SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
PENGHALANG


__ADS_3

Apa yang sebenarnya yang ingin dikatakannya? Kata-kata itu terus berulang dalam batinku. Apa yang sebenarnya yang  terjadi di luar sana. Sehingga aku bisa tertuduh seperti ini. Kepalaku terus mengingat semua yang aku lakukan kemarin ketika berada di taman, tapi tak satupun jawaban yang terpikirkan, mengapa bisa aku dituding sebagai Jara.


Mereka semua, apa yang mereka lakukan sekarang? Aku teringat kepada komandan dan tim.


Mungkin saja mereka sedang memeriksa Andi yang terbunuh secara mengenaskan di rumahnya. Aku bisa membayangkan apa yang terjadi pada Andi walaupun tidak melihatnya. Itu semua karena catatan neraka ini.


Siapa yang bisa menyangka bahwa di dunia ini ada kekuatan seperti itu. Sebuah kekuatan yang bisa mengendalikan seseorang bahkan kematiannya. Semua bisa dicatat detail tanpa meleset sedikit pun. Kau bisa saja menentukan kematian seseorang hanya dengan darah yang kau dapatkan.


Sudah berapa banyak yang menjadi korban dalam kasus ini, paling tidaknya tiga orang mati tepat di depan mataku. Lalu Andi orang yang keempat walaupun tidak secara langsung aku melihat nya, tapi karena membaca catatan neraka ini, aku bisa membayangkan bagaimana dia mati mengakhiri kehidupannya.


Mataku melihat catatan neraka yang terletak diatas meja. Aku memikirkan sesuatu yang aneh, Bu Kirana, Pria pengganggu siaran dan Andi, ketiganya memiliki catatan neraka pada jasadnya.


“Lalu mengapa LN dan korban yang lain, seperti keponakan pak yandri dan temannya tidak memiliki catatan. Apa ada sesuatu yang terlewatkan” Ucap ku pada Pak Bisco.


“Saya tidak ingin membahas itu.’’ Sanggah pak Bisco padaku.


Aku menghela nafas panjang. “Pak!’’


Pak Bisco masih bersikeras ingin menceritakan mengapa dia mencurigai ku sebagai Jara. 


Dia terus menerus mencari celah pada jawabanku. Sehingga tidak mendengarkan apapun yang aku sampaikan padanya, sekalipun itu informasi penting yang aku dapatkan mengenai catatan terkutuk ini.


“Pada operasi ini!. Mengapa kau memberikan tugas individu kepada Andi?. Bukankah kau dan yang lain bekerja secara berkelompok?’’ Ujarnya.


Pak Bisco menanyakan sesuatu yang aneh. Dia mempertanyakan mengapa aku dan Riko bersama, lalu komandan dan Hana juga bersama, padahal kami semua ada pada satu tempat di studio KTV. Tapi Andi dibiarkan beroperasi sendiri tanpa teman.


Mengapa pertanyaan seperti itu bisa datang darinya. Sungguh menggelikan. 


“Bukankah bapak tadi mengatakan kepadaku, bahwa bapak telah melihat semua track record ku?’’ Cetus Ku sedikit angkuh.


Dia mengangguk pelan.


“Kalau begitu, berarti bapak sudah tahu kalau aku selalu bersama Riko saat bertugas dan Andi selalu bekerja sendiri. Tentu karena Andi memiliki spesialis dalam mencari informasi.’’ Sambung ku.


Tiba-tiba dia tersenyum begitu bahagia, kedua matanya seakan menyipit, seolah memberi kesan bahwa aku terperangkap oleh jebakannya.


“Jadi mengapa saat pergi menemui teman dari keponakan Yandri itu…, kau tidak bersama Riko?. Mengapa kau mengajak Andi?’’

__ADS_1


Aku sudah menduga bahwa dia akan mengatakan itu. Belum sempat bibirku terangkat untuk menjawab pertanyaannya.


Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu dengan sopan. Sebelum kami menjawab, pintu itu sudah terbuka muncul seorang pria yang sangat misterius. Dia berjalan menunduk dengan elegan. Kami berdua menoleh melihat nya.


Siapa dia?. Pria ini tidak pernah aku temui sama sekali. Aku tidak mengenalnya.


Dia pria bertubuh besar dengan setelan jaket berwarna abu-abu dan membawa tas kecil di tangannya, usianya sekitar tiga puluh tahun. Di wajahnya terlihat bekas luka goresan. Alisnya cukup tebal dan ada lesung di pipinya saat dia tersenyum pada komandan.


‘’Oh, kau sudah datang.’’ Sapa komandan dengan nada sopan.


“Ya, Kapten.’’


“Kapten?.” Aku menoleh pada komandan seraya menunjukkan wajah yang penuh dengan pertanyaan.


“Baik, saya akan memperkenalkan siapa dia padamu. Tapi itu nanti.” Sergahnya seakan tahu isi kepalaku.


“Mengenai pertanyaan ku tadi, yang menganggapmu adalah Jara hanyalah bercanda.’’ sambung nya.


Aku tidak menanggapinya dengan serius, tapi aku masih terpaku memikirkan siapa pria ini. Dan mengapa dia datang kemari. Tentu kehadirannya ada kaitannya denganku.


“Baik kalau begitu.” Teriak komandan membuat lamunanku buyar.


“Apa maksud anda Pak?’’ Sanggah Ku padanya.


Pak Bisco tidak menanggapi pertanyaanku. Dia memalingkan wajah dariku melihat kepada pria yang berdiri di sampingku sejak kedatangannya.


Pria misterius itu hanya diam melihatku dengan begitu tajam, tatapan matanya seperti harimau melihat rusa segar di depan matanya. Dia berdiri tidak melontarkan satu katapun.


“Perkenalkan dia Arya, Entahlah… nama dia terlalu banyak hampir setiap saat berganti.’’ Ucap komandan padaku.


Tentu saja, dilihat dari situasinya pria ini adalah orang yang cukup penting dalam urusan pak Bisco. Karena tidak semua bisa hadir mengganggu dalam situasi yang tidak jelas ini. Kepala ku sudah memberi sinyal bahwa pria ini adalah orang istimewa milik pak Bisco. Khususnya dalam masalah kriminal.


“Dia adalah tangan kanan ku, untuk lebih detailnya kau bisa menanyakan padanya saja!. Aku memberinya Misi untuk membuktikan bahwa kau adalah JARA’’ Ucapnya spontan menunjuk ku.


Aku tidak paham apa maksudnya. Dia masih saja menganggap ku Jara. Padahal tadi dia mengatakan itu hanya bercanda. Mendengar pernyataan anehnya itu membuat keningku mengkerut sehingga membuat alisku bertemu satu sama lain.


“Jadi, Misya!, Bawa Jara secepatnya padaku!’’ Tegas komandan dengan wajah menakutkan.

__ADS_1


“Baik pak, dari kemarin aku sudah memasang tekad untuk menangkapnya.’’Paparku membuatnya tersenyum. 


Aku belum bisa memahami rencana Komisaris Jenderal ini. Dia ingin aku menangkap Jara padanya, lalu disisi lain, dia menyuruh ajudan istimewanya untuk mencari bukti bahwa aku adalah Jara.


“Dengan segala hormat. Pak, hentikanlah omong kosong ini. Akan lebih baik kami bekerja sama mencarinya.’’ Cetus ku menunduk.


“Kalau begitu, semoga kalian bisa akrab.’’ Ucap pak Bisco berdiri.


Aku mendongak setelah mendengar suara kursi yang bergeser. Mataku tersorot ke arah pria misterius yang dari tadi berdiri di sampingku.


Pria misterius itu melangkah mendekati pak Bisco berbisik pelan kearah telinganya. Aku melihat bibirnya mengatakan dengan jelas. Tugas apa yang akan saya selesaikan.


“Oh, Aku ingin kau mencari bukti bahwa gadis ini adalah JARA.’’ Pak Bisco menunjuk ku yang masih duduk terikat oleh borgol.


Pria misterius itu mengangguk menuruti perintahnya.


“Kalau begitu, kalian berdua silahkan berburu JARA.’’ Ucapnya lalu melangkah pergi keluar meninggalkan ku bersama dengan pria misterius di dalam ruangan interogasi yang suram ini.


Yang benar saja, Komisaris Jenderal itu masih saja menganggap ku Jara, lalu pergi begitu saja meninggalkan ku disini.


Apakah dia ingin aku memburu kriminal, tapi disisi lain aku terus diawasi karena juga tertuduh sebagai kriminal.


Aku menoleh melihat pria misterius itu.


“Oi, dilihat dari tampang mu, sepertinya kau bisa membuka borgol ini!’’ Seru ku padanya yang melangkah ingin duduk.


“Apakah kau tuli?, tugasku adalah mencari bukti bahwa kau adalah Jara.” Ketus nya.


“Lalu…, apa maksudmu?”


“Huh…, Aku tidak punya kewajiban untuk membuka itu!’’ sambung nya menunjuk pergelangan tanganku yang di borgol.


Yang benar saja, kesan pertama ku dengan nya seperti ini. Aku menghela nafas “sepertinya orang ini tidak bisa diharapkan.’’


Dia tidak menanggapi, hanya menunjukkan wajah batunya yang begitu menjengkelkan.


“Kalau begitu, interogasi kita mulai!’’ Bentak nya membuat ku terkejut.

__ADS_1


Next..


__ADS_2