SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
JEBAKAN


__ADS_3

Kedua bola mataku terasa ingin keluar karena tidak percaya dengan apa yang kulihat pada catatan yang ku pegang. Aku masih tidak bisa mempercayainya. Bagaimana bisa orang yang selalu berada di samping ku, namanya bisa tertulis di catatan neraka. sejak kapan dan dimana. Kepalaku berputar menganalisanya.


Dadaku terasa sesak, catatan neraka yang baru saja kudapatkan dari pak Bisco tertulis nama Andi. Sejak kapan Andi bertemu dengan Jara.


“Pak! Sekarang Andi dimana? Apa yang terjadi padanya? Dari tadi aku belum berjumpa dengannya!’’ Aku membombardir pertanyaan padanya.


“Saya sudah katakan padamu, disini, hanya saya yang bertanya. Bukan kamu!’’ Bentaknya.


“Pak! Andi, partner saya,'' suaraku terbata-bata. ''Bagaimana mungkin saya bisa diam disini kalau terjadi apa-apa dengannya!’’ Balas ku dengan tegas.


“Andi sudah mati, seperti yang tertulis di catatan itu… terus apa yang mau kamu lakukan?’’ pungkasnya begitu kesal.


Aku terdiam menggerutu mendengar pernyataannya. Aku sudah menduganya, siapapun yang tertulis didalam catatan neraka ini, pasti akan mati sesuai keinginan Jara. Tapi hatiku masih ingin menolak sekuat-kuatnya.


Tiga catatan yang diletakkan pak Bisco diatas meja, semuanya adalah catatan neraka. Semua Catatan Neraka yang didapat ternyata di serahkan kepada pak Bisco.


Catatan Pertama adalah milik Ibu Kirana, penjaga panti asuhan. Catatan Kedua milik pria yang barusan menyerang pihak kepolisian di studio KTV. Dan Ketiga…, kepala dan hatiku berperang tidak bisa menerimanya. Catatan neraka yang ketiga ternyata milik Andi. Semuanya tertulis detail kegiatan Andi sampai detik kematiannya.


“Apakah jara berada di taman pada saat aku dan Andi pergi menemui teman dari keponakan pak Yandri kemarin?’’ pertanyaan itu muncul di benakku.


...----------------------------------------------------------------...


...Catatan Neraka Milik Andi...


Setelah pulang membantu Senior, aku pergi melaporkan semuanya pada komandan. Semua yang aku temukan hari ini. Entah mengapa kepalaku pusing tak menentu, aku pun pergi ke minimarket membeli obat kepala. 


Setelah semua laporan dan kegiatan selesai aku beranjak pulang kerumah. 


Jam Sembilan aku selesai mandi lalu makanan malam. Aku harus istirahat secepatnya untuk persiapan besok. Tanpa sadar setelah minum obat yang ku bawa, aku tertidur pulas di depan televisi. Saat bangun kepalaku terasa begitu sakit seperti ditusuk-tusuk oleh benda tajam. Entah mengapa di kepalaku seperti ada sesuatu yang berjalan-jalan begitu sakit menusuk. 


Aku berjalan pelan menuju kamar mandi, mataku menyorot barbel sepuluh KG yang ada di sudut lemari.


“Tidak Hari ini, sepertinya tidak harus olahraga.’’ Gumam Ku dalam hati.


Kepalaku yang sakit tak kunjung hilang, Dari dalam hati ada dorongan untuk mengambil barbel itu. Aku Pun pergi mengambil barbel itu lalu memukul kepalaku dengan begitu keras.


Entah mengapa rasa nyeri dan menusuk itu sedikit hilang. Sungguh ajaib, kepalaku begitu keras. berulang-ulang kali aku memukulkannya ke kepala sampai rasa nyeri itu benar-benar hilang.


Aku teringat harus mengabari senior, aku memberitahunya akan pergi langsung ke rumahnya tanpa harus ke kantor lagi. Dia Pun setuju dan mengiyakan.


Ketika bersiap untuk memakai pakaian, mataku terarah kepada lemari. Aku melihat dasi begitu cantik lalu mengikatkan dasi itu pada leher, lalu menarik sekeras mungkin. Sungguh terasa nikmat.


 Tiba-tiba muncul satu sensasi di kepalaku. Kalau dasi yang terlilit di leher ini ditambah pukulan barbel ke kepala pasti akan sangat nikmat.

__ADS_1


Aku duduk santai di tangga lalu mengantukkan-antukkan kepala kedinding, sesekali aku memukulkan barbel sepuluh KG itu dengan keras, Sungguh nikmat. Tanpa sadar aku tertidur,,,


...—----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...


“Bagaimana…? Coba jelaskan! bagaimana bisa Andi bisa menjadi korban dari Jara?''


Aku menceritakan semua kejadian yang aku dan Andi lakukan kemarin di taman kepada pak Bisco. Dia hanya mengangguk dan terkadang tersenyum-senyum sendiri ketika mendengar ceritaku. Entah apa maksud dari senyuman itu.


“Inti dari cerita kau dan Andi pergi bersama ke taman menemui anak itu apa?’’


“Saya masih belum bisa memastikannya pak. Kemungkinan Jara juga ada disana,'' jawabku bingung.


“Oh ya, terus tugas apa yang seharusnya dijalankan Andi hari ini? Bukankah kamu yang membagi tugasnya?’’ tanyanya dengan sorot mata curiga.


Aku mengangguk. “Benar pak, dia hari ini bertugas mengawasi Nayla dirumah ku.’’


“Nayla? Dia sekarang di rumahmu?’’


“Nayla adalah adik Amelia seperti yang saya ceritakan. Dia adik teman saya pak.''


“Apakah kau menganggap Nayla adalah Jara?’’


“Iya pak, walaupun hanya dugaan, Karena itulah kami pergi ke taman menemui teman dari keponakan pak Yandri itu pak,” terang ku.


“Awalnya aku merasa semua yang menjadi korban pernah bertemu dengannya.’’


“Apakah dia juga pernah bertemu dengan keponakan Yandri penjaga panti itu?"


“Ya, dia juga pernah bersama LN- Manajer Amelia. Aku menduga kalau aku memprovokasinya di siaran tv pasti dia akan melakukan aksinya, kalau benar itu Nayla pasti Andi akan melihatnya. tapi…”


“Tapi pergerakan mu sudah terbaca, itu maksudmu.”


“Saya tidak tahu pak, semua ini terasa sia-sia. Dengan begini tidak satupun menjadi petunjuk.”


Pak Bisco terdiam seperti memikirkan sesuatu.


“Kau tadi mengatakan, catatan neraka ini bisa terjadi apabila darah korban di taruh di lembarannya bukan?”


“Benar pak. Apakah bapak percaya kasus ini menggunakan sihir?'' tanyaku padanya. Pada dasarnya semua orang akan menolak.


“Ya, saya percaya.” Jawabnya spontan tanpa ragu-ragu. “Lalu sejak kapan darah Andi didapatkannya, bukankah kalian kemarin terus bersama?” Sambungnya bertanya.


Apa maksudnya? Apakah dia ingin mengatakan akulah Jara? Pasti dia berpikir seperti itu. Tentu… Dilihat dari catatan Andi, dia dikendalikan setelah berpisah denganku. Aku bercakap-cakap menerka dalam batin.

__ADS_1


“Tenang saja! pikiranmu terlalu kemana-kemana.” Sanggahnya tertawa.


Mendengar tawa dan jawaban yang menerka isi kepalaku itu sungguh sangat menjengkelkan.


“Dilihat dari catatan milik Andi, dia dikendalikan setelah pulang denganmu. apakah kau bisa menebaknya kapan dan dimana?” tanyanya sambil melihat catatan yang dipegangnya.


“Saya yakin ketika dia menolong anak di taman itu, pak.’’ spontan aku menjawab.


“Maksudmu teman dari keponakan pak Yandri itu?'' jelasnya sambil mengingat-ingat ceritaku.


“Ya, menurutku saat itu pak. Pasti!’’


Aku menggoyang-goyang kedua tanganku yang mulai terasa sakit sebab borgol besi yang mengikat dari tadi.


“Apakah saat menolong anak di taman itu Andi terluka?” lanjutnya bertanya dengan wajah penuh kecurigaan.


Aku tertegun terperangah mendengar pertanyaannya. “Jelas! Ini adalah pertanyaan jebakan, akan bahaya kalau aku salah menjawab.” gumam ku dalam hati.


“Apa kau berpikir. Seandainya aku menjawab. 'Aku menanyakannya dan…Andi menjawab Tidak. Pasti aku akan diduga melukainya setelah pulang dari taman, dan akhirnya aku akan menjadi Jara.' Kalau aku menjawab. 'Aku tidak menanyakannya. Pak Bisco tidak akan percaya, mana mungkin orang yang teliti sepertiku tidak menanyakan hal sepenting itu. Pasti dia juga akan menduga bahwa aku lah jara. Karena menyembunyikan sesuatu. Satu panah Kena dua. Jadi aku harus berhati-hati menjawabnya.' Seperti itukah yg kau pikirkan?'’ Paparnya tersenyum.


Aku menelan ludah ketika menatap senyumannya. Hampir semua yang dikatakannya memang benar sedang kupikirkan.


“Jawab saja! Saya tidak akan curiga karena hal seperti itu.” sambungnya kemudian tertawa.


Aku tersenyum santai menatapnya. “Tentu pak, saya menanyakannya…”


“Lalu apakah dia menjawab terluka?’’ Potongnya dengan wajah menunggu.


“Tidak, dia menjawab tidak pak.”


“Kalau begitu… dimana dia mendapatkan luka?’’ sambungnya bertanya.


Aku menggeleng tidak tahu. Tentu pertanyaan itu sudah menyerbu isi kepalaku sejak selesai membaca catatan milik Andi.


“Pak, saya merasa ada sesuatu yang terlewatkan, saya merasa ini adalah jebakan Jara!” Sahut ku lugas.


“Oh ya, Saya belum menanyakan apa-apa…, apakah itu sebuah pembelaan?’’ Cetusnya.


“Pak, apakah bapak mencurigai kalau saya adalah Jara?” tanyaku memastikan. Aku merasa ia sedang menggiring pertanyaan-pertanyaan gila.


“Sejauh ini…, Ya, kau adalah Jara! Itulah sebabnya kau diikat seperti itu?’’


“Pak!’’ Aku membantah.

__ADS_1


Dengan tatapan tajam. “Apakah kau ingin buktinya?’’


__ADS_2