
Aku segera berbalik badan melihat Riko. Dilihat dari reaksinya setelah mendengar perkataan Aiko. Aku tahu kalau ia juga terkejut dan menyadari kalau kematian wanita yang dimaksud Aiko juga perbuatan Jara. Tapi, aksara kuno? Apa maksudnya? Aku mengurungkan niat untuk memberitahu kasus sebenarnya pada Aiko. Bagaimanapun wanita yang ditabrak oleh Amelia adalah sumber masalah dari kasus ini. Aku sangat yakin itu!
''Hei, ada apa? Kenapa wajahmu tiba-tiba berubah?'' kata Aiko padaku. ''Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Amelia ya? Sangat aneh sekali kalau kepolisian sampai menyelidiki kasus bunuh diri sampai sejauh ini? Ya, pasti kalian menyembunyikan sesuatu... bukankah kemarin kepolisian menyatakan kalau Amelia Earhart ditemukan gantung diri? Atau... berita yang belakangan di gembor-gemborkan itu benar?''
''Kau tadi mengatakan kalau tubuh wanita yang ditabrak itu penuh dengan tulisan?'' Aku menggiringnya untuk tidak membahas kasus Amelia versi kepolisian.
''Apakah Amelia dibunuh? Aku dengar-dengar kalau ia melakukan pesugihan? Atau pembunuh yang viral itu... Ya, Jar...''
''Tulisan apa yang kau maksud!'' Aku memotong kalimatnya. ''Jangan mencoba untuk mengubah topik pembahasan lagi!'' tegas ku.
''Baiklah,'' ucapnya kemudian menunjukkan layar ponselnya. ''Seperti ini! Apa kau pernah melihatnya?'' Aiko melihatkan layar ponselnya yang sudah terkait pada laman internet.
Aku mengambil ponselnya untuk memperhatikan nya lebih dekat. ''Aksara Jawa?''
''Ya, aku tidak tahu pasti, apakah tulisan yang ada pada seluruh tubuhnya itu memang tulisan Jawa atau tidak! Tulisannya benar aneh... aku sama sekali belum pernah melihatnya.''
''Lalu mengapa kau menunjukkan ini?''
''Supaya kau mudah memahaminya,'' Aiko mengulurkan tangannya. ''Kembalikan ponselku!''
''Bagaimana bisa tulisan seperti itu ada pada tubuhnya?''
''Entahlah, dokter itu juga melarang kami untuk menyentuhnya... tapi, kalau diperhatikan, tulisan itu seperti tato pada umumnya... kecil-kecil,'' Aiko diam sejenak. ''Kau pernah melihat tulisan China?''
Aku mengangguk.
''Kira-kira seperti itu, aksara aneh itu menempel vertikal dari kepala sampai ujung kakinya.''
''Apakah kalian menemukan sesuatu... seperti benda-benda yang aneh?'' kata-kata ku tersendat pelan.
''Tidak, sebenarnya ada apa?'' tanyanya. Aiko berusaha untuk kembali masuk kedalam kasus Jara.
''Bagaimana bisa kau tidak ikut pergi ke Singapura bersama dengan Wisnu Pradana pada hari itu?'' celetuk Riko.
''Penyelidikan yang kalian lakukan ini benar-benar aneh!'' ketusnya. ''Apa hubungannya, tewasnya Amelia dengan urusan pribadiku.'' Aiko tersenyum dan menyilangkan kakinya.
''Jawab saja!'' suara Riko sedikit meninggi.
__ADS_1
''Aku dengar kau berhenti bekerja setelah insiden tersebut,'' kataku. Aku mengusap wajah berusaha untuk kembali tenang. ''Begini, apakah kau pernah dengar kalau Wisnu Pradana menulis novel?''
''Apa yang sebenarnya yang ingin kalian cari dariku! Pertanyaan kalian benar-benar aneh!''
''Huh... Aiko, aku tidak ingin mengungkit hal itu lagi... aku janji kasus Eki Apriliya itu tidak akan berlanjut setelah pertemuan kita hari ini. Tapi, kau harus tahu... kasus itu akan terungkap kalau aku mau!''
''Apa! Sekarang kau sudah benar-benar memerasku!''
''Tidak, bukan begitu. Kita lanjutkan perbincangan ini... kami akan pergi dan kau kembali bekerja.''
''Ya, mas Wisnu pernah cerita kalau sebenarnya dulu ia berkeinginan jadi penulis. Tapi, aku tidak pernah melihatnya membaca novel... apalagi menulis novel seperti yang kau katakan.''
''Kalau begitu,'' nafasku memburu pelan. ''Bagaimana menurutmu kalau aku beranggapan kalau ia masih hidup.''
''Ha! yang benar saja!'' Aiko tertawa bernada aneh.
''Bukankah sampai hari ini jasadnya belum juga ditemukan? Dari dua puluh penumpang yang berangkat semuanya sudah ditemukan kecuali dia. Apakah kau yakin kalau dia juga berangkat pada hari itu?''
Kedua matanya terasa tegang. ''Apa maksudmu? Kau ingin bilang kalau dia masih hidup!''
''Apa maksudmu? aku sama sekali tidak mengerti...''
''Apa mungkin ia menyuruhmu untuk pergi?'' Aku mencoba menerka isi pikirannya.
''Ya, memang hari itu..., aku menemuinya di bandara sesuai dengan yang kami rencanakan, entah mengapa ia memintaku untuk kembali pulang menukar pakaian yang kukenakan. Padahal waktu keberangkatan tinggal beberapa menit lagi...,'' wajah Aiko berubah menjadi tegang.
''Kau menurutinya?''
''Ya,'' Aiko menganggukan kepala. ''...Saat aku kembali ke bandara itu aku tidak melihatnya lagi disana.''
''Mengapa kau yakin kalau dia sudah berangkat ke Singapura meninggalkanmu?''
''Karena dia mengirimkan pesan di WhatsApp... oh iya, sebelumnya dia juga menelpon. Tapi, aku tidak mengangkatnya.''
''Apa isi pesannya? Kau masih menyimpannya?''
''Aku pergi dengan seseorang. Ku tunggu di hotel Dream Lodge. Tidak lama kemudian muncullah berita naas itu... dan sampai saat ini jasadnya belum juga ditemukan. Dan aku merasa itu pertolongan dari Tuhan.''
__ADS_1
''Bukankah kalian berdua berencana untuk liburan kesana?''
Aiko mengangguk pasti.
''Lalu siapa orang yang dia maksudd?''
''Entahlah.... Tapi, dua hari sebelum itu aku pergi menemaninya bertemu dengan rekan bisnisnya yang baru saja datang dari Singapura. Tapi, mas Wisnu tidak mengatakan kalau dia akan ikut dengan kami.''
''Kau mengenalnya? Pasti kau masih apa yang mereka bicarakan?''
''Aku tidak mengenalnya... karena pertemuan mereka bersangkutan dengan bisnis... aku pergi meninggalkannya.'' Paparnya begitu was-was.
''Seorang wanita?''
''Ya,'' Aiko menatapku begitu tajam. ''Ada apa sebenarnya?''
''Bagaimana dengan ciri-cirinya? Katakan saja apa yang kau ingat!''
Aiko menggeleng pelan. ''Aku hanya beberapa detik melihatnya, kemudian meninggalkan mereka,'' keningnya berkerut berusaha mengingat.
''Baiklah, terimakasih banyak atas informasinya,'' aku berdiri dari kursi.
''Hei, apa maksudnya semua ini!'' wajahnya mendongak menatapku kemudian berkata. ''Kau tidak lupa dengan janjimu kan!''
Aku tersenyum menanggapinya.
''Misya, apa maksudnya? Kau belum menjelaskan apa dibalik nama ini!'' Riko tiba-tiba menyambar pembicaraan.
Aku teringat belum memberitahunya soal nama itu. Nama dan fakta yang membuat Aiko begitu takut itu kudapat dari Nanda. Sebelum kami masuk ke hotel aku hanya menyuruh Riko untuk menunjukkan tulisan itu jika Aiko menolak untuk memberikan informasi yang kami perlukan.
''Eki Apriliya itu bukan anak dari mantan istri Wisnu Pradana,'' aku mengeluarkan ponsel dari saku melihat jam. ''...bayi itu lahir dari wanita ini!'' jelasku.
Riko hanya diam tidak berkata apa-apa.
''Darimana kau tahu itu!'' suara Aiko terdengar jengkel.
''Lupakan saja! Urusan seperti itu bukanlah tugas kami. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Ya, anggap saja pertemuan ini tidak pernah terjadi,'' aku mengulurkan tangan bersalaman. ''Kalau begitu terimakasih dan selamat bekerja!''
__ADS_1