam ponsel di sudut ruangan.“Komandan!’’ Teriakku.


“Kita tidak bisa pergi,” Cetusnya. “ kau dipanggil menghadap kepala divisi menjelaskan semua ini’’ terang komandan lirih.


“Komandan!, Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang terjadi padanya?’’


“Huh…, Hana!, pergi periksa Andi kerumah Misya” perintah komandan.


“Aku akan ikut dengannya komandan” sahut ku.


“Apa telingamu benar-benar sudah rusak.’’ Sergahnya dengan tatapan marah. “ kau harus menghadap kepala divisi’’ lanjutnya.


Aku menunduk pasrah sambil memikirkan apa yang salah dalam langkah-langkahku. Padahal aku sudah menerangkan kepada mereka semuanya.


“Komandan, aku saja yang pergi menemaninya.” pinta Riko beranjak berdiri.


“Baik komandan” Ucap mereka.


Saat aku ingin mengajukan pertanyaan mengenai Andi kepada Hana, dia memalingkan wajahnya dariku.


Saat perbincangan yang panas masih bergejolak di dalam ruangan sempit dan sesak ini, suara pintu tiba-tiba terbuka membuat kami terkejut refleks melihat. Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi datang menghadap kepada komandan, dia meminta agar aku segera menghadap pergi ke kantor divisi khusus secepatnya.


Mereka berdua tidak memperdulikan ku, dengan sigap mereka pergi meninggalkanku berdua dengan komandan.


“Bertemu kepala divisi?.” Pertanyaan itu seakan menusuk tajam isi kepalaku.


Belum pernah terjadi sepanjang aku bertugas dipanggil olehnya, bagaimana bisa?. Menurut gosip diantara para anggota, apabila dipanggil langsung untuk menghadap kepala divisi, hanya ada dua pilihan, kalau tidak penghargaan pasti hukuman. Aku kembali menoleh ke arah komandan yang fokus menyetir mobil, wajah komandan itu sama sekali  tidak memberi sinyal aku akan mendapat sebuah penghargaan. Detak jantungku berdebar kencang terasa sampai ke tenggorokan. Aku menelan liur, mencoba menghilangkan dugaan itu.


Aku pergi bersama dengan komandan untuk menjelaskan tujuan yang aku lakukan kepada kepala divisi utama yang tidak jauh berada di pusat kota. Saat di perjalan komandan hanya diam membisu tidak melontarkan satu katapun untukku. Beberapa kali aku menegurnya tapi tak kunjung menyahut, hanya sorotan matanya yang diberikan untuk menyuruhku diam.

__ADS_1


Saat siaran berlangsung ternyata penyerangan di halaman studio memang benar utusan jara. penyerangan itu dilakukan oleh seorang pria yang bekerja sebagai mandor bangunan yang ada di teluk bangka. pria itu sudah dibawa kerumah sakit, sepertinya dilihat dari lukanya yang sangat brutal dia tidak akan selamat. Ada lima sayatan di tangannya. tusukan pisau di perutnya dan keluar dari mulutnya darah mengalir seperti air lalu sebelum tumbang pria itu dengan cepat mencabut pisaunya lalu menancapkan lehernya.


Polisi tidak sempat mencegahnya. Pria itu langsung sigap seolah ingin menunjukkan pertunjukan atraksi kepada anggota kepolisian yang berbaris mengawal disana.


Setelah kepolisian menelusuri jejak pria itu tidak satupun petunjuk didapatkan. Pria itu datang menggunakan mobil membawa sebilah pisau di tangannya.


Sebelum dia melakukan aksinya  dia menjatuhkan lembaran kertas catatan. Polisi sudah mengamankan catatan itu, aku sudah bisa menebaknya itu adalah catatan neraka.


Pihak kepolisian hanya melihatnya membuat keributan lalu mengacungkan sebilah pisau mengancam kepolisian yang berjaga di halaman studio KTV. 


Sebelum mati dia mengatakan kepada kepolisian bahwa dia datang untuk menyampaikan pesan untukku lalu menyakiti dirinya.


Itulah menjadi penyebab aku dipanggil ke ruang tunggu oleh komandan. Dan menjadi penyebab aku di panggil ke divisi utama.


Begitu sampai di kantor divisi utama kami pun turun berjalan masuk. Terlihat para pengawal berseragam hitam menyapa komandan. Aku hanya tersenyum dibelakang komandan.


“Misya, Apa yang akan kau lakukan?.’’


Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Aku dikejutkan oleh seseorang. Pergelangan ku ditarik oleh seorang pria yang memakai penutup wajah lalu memborgol ku.


Sontak aku ingin melawannya tapi ku urungkan, aku menatap komandan tapi dia hanya mengacuhkan dan meninggalkanku.


Aku dibawa ke ruangan sempit dan gelap. Hanya lampu remang-remang berwarna kuning yang menerangi dan sebuah meja berukuran kecil di depanku. Ruangan ini adalah ruangan interogasi.


Pria itu mengisyaratkan kepadaku untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan, lalu pergi meninggalkan ku seorang diri. Aku sudah menanyakan padanya namun dia hanya membisu.


“Apa maksudnya ini?’’ gumam ku dalam hati melihat seisi ruangan.


Tidak ada seorangpun di ruangan ini, Aku menghadap ke lantai memutar kepalaku dan kembali bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh komandan. Mengapa dia menanyakan apa yang aku lakukan.


Sungguh aku tidak bisa mencernanya, kepalaku hanya memberi satu jawaban… tapi aku menolaknya sungguh itu tidak mungkin. 


Jawaban itu terus menyerbu tak berhenti di kepalaku. Benar…, pertanyaan mengapa aku diperlakukan seperti ini?. Jawabanku hanya Satu.

__ADS_1


Mereka menganggap.. aku JARA….


__ADS_2