
Pria ini sungguh gila. Aku sama sekali tidak bisa mengikuti cara berpikirnya. Benar-benar rumit, hal yang sama mungkin dirasakan oleh Jara. Aku yakin Jara juga berpikir demikian, dia pasti tidak mengira akan ada orang yang berpikir sekompleks Nanda. Sambil menatap matanya yang masih serius aku mencoba mencari cara agar dia tidak terlalu meremehkan ku.
"Nanda, apa yang membuatmu yakin Jara akan kembali ke rumah itu? Kau sudah menunggunya disana? Ba-bagaimana jika dia tidak kembali kesana?'' tanya ku yang masih penasaran. Wajahnya yang serius kembali tersenyum. Aku tahu maksud senyuman sinis itu.
''Dia akan kembali, hanya itu yang kupikirkan!'' jawabnya yakin sembari menarik nafas. "Sudah kukatakan padamu bagaimana pola Jara dalam bertindak... setiap dia ingin melakukan sesuatu pasti dia menyiapkan rencana terlebih dahulu, kau hanya perlu mencari tahu untuk apa dia menyiapkan rencana itu! Ya, aku menyebutnya aksi dan reaksi... Setiap dia melakukan aksi kau hanya perlu mencari tahu reaksi apa yang akan terjadi. Hanya sesimpel itu! Aku dan Jara hanya saling memanfaatkan,'' terangnya sambil memangku dagu. Kali ini Nanda tersenyum miring. ''Jara memanfaatkan mu untuk mendapatkan informasi dariku dan aku memanfaatkan mu untuk mendapatkan informasi darinya. No problem.... Seharusnya dia tahu itu, oh ya... saat rekan ku dari Gagak Hitam membawamu kembali ke Jakarta, kau masih mengingat mereka?'' Matanya menanti anggukan dariku, ''Aku mendapatkan informasi bahwa kau menyuruh Sersan Radit untuk pergi meninggalkan Jakarta dengan alasan keselamatan.''
''Kau sampai sejauh itu?'' potong ku.
''Tentu, aku harus mengetahui setiap langkah darimu, karena itu representasi dari Jara. Dan dugaanku benar dia akan melakukan sesuatu.... dia sengaja mengendalikanmu untuk itu. Jika Jara memang ingin membunuh Sersan Radit dia akan membunuhnya secepat mungkin tanpa perlu mengendalikanmu untuk menyuruhnya pergi ke luar kota.... Artinya, dia ingin menjauhkan Sersan Radit dari seseorang....'' suara Nanda menggantung di ruangan. "Siapa? Ada apa?'' selanya saat melihat mataku terbelalak. ''Hanya satu jawabannya.... Anak dan istrinya. Untuk apa? Sampai sini aku yakin kau sudah tahu jawabannya.''
Aku hanya membisu, lidah ku seakan kelu tak terangkat. Nanda benar, aku tidak memikirkannya sampai sejauh itu. Tentu saja aku tidak memikirkannya. Tidak, tidak...tidak sekalipun aku tidak dibawah kendali Jara aku juga tidak akan berpikir sampai sejauh itu.
__ADS_1
"Jara akan memanfaatkan keluarganya untuk keributan. Dia sudah menebar minyak dimana-mana, hanya menunggu waktu yang tepat untuk mematik apinya... tentu saja yang menimpa keluarga Sersan Radit adalah salah satunya. Dan benar kejadian itu menjadi persoalan yang besar. Ya, dan yang membuatnya menjadi lebih besar adalah kau sendiri. Kau yang menyuruhnya pergi kesana dan kau yang menyuruhnya meninggalkan keluarganya. Mendengar inseden itu atasan akan memanggil mu. Disaat yang tepat dia melakukan rencananya, Bemm.. Dan benar saja, mendengar kejadian itu kepolisian akhirnya berkumpul dan sibuk sesibuknya. Jara yang sudah tahu rumah tua itu tidak dijaga oleh kepolisian lagi, momen yang tepat baginya untuk kembali. Dia tahu apa yang akan dia lakukan, dia tahu apa yang terjadi dan yang akan terjadi... semuanya sudah dalam genggamannya. Kau tadi bertanya untuk apa dia kembali? Dia datang mengambil barang-barang yang tinggal di loteng. Dan menggunakannya kembali. Hanya itu..." tutup Nanda.
Aku tidak tahu apa lagi yang ingin ditanyakan padanya. Semakin dalam aku bertanya, rasa bersalah semakin melilit tubuh ku. Perlahan mulai menggerogoti bilik hati. Bayangan orang-orang yang mati sebab catatan ku seketika muncul dihadapan ku. Mereka terus-menerus menatap ku jauh di ujung sana. Aku tidak membunuh mereka.
''Nanda, apakah kau sudah tahu bagaimana cara Jara melakukan ini semua? Darimana dia mendapatkan kekuatan supernatural itu? Aku yakin kau tidak akan membunuhnya tanpa mengetahui sesuatu,'' tanya ku gugup.
''Apa maksudmu?''
''Kau tidak akan membunuhnya begitu saja kan? Tanpa menemukan sesuatu? Apa yang kau katakan tadi benar, aku telah membunuh mereka semua.''
''Aku tidak butuh petuah untuk mengobati rasa bersalah ku! Mengapa kau membunuhnya? Itu saja,'' Helaan nafas ku terasa panjang sebelum melanjutkan. ''Aku akan ulang kembali pertanyaan yang sama, kau tidak akan membunuhnya tanpa tahu sesuatu!''
__ADS_1
''Mengapa kau bisa seyakin itu... Aku hanya selangkah lebih cepat darinya...''
''Ha? Selangkah? Apa maksudmu?'' kilah Riko.
''Aku membunuhnya karena dia berniat membunuh ku! Hanya itu!''
''Kau pikir aku akan percaya dengan kata-kata mu barusan?'' Aku menatapnya serius.
Nanda mengangkat kepalanya sedikit, ''Terlepas dari itu.... Asumsi kita tentang kekuatan yang didapatkannya itu benar...''
''Dia memang memanfaatkan Jin?'' sela Riko.
__ADS_1
Nanda menganggukan kepalanya.
''Jangan larikan pembicaraan! Aku masih ingin tahu mengapa kau membunuhnya?''