SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
JEMBATAN


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, kami kembali masuk ke mobil. Wajah Riko terlihat jengkel. Mungkin karena baru saja ia dilarang masuk oleh penjaga. Aku tadi sempat melihatnya digeledah oleh keamanan. "Apa yang dikatakannya?"


"Apalagi kalau tidak kasus ini… kau tahu sendiri ini adalah hari terakhir."


"Lalu apa yang akan kau lakukan? Masih ada beberapa jam lagi. Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan?"


"Hanya itu," hembusan nafasku terasa hangat. "Ayo pergi temui dokter itu!"


Riko mengangguk setuju dengan keputusan yang kuambil. Butuh tujuh sampai delapan jam untuk sampai kesana. Tanpa pikir panjang, kami bergegas melintasi jalan ibukota.


***


Saat kami sudah memasuki kota Jombang, nada dering ponsel ku berbunyi. "Halo! Misya kau dimana?" Ucap komandan dari seberang telpon.


"Iya komandan, Aku sedang dijalan menuju Rumah sakit tempat Amelia mengantar wanita yang ditabra…"


"Anak dengan istri Sersan Radit ditemukan gantung diri di rumahnya."


"Tu-tunggu… Riko, putar mobil kembali ke Jakarta."


"Untuk apa? Kita sudah deka..."


"Aku katakan putar! Putar saja!" Tatapan Riko seketika berubah setelah mendengar perkataan ku kemudian membanting setir di jalan yang kosong.


"Halo Komandan, aku akan segera kesana… Komandan, apakah Sersan itu sudah tahu?"


"Ya, dia sedang diperjalanan menuju kemari… Misya, mengapa kau menyuruhnya untuk pergi ke Aceh?"


Aku memaksa menelan ludah yang seketika kering di rongga-rongga mulut. Kekeringan mulut membuat suara ku terhenti. "Komandan, sebaiknya jangan biarkan Sersan itu kesana… Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi jika dia kesana."


"Misya, mengapa kau tidak mengatakan apapun  padaku kalau dia pergi ke Aceh? Apalagi yang kau rahasiakan dariku?"


"Komandan! Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Jadi, sebaiknya jangan biarkan Sersan itu datang kerumahnya.” Aku mengusap wajah yang sangat putus asa, “Komandan,  A-apa… mereka mati karena Jara?"


"Tentu, soal sersan itu atasan yang akan menemuinya. Kau tahu maksudku? Mereka akan menyelidiki Sersan itu… kau harus tahu sekalipun aku komandan dalam kasus ini. Namun, daya ku terbatas. Aku tidak akan bisa melindungimu sepanjang waktu. Terlebih lagi, kejadian yang menimpa keluarga sersan itu berkaitan denganmu.” Suara komandan terdengar kacau dan tidak seperti biasanya. Setelah diam sejenak ia melanjutkan, “Cepat datang kemari banyak yang harus kau jelaskan disini!"


"Baik Komandan, tetapi Ko-komandan…. Kalau begitu… catatan neraka mereka ada disana?"

__ADS_1


"Iya…" Panggilan tiba-tiba terputus. Sepertinya aku merasakan seseorang sebelum Komandan menutup panggilan.


"Apa yang dikatakan komandan?"


"Keluarga Sersan Radit ditemukan tewas dirumahnya. Mungkin saat ini kepolisian akan memeriksa semua yang terkait dengan Sersan itu? Kau tahu maksudku?" Aku menatap Riko yang masih fokus menyetir, “Sebelum dia pergi ke Aceh, sebenarnya ia ingin membawa keluarganya kesana. Tetapi, entah mengapa aku melarangnya… Benar, aku tidak menyangka Jara akan membunuh keluarganya. Aku hanya khawatir kalau seandainya mereka pergi bersamaan akan terjadi sesuatu. Namun, ternyata sebaliknya.”


Riko hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Dia menginjak gas membuat laju mobil melesat semakin cepat.


"Aku benar-benar tidak paham lagi, Riko." Aku menghempaskan tubuh kemudian menghentakkan kepala pada jok sambil berteriak.


"Apa lagi aku!" Celetuknya cepat.


Seketika kepalaku yang dari tadi berputar terhenti setelah mendengar ucapannya. "Apa mungkin yang  mereka katakan itu  benar. Kalau aku adalah Jara? Bagaimana menurutmu?"


"Entahlah… Kalau dipikir-pikir sepertinya… Ada benarnya. Hei Misya, apa mungkin sebenarnya kau adalah Jara, tapi kau tidak sadar. Bisa saja saat malam hari kau berkeliaran kesana-kemari menyusun rencana pembunuhan, lalu saat siang hari kau menjadi polisi…"


"Hahaha, bicara denganmu sungguh sangat menyenangkan." Aku menghela nafas panjang. Sejenak kami tertawa setelah membahas suatu hal yang tidak bermutu. Riko masih fokus menatap jalan dengan kecepatan tinggi.


Aku menurunkan kaca mobil separuh membuat angin berhembus kencang masuk. Kutarik nafas panjang berusaha melupakan segalanya. Sepuluh menit kemudian terdengar nada dering panggilan dari sakuku kembali berbunyi.


Aku mencoba kembali menelponnya, namun ditolak. Apa yang sebenarnya yang sedang dilakukannya. Keningku semakin dalam berkerut, berusaha memahami akan sifat anehnya itu.


"Pria itu sangat aneh sekali bukan?" ujar Riko ketika melihat ekspresi dari wajahku kalau Nanda menolak panggilan.


''Ya, Nanda selalu saja seperti ini...'' suaraku terhenti saat melihat layar ponsel menyala kembali.


Tidak sampai satu menit setelah Riko selesai menggerutu sebuah pesan masuk yang berisi Amelia. "Amelia? Apa maksudnya?" tanya Riko saat aku menunjukkan pesan itu padanya.


Kupejamkan mata mencoba memahami tujuan pesan yang baru saja dikirim Nanda. Kutarik nafas panjang mencoba mengingat semua kejadian yang terkait dengan Amelia. Satu-persatu terseleksi di kepalaku. Namun, tidak satupun bisa menjadi jawaban.


"Apa mungkin Amelia adalah Jara? Bisa saja itu maksudnya." sambar Riko.


Aku tidak memperdulikan perkataan yang tidak masuk akal dari Riko.


"Amelia, Amelia, Amelia! Keluarga Sersan Radit baru saja tewas... saat bersamaan Nanda memberi pesan, Amelia. Cepat, pakai otakmu Misya Alexandra…" Aku bercakap-cakap sendiri mencoba memahami tujuan pesan Nanda.


"Kenapa tidak kau telpon lagi saja sampai dia mengangkat… lama-lama dia juga bakal bosan dan… pasti dia akan mengangkat panggilanmu."

__ADS_1


"Lebih baik kau diam saja, Riko! Jangan ganggu aku!" suaraku sedikit keras.


“Yah, aku hanya memberi pendapat…”


“Dengarkan! Dia baru saja menelpon… saat  aku coba hubungi kembali, dia menolaknya, tak lama kemudian dia mengirim pesan ini. Apakau tahu apa maksudnya?’’


“Karena dia sedang sibuk. Begitu?’’ Sahutnya santai.


“Benar… atau dia tidak ingin orang tahu kalau dia sedang menghubungi orang lain. Ya pasti seperti itu…” Aku menghentikan kata-kataku dan mengangguk pasti. Riko yang dari tadi belum dapat mencerna pesan itu membuat wajahnya bagai benang sangat kusut.


“Maksudmu… dia ingin orang lain mencarinya, begitu!”


“Riko, putar balik! Putar cepat…. Putar!” Aku kembali berteriak memerintahnya.


“Putar? Maksudmu kita kembali ke Jombang? Kau dari tadi terus membuat ku bingung.”


“Ya, kita kembali kesana.”


“Kesana? Kemana?”


“Ke tempat jasad Amelia ditemukan.”


“Hah? Rumah kosong itu!”


“Ya, hanya itu yang bisa aku pikirkan tentang pesan yang dikirimnya itu! Tidak ada lagi.’’


“Lalu bagaimana dengan keluarga Sersan itu? Kau akan dimarahi komandan.’’


“Biarkan saja mereka yang mengurusnya. Kalau aku yang menjelaskan Komandan pasti akan mengerti. Putar balik!” Aku melirik jam di pergelangan tangan mengarah pukul 16.50, “Berapa lama kita sampai kesana?’’


“Kira-kira setengah jam,” jawab Riko yakin.


“Kalau begitu, injak pedal gas itu jangan kasih kendor!”


“Siap Bos!”


Mobil melaju cepat melintasi jalanan kosong. Jam di tangan ku menunjukkan pukul 17.10, tebakan Riko meleset. Kami sampai lebih cepat sepuluh menit.

__ADS_1


__ADS_2