SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
HENTIKAN


__ADS_3

Tubuhku seketika bergetar seakan ingin jatuh. Kepala terasa tersayat oleh kata-katanya. Apakah ia mencoba mengancam ku? Aku sangat yakin sekali darahku belum pernah keluar apalagi sampai ketangannya. Benar. Dia pasti hanya memprovokasi saja. Sekalipun aku sudah meneguhkan itu hanya provokasinya. Namun, tubuhku tak berhenti bergetar.


"Apa kau pikir aku akan percaya dengan bualanmu itu! Ha!" Ketus ku. Aku berusaha untuk keluar dari tekanannya.


Dia mengecilkan kedua mata membuat bola matanya hampir hilang seakan ingin membuktikan. "Mengapa tidak kau tanyakan saja pada rekan mu yang diam itu... aku bisa memberi waktu untuknya menjelaskan... ya, sekalipun tidak lama."


Aku menatap Nanda yang masih terpaku dengan pistolnya. "Nanda, apa kau tahu ini sebelumnya?''


Dia hanya diam tak berkata-kata. Sangat aneh sekali melihat sikapnya saat ini. Tidak seperti biasa.


"Baiklah, aku tak tahu mengapa dia membisu seperti itu... yang pasti dia sedang memikirkan sesuatu. Diamnya dia itu bukan karena tidak tahu apa-apa. Misya! Tapi, diamnya itu karena sedang mengamati dan merencanakan sesuatu dalam pikirannya. Orang-orang seperti ini memang mulutnya terbungkam tapi pikirannya tidak pernah berhenti berbicara." Jara menghela nafas sebelum melanjutkan. "Siapa yang menyuruhmu kemari!?" matanya menatapku.


Aku menatap nanda. Wajahnya berubah drastis setelah mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan Jara. "Nanda, bukankah kau yang menyuruhku kemari?''


Nanda tampak menelan ludah di tenggorokan. Namun, tidak juga mengeluarkan kata-kata. "Mengapa kau diam saja! Baru saja pesanmu masuk di ponselku...." Kalimatku terhenti saat pria yang meringis kesakitan di sebelah Jara jatuh ke tanah.


"Misya, akulah yang membuatmu berpikiran seperti itu... kau merasa rekanmu itu menelpon lalu memberimu pesan? Untuk apa? Agar kau yang menyelesaikan masalah ini? Kau terlalu naif... Aku cukup terkejut saat sampai disini melihat seorang polisi sudah menunggu di kegelapan ruangan itu. Jujur aku tidak menduganya." Jara mendekati Riko lalu memaksanya duduk untuk menempelkan pistol kembali ke kepalanya. "Satu-satunya cara agar aku bisa pergi dari sini... Benar, dengan mendatangkan mu."


"Darimana kau tahu kalau mereka sedang perjalanan kemari?'' Sanggah Nanda yang akhirnya bicara.


"Kau jangan sok bodoh. Kau pasti tahu mengapa?'' jawab Jara pada Nanda yang tampaknya mulai serius.

__ADS_1


"Apa maksudnya?''


"Yang dikatakannya benar... Kau sudah lama dalam kendalinya. Oleh karena itu apapun yang kau lihat dan kau dengar dia juga bisa mengetahuinya."


"Ups, aku akan menambahkan yang kurang... Aku bahkan bisa menebak isi hati orang yang kukendalikan."


"Yang benar saja..." Aku mencoba menghilangkan kegelisahan dalam diriku.


"Apa kau mau buktinya. Hah?" Aku mencoba menekan rasa ketakutan yang mulai merambat ke seluruh tubuh.


"Karena itu dia selalu menghindar dariku. Bukankah itu yang kau pikirkan. Misya?''


"Baiklah. Sepertinya acara temu sapa hari ini sudah selesai." Jara kembali memasukkan buku yang baru saja dikeluarkannya. "Melihat kondisi saat ini... tampaknya temanmu yang bernama Nanda ini terlalu santai. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang direncanakannya. Jadi..."


Tubuhku tiba-tiba terasa tegang. Kedua tangan Nanda yang mengampu tubuhku seketika terlepas setelah tanganku menghempaskannya. Aku berdiri dengan tegap menjauh satu meter dari Nanda.


"Baiklah, untuk berjaga-jaga. Aku ingin kau membuang pistol dari tanganmu itu!" Pintanya kemudian melanjutkan. "Bolehkah aku meminta darahmu sedikit saja. Nanda?''


"Aku rasa aku tidak perlu membuktikan lagi kan?" Jara mencoba mengancam. "Apa boleh buat kalau…”Kalimat Jara terhenti ketika Nanda langsung melempar pistol ke arahnya. “Baiklah. Aku berencana membuat buku keenam. Ya, sekalipun aku belum mendapat idenya. Kalau begitu angkat tanganmu di pundak!” 


Jara melangkah mendekati Nanda yang sudah siap melakukan perintahnya. Ketegangan terasa bergaduh di wajah Nanda. Tubuhku yang dalam kendalinya sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya dapat melihat apa yang akan dilakukannya pada Nanda. Jara kemudian mengeluarkan pisau dari tas kecilnya sambil tersenyum ia menggoreskan pisau pada betis Nanda.

__ADS_1


“Aaaaaa!” Aku berteriak keras kesakitan membuat kepalan tangan Nanda nyaris menghantam kepala Jara yang merunduk tepat di bawahnya terhenti.


“Misya, apa kau baik-baik saja?’’ Kekeh Jara setelah selesai mengambil darah dari betis Nanda yang tersayat.


“Tubuhku seakan ditekan oleh sesuatu. Jara, apa yang kau lakukan padaku?’’ Aku merintih kesakitan.


“Tadi itu. Nyaris saja. Huh…” ucapnya kemudian mengeluarkan buku lain dari tasnya. Kemudian menggoreskan pisau yang berdarah itu. Nanda terlihat mencoba menahan rasa sakit yang datang dari kaki kanannya.


“Baik. eksperimen sudah selesai. Kalau masih ada yang ingin ditanyakan…. sepertinya lain waktu saja.” Dia mengeluarkan lembaran kertas di dekat Riko yang masih menodongkan pistol ke kepalanya sendiri. “Kalau kalian memang ingin tahu lebih banyak... tangkap saja aku… Aku akan menunggu.”


Aku dan Nanda hanya bisa terpaku pada tanah tidak bisa melakukan apa-apa. Kertas yang ditinggalkannya itu sudah pasti catatan untuk mengendalikan Riko. Jara tiba-tiba berbalik menghentikan langkahnya. “Kalau kalian berpikir mengapa aku tidak meninggalkan buku milikmu? Aku akan akan memberi sedikit rahasia dari kekuatan yang kudapatkan ini. Tentu agar… setidaknya bisa membuat kalian tidur nyenyak malam ini. Untuk bisa mengendalikan seseorang memang benar aku harus mendapatkan darahnya terlebih dahulu. Kuberitahu satu hal yang membedakan antara buku dan catatan kecil itu. Saat aku menulis buku untuk mengendalikan seseorang aku harus mengorbankan umurku untuk iblis. Akan tetapi untuk lembaran-lembaran kertas seperti itu…” Dia mengangguk. “Itu tidak perlu. Ya, sekalipun aku harus  membuat lembaran kertas itu tidak jauh dari objeknya… Kira-kira seperti itu….Bagaimana? Apakah kalian paham maksudku?’’ tutupnya tersenyum tipis.


“Jadi, itulah sebabnya kau bisa mengendalikan aku dan Amelia sekalipun dari jarak yang jauh!”


“Ya. Benar… Jadi, aku harap kalian menunggu disini setidaknya sampai aku benar-benar hilang dari pandangan. Mungkin saja ada harapan setelahny…” Letusan tembak terdengar keras membuat Jara tersungkur jatuh. Dia meringis kesakitan sambil memegang pahanya yang baru saja tertembak entah darimana datangnya.


Aku memandang di sekitar bangunan tidak ada seorangpun. Pistol Nanda yang diminta Jara masih terletak di dekat Riko. Hanya satu yang bisa kupikirkan… Penembak jitu. Tetapi siapa? Dan dari mana? Aku langsung menatap Nanda yang ingin tersenyum. Namun, goresan senyuman itu seketika menurun kembali setelah Jara mengeluarkan buku kecil dari tas kecilnya. Dia seperti menggerakan sesuatu pada buku yang sangat kami kenali. Buku yang baru saja digores oleh darah milik Nanda. Dia berencana ingin menulis disana. Belum sempat Nanda berkata desingan peluru kembali terdengar kali ini aku menyadari kedatangannya darimana. Peluru penembak jitu yang datang dari pepohonan rimbun tepat mengincar batang leher Jara. Kepala Jara yang tegak berdiri dan tangannya yang menulis bersamaan jatuh ke tanah.


Nanda yang melihat kesempatan langsung berlari menghampiri Jara tanpa ia sadari peringatan yang dikatakan Jara. Apapun yang terjadi kami tidak boleh mendekatinya. Benar saja, hanya selangkah lagi Nanda dapat memeriksa keadaan Jara letusan senjata kembali berbunyi. Aku yang menyadari suara itu bukan dari tembakan sniper langsung melihat Riko yang sudah terkapar setelah menarik pelatuk tembaknya.


Melihat kejadian itu sontak kepalaku terasa berat dan berdenyut ditambah sekujur tubuhku mengalir rasa panas. Aku yakin semua ini pengaruh dari buku Jara. Hanya beberapa menit rasa aneh itu menguasai tubuhku langsung roboh mencium tanah. Aku tidak mampu menggerakkan tubuh ku lagi semua Ikut jatuh terhempas ke tanah. Aku berusaha mengulurkan tangan ke atas namun tidak ada yang menyambutnya. Benar, ini hanya perasaanku saja. Aku hanya berharap mengetahui alasan semua ini sebelum waktuku berakhir bersamaan dengan nyawaku. Aku hanya tidak ingin mati tanpa mengetahui sedikit pun. Sebelum kesadaranku belum benar-benar hilang. Aku melihat Nanda sedang tersenyum memegang sebuah buku dan berkata. "Apakah kau Jara?"

__ADS_1


__ADS_2