
Setelah menelpon komandan. Taksi yang kulihat datang menghampiri. Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan Jara yang mengetahui aku berada di Bali. Aku merasa ada sesuatu yang akan menjadi petunjuk dalam penyelidikan jika pertanyaan itu terjawab. Tetapi, tidak satupun yang terpikirkan selain Nanda dan Nayla. Benar. Hanya mereka yang tahu aku pergi kesana. Aku kembali mengingat perbincangan dengan wanita pengunjung kafe. Benar, mereka mengatakan ada dua orang duduk di belakang ku. Akan tetapi, bagaimana bisa dua orang yang menemui ku di kafe itu salah satu dari mereka. Aku bisa mentolerir Nanda bisa datang ke Bali dengan memanfaatkan pasilitas divisinya. Tetapi, Nayla. Sangat tidak mungkin ia pergi ke Bali. Kerutan di dahi ku semakin dalam berusaha membuang pikiran liar tentang mereka. Itu tidak mungkin.
Aku mengangguk yakin. Keteguhan di kepalaku memberi tahu untuk membongkar teka-teki rumit ini dari Nayla kemudian Nanda. Aku sangat yakin sekali ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Benar. Terutama Nayla.
Taksi menggilas jalan cepat melewati kendaraan lainnya. Pukul Sembilan kurang Lima menit aku tiba di rumah. Lampu teras menyala indah menerangi taman kecil di depan rumah. Angin malam sahut-sahutan di telinga memberi sinyal agar tetap tenang. Ketika masuk aku melihat Nayla yang masih duduk santai bersama dengan buku-bukunya. Dia yang menyadari kedatanganku langsung menutup buku yang dibacanya. “Malam! Maaf mengganggu acara bacaanmu…”
“Oh, kau sudah pulang,’’ dia menyahut, menggerakkan bahunya menutupi buku yang dibacanya. “Apa terjadi sesuatu… tampaknya kau begitu letih?’’
“Tidak… lagipula sudah sewajarnya. Aku baru saja sampai dari perjalanan jauh. Mengapa? Apakah ada yang ingin kau sampaikan?’’
“Tidak, aku hanya sedikit khawatir padamu… soalnya kemarin kau mengatakan hanya pergi sehari saja.”
“Oh…” Aku berjalan dan duduk disebelahnya. “Bagaimana harimu?’’ Mataku terpaku pada sebuah buku yang berusaha disembunyikannya. Tertulis Sang Queen pada cover bukunya.
“Ya, seperti biasa… hanya membaca.” Dia diam sejenak menatapku. “Ada apa? Apa kau pernah membaca buku ini? Sepertinya kau tertarik dengan buku ini? Tidak seperti biasanya kau melihat buku yang kubaca!’’ Dia mengambil buku itu kemudian menyerahkannya padaku.
“Tidak, aku hanya penasaran saja. Mengapa kau begitu betah hidup hanya dengan buku-buku ini.”
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi ya? Jujur kau tidak seperti biasanya. Apa kau ingin mengatakan sesuatu?’’
Aku menghela nafas sebelum berkata. “Baik, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ini mengenai kasus yang sedang kujalani…”
“Apa ini terkait dengan Amelia?’’ Potongnya.
__ADS_1
“Ya. Tetapi sebelumnya aku ingin mendengarkan ceritamu terlebih dahulu.”
“Hmn… Katakan saja.”
“Aku harus memulai dari mana dulu ya… Ok, langsung ke intinya saja!” Aku mendekatkan wajahku tepat di depannya. “Aku dengar dari rekan kerjaku kau dan Hana pernah bertemu dirumah ini. Mengapa kau tidak memberitahuku?’’
“Oh, wanita itu… ya. Memangnya kenapa? Lagipula itu rekan kerjamu kan?”
“Aku sudah katakan padamu sejak awal untuk tidak ikut campur dalam kasus ini!” Aku mencoba menggiringnya agar mengatakan pembicaraan mereka berdua.
“Tidak ada… dia hanya memastikan keadaanku saja. Katanya kau khawatir akan terjadi sesuatu padaku. Ya… dia hanya mengawasiku saja.”
“Nayla, matamu memberitahu padaku kalau kau berbohong. Apa kau pikir aku bertanya seperti ini hanya basa-basi? Katakan!’’
Aku diam sejenak tak tahu harus mengatakan apa.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikiran seperti itu… yang paling aku sesalkan adalah... bisa-bisanya kau berpikiran kalau aku yang membunuh ibu Kirana. Dan yang paling melekit dihatiku. Bagaimana mungkin aku membunuh kakakku sendiri!”
“Nayla, aku belum mengatakan kalau kakakmu terbunuh…”
“Kau tidak perlu mengatakannya! Bahkan saat ini kau masih ingin menjebakku...” Matanya mulai berbinar. “Tidak usah kau beritahu pun… Aku sudah lama menganggapnya mati. Jauh sebelum masalah ini…”
Aku hanya diam menatap wajahnya yang mulai merintikkan air mata. “Apa… kau masih ingin tahu apa yang kami bicarakan! Rekan kerjamu itu mengatakan padaku… kau curiga padaku karena sikapku yang tiba-tiba berubah saat mendengar kabar Amelia. Hanya karena itu? Atau hanya karena aku ingin ikut denganmu… Seolah aku ingin mencari tahu. Begitu kak Misya! Yang benar saja lah kak! Sejujurnya yang membuatku tertekan adalah… alasanmu menganggapku pembunuh hanya karena semua korban pernah bertemu denganku…”
__ADS_1
“Hana. Wanita yang kita bicarakan juga sudah menjadi korban,” Aku memotong penjelasannya. “Tenangkan dirimu…Huh… bantu aku memecahkan masalah ini. Mengenai aku curiga padamu itu hanya asumsi saja. Jadi, maafkan kalau itu membuatmu marah.” Aku mulai merasakan kebuntuan ketika mendengar kata-katanya.
Emosi Nayla yang naik perlahan turun. Dia menghapus air matanya dengan kaos yang dipakainya. “Kau bilang Kak Hana juga menjadi korban?’’
Aku mengangguk.
“Jadi, yang ingin kau katakan apa? Itu memperkuat asumsimu!”
“Ok. Aku tekankan sekali lagi padamu. Maafkan aku dan bantu aku…. saat ini aku sama sekali tidak menganggapmu Jara, pembunuh atau apalah itu. Ok!” Aku berusaha membuatnya yakin. “Sebagai adiknya… Saat ini aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Amelia sebelum dia menjadi artis. Kau tadi mengatakan kalau kau sudah lama menganggapnya mati. Apa maksudmu?’’
“Itu sekitar empat tahun yang lalu… inilah alasan mengapa aku sangat senang saat di panti mendengar kehilangannya. Dan menjadi alasan mengapa aku ingin ikut denganmu.” Nayla menghempaskan nafas panjang sebelum bercerita. “Kau tahu sendiri kalau kakakku begitu sayang padaku. Apapun yang terjadi. Baru pertama kali aku melihatnya tertawa lepas seperti itu. Ia bercerita pada saat tidur ia pernah bermimpi menjadi musisi nasional yang terkenal. Aku tahu itu adalah cita-citanya dari dulu. Aku mengiyakan dan mendoakannya. Aku ingat sekali senyumannya saat itu. Senyum dan pelukan yang terakhir kali diberikannya padaku. Karena dua hari setelah itu… Saat aku bangun di pagi hari aku tidak melihatnya di kamar. Aku mencari dan menanyakan pada tetangga sekitar tidak satupun yang tahu.”
“Bukankah saat itu kau mengatakan kalau ia dijemput travel?’’
“Ya. Tapi aku dan tetangga tidak ada yang tahu soal itu. Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Sampai satu minggu kemudian ia datang dengan tampilan berbeda. Mulai dari kendaraan, hiasan sampai pakaian. Melihatnya datang aku langsung mendekat untuk memeluknya. Tetapi, aku merasakan kalau yang hadir saat itu bukanlah kakakku. Dia mendorongku sampai jatuh… sorotan matanya begitu tajam. Aku berusaha berdiri menanyakan maksudnya… tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya ia langsung membawaku.”
“Ke panti asuhan itu?’’
“Ya, rumah yang menjadi satu-satunya harta peninggalan ibu di jualnya. Aku tidak tahu mengapa ia menjual harta berharganya? Sampai saat ini aku tidak tahu alasannya.”
“Sebentar… rumah itu di jual? Apa kau tahu dengan siapa?”
“Tidak, aku tahu kalau rumah itu dijual juga dari ibu Kirana.”
__ADS_1
“Baik, aku ingin mendengar yang kau tahu tentang Amelia ketika kau tinggal di panti?’’