
Pepohonan rimbun kembali terlihat dari tepi jalan. Aku mencoba mencari jalan yang mudah dilalui. Cahaya matahari sudah memancar dari ufuk barat membuat bayangan pepohonan sedikit memanjang.
“Riko apa kau membawa senjata?’’ Aku menahan langkah.
“Ya,” Dia mengeluarkan pistol dari saku kemudian mengangkatnya di bagian dada. “Bagaimana denganmu?’’
“Aku tidak membawanya.”
“Baiklah, lalu bagaimana dengan rencananya?’’
“Aku yang akan masuk kedalam bangunan untuk memastikan keadaannya. Jadi, kau tunggu saja di luar sampai aku beri aba-aba untuk masuk. Bagaimana dengan pelurunya?’’
“Penuh," sahutnya cepat tanpa ragu. "Aku tidak pernah memakainya. Misya, bukankah kau masih curiga kalau Nanda dalam pengaruh Jara? Apa kau yakin ini bukan sebuah jebakan?”
“Itu hanya asumsi ku saja, lagipula aku belum memiliki bukti yang kuat soal itu, Walaupun begitu, kita memang harus tetap berhati-hati. Karena itu aku menyuruhmu menunggu di luar, saat ku beri aba-aba dobrak saja pintu itu! Mengerti!”
Riko mengangguk.
Saat kami sudah tepat di depan rumah, terdengar suara orang yang sedang berbicara dari dalam. Sigap aku memberi instruksi pada Riko agar sigap menunggu di luar sesuai dengan rencana.
“Sepertinya kita kedatangan tamu,” ucap seorang wanita yang sangat aku kenal.
Nanda yang berdiri tidak jauh di hadapannya mengangkat sebuah pistol colt yang selalu dibawanya.
“Kau?’’ mataku terbelalak terbuka, bibirku sedikit bergetar.
“Sudah kuduga pasti kau mengenalnya?” ucap Nanda.
Seorang wanita memakai kacamata hitam, tubuhnya kecil dan anggun. Rambutnya bergaya bob pendek, dipotong shaggy dan warnanya hitam legam. Namun, kali ini dia tidak memakai pakaian saat pertama kali kami bertemu. Perlahan ia membuka kacamatanya dan berkata. "Yup, Tasya! Resepsionis hotel. Bagaimana? Mengejutkan bukan?"
Di ruangan yang remang. Satu-satunya cahaya matahari datang dari jendela besar menyorot jelas pada wajahnya. Nanda yang berdiri tegak sama sekali tidak memalingkan pandangannya sedikitpun. Tubuh ku yang begitu percaya diri seketika goyah. Kepalaku kembali pusing seperti biasa.
__ADS_1
Melihat Nanda yang sudah sigap seperti itu aku mencoba menghadang pintu yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari bangunan kosong ini. Namun, kaki kanan ku tiba-tiba bergerak dengan sendirinya saat menghadang pintu. Apa yang terjadi? Kedua kakiku melangkah dengan sendirinya. Aku mencoba untuk melawan. Akan tetapi, guncangan yang keras semakin menekan kepalaku.
“Memang harus begitu, Misya. Jangan halangi jalanku.” ucapnya tersenyum.
“Misya, Apa kau baik-baik saja?’’ tanya Nanda yang masih sigap mengangkat pistol.
Aku mengangguk. “Entah mengapa…kepalaku tiba-tiba pusing? Apa maksudmu memang seharusnya seperti itu?’’ Aku berusaha mengokohkan kaki yang sudah bergeser dua meter dari pintu. Jara hanya diam tidak menanggapi.
“Kau mau kemana?’’ sergah Nanda membuat langkah Jara terhenti saat membuka pintu.
“Apa! Apakah itu sesuatu hal yang perlu ditanyakan?" Tatapannya begitu menjengkelkan. "Aku akan pergi… Bukankah sudah kukatakan kau tidak akan bisa membunuhku. Sekali kau tarik pelatuk itu… aku pastikan, kau bukan hanya akan kehilangan informasi yang kau cari-cari saat ini… kau juga akan melihat kematian rekan mu ini!” Mata Jara menyorot tajam sambil melangkah kearah pintu. Mata Jara menyorot tajam padaku.
Dia keluar.
Nanda hanya diam berdiri tak berkutik. Tangan kanannya yang sejak tadi terangkat seketika ambruk bersama dengan semangatnya.
“Riko saat ini di luar…," tegasku. "Jadi, tenang saja! Aku sudah menyuruhnya untuk mengikuti Jar….” Kata-kata ku seketika berhenti saat melihat wajah Nanda yang begitu tegang. “Apa maksud dari tatapanmu itu?”
Aku menelan ludah saat melihat ekspresi yang ditampilkannya itu. Tingkah dan kata-katanya sangat berlawanan. Matanya sama sekali tidak tersenyum. Sekalipun begitu aku merasa dia seperti merencanakan sesuatu.
Benar saja saat Nanda memegang gagang pintu yang sudah usang itu tiba-tiba suara letusan pistol berbunyi dari luar. Aku berusaha berdiri bergegas menyusul Nanda yang sudah di luar untuk memastikan apa yang terjadi. Kemudian, saat kami melihat sosok orang yang berdiri di halaman bangunan. Wajahnya meringis ketakutan telapak tangan kirinya mengalir darah bekas tembakan pistol.
“Riko!” Aku berteriak kencang, melupakan waktu. “Jara! Apa yang kau lakukan!”
Riko terlihat meringis kesakitan. Bisa kupastikan suara letusan pistol itu menembak telapak tangannya sendiri, nafasnya terengah-engah hebat. Tanah tempatnya berpijak seketika lembab karena darah yang bercucuran tak berhenti. Rambut dan wajahnya dibanjiri keringat. Dia hanya bisa menggoyang tangan kirinya yang sudah bolong memberi sinyal kesakitan. Rautnya penuh dengan kengerian, matanya tidak bisa diam.
"Ri-Riko, tenangkan dirimu..." Suaraku terbata-bata karena melihat kedua kakinya bergetar. Tubuhnya seperti dikendalikan sesuatu. "Sebaiknya kau buang saja pistol itu!" pintaku padanya perlahan.
Dia tidak menanggapi kata-kataku. Jara yang berdiri tepat di sebelahnya tersenyum tipis melihatku.
"Sejak kapan... mengapa bisa Riko Sudah dalam kendalinya," bibirku bergetar melihat yang terjadi pada Riko. "Nanda! Bisa kau jelaskan ini apa maksudnya?'' suaraku bergetar begitu khawatir.
__ADS_1
Dia terlihat tidak mau menjawab. Kedua matanya membelalak masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aku melangkah berusaha mendekat, Jara mengerang, "Ugh" kemudian tersenyum lagi. Kemudian, dia bergantian memandang wajahku dan Nanda. Lalu pandangannya terhenti pada Riko.
"Aku sarankan kau untuk mundur!" bentaknya.
Riko langsung menempelkan muncung pistol tepat di kepala tepat setelah Jara selesai berbicara.
"Misya! Lebih baik kau dengarkan apa yang dikatakannya!" Bentak Nanda setelah diam beberapa saat.
"Akhirnya kau bicara juga." Aku mundur tepat di sebelahnya dan menatapnya yang masih kebingungan.
"Apa yang mau kau dengarkan dariku... Saat ini kita tidak bisa melakukan apa-apa!" Dia terlihat marah mengangkat pistolnya ke arah ku. "Bisa saja aku menembak wanita busuk itu lalu membawanya. Tapi bayarannya kau dan Riko harus mati!"
"Aku?''
"Kau tahu mengapa dia terlalu tenang saat ini? Padahal moncong pistol ini sejak tadi kuarahkan padanya?" Tanyanya begitu gaduh menatapku. "Sekalipun ku tembak kepalanya dan mati. Kutukan dari kertas-kertas itu tidak akan hilang.... Jadi, lebih baik kau dengarkan saja apa maunya!"
Aku diselimuti rasa kebingungan mendengar perkataannya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan... Mengapa aku harus mati? Bukankah aku tidak dalam kendalinya? Apa maksudmu?"
"Misya, apa kau belum mengerti juga. He he he..." Jara yang berdiri sekitar sepuluh meter dari kami menyela pertanyaan ku. "Sejujurnya aku sangat salut dengan rekan mu itu!" Dia menunjuk Nanda yang masih sigap dengan pistolnya. "Karena dia mampu membuat permainan ini semakin menarik..., baiklah sebelum aku pergi... aku akan menjelaskan sedikit padamu apa yang sebenarnya terjadi. Kau tahu apa yang terjadi pada pria ini?'' Dia menggeser telunjuknya pada Riko. "Pria ini akan benar-benar mati jika kau atau rekanmu mendekati ku. Kau tahu maksudku... kepalanya akan bolong karena pistol yang kau siapkan. Bukan begitu?''
Aku hanya mengerang diam mencoba memikirkan cara menyelamatkan Riko kemudian menangkapnya.
"Kalau kau berpikir ingin menyelamatkan rekan mu ini kemudian menangkap ku. Aku beritahu saja... itu mustahil!"
"Mustahil? Percaya diri sekali? Kau pikir kami akan membiarkanmu pergi begitu saja? Yang terpenting lagi kau jangan sok tahu apa yang sedang kupikirkan!''
"Hahaha.... Tentu saja aku tahu...." Tawanya menggelegar kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas yang ada di punggungnya. "Ini!"
"Buku? Siapa yang peduli dengan itu!" Dia mengeluarkan buku tebal milik Amelia Earhart. Hanya saja warnanya berbeda. "Apa? Jangan bilang itu...''
__ADS_1
"Akhirnya kau mengerti juga? Benar... Kau adalah karya yang kelima dari buku yang kubuat," jawabnya tersenyum.