SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
PERTEMUAN ANDI 3


__ADS_3

Benar…


“Pelakunya adalah kau… Sersan Reno!”


Nampak kecemasan di wajah Reno, dia terlihat gelisah terlihat ingin membantah.


“Sersan Reno itu bawahan ku, tahu!’’ Kekeh pimpinan bodoh itu, anggap ku keliru.


“Sersan Reno adalah pelaku yang membunuh korban.’’ Tegas ku.


Pimpinan bodoh yang berdiri di belakangku itu begitu gusar tidak terima. “Jangan bercanda! Lagi pula, tidak mungkin pelakunya ada disini!’’


Aku mendesah menghela nafas. “Namanya juga pelaku, ingin berada di TKP yang tak terpikirkan. Selain itu, bukannya sudah kubilang?” Aku berbalik badan menghadapnya. “Aku bisa tahu saat pelaku sedang berbohong.’’


Aku melangkah mundur berdiri tepat di tengah, diantara Pak Fatah dan Reno. Aku memberi sinyal kepada Riko yang berdiri di depanku. dan Riko mengangguk paham menerima kode yang kuberikan.


“Oi, Reno berikan Pistol mu!” Bentak ku.


“Ja-Jangan bercanda!” Sanggahnya terbata-bata. “Kalau polisi menyerahkan senjatanya kepada orang lain, itu melanggar aturan pemerintah.” Tegasnya.


“Kupikir kau berbicara serius. Ternyata…, detektif yang katanya sangat hebat itu bisanya ngomong doang.”Sanggah pak Fatah menatapku remeh.


“Jika pistolnya diselidiki dan tak ada bukti apapun, ku akui kalau aku bisanya cuma ngomong doang.” Balasku tersenyum padanya.


“Aku sudah kenyang dengan ocehan mu itu!’’ Ledeknya.


“Oi, Reno!..., berikan pistol mu!” Perintahnya


“Tapi…”


“Kita hentikan ocehannya sampai disini. Kalau dia salah, nanti juga bakal pulang dengan malu.” Dia menghela nafas. “Sudah cukup buang-buang waktunya! perlihatkan pistol mu padanya!”


Aku melihat Reno yang menunduk murung.


“Oi, kenapa, Reno!” Teriak pak Fatah.


“Sekalipun kita berada di kota, mendapatkan peluru cadangan bagi seorang pemula, bukanlah hal yang mudah, bahkan lebih sulit daripada tunduk pada aturan pemerintah.”


“Kenapa kau diam saja, Reno?’’ Pak Fatah sedikit gusar.


“Saat ini, dia sedang berpikir tentang tiga peluru yang telah digunakan, dan bagaimana menjelaskannya padaku.”


Aku melihatnya terkejut setelah mendengar kata-kataku yang menerka isi kepalanya.


“Reno!” Bentak pak Fatah pada bawahannya itu.


“Kau bukanlah pelaku, cepat perlihatkan pistol mu!’’


Dia hanya menunduk menatap tanah, membeku terdiam, pelan-pelan dia mengambil pistol yang melekat pada pinggangnya.


Kedua bola mata ku terbelalak ketika dia mengarahkan muncung pistolnya kepadaku.


Dor… Tembakannya, meleset ke atas.


Belum sempat dia menarik pelatuknya kearah ku, Riko dengan sigap bak kilat melompat ke arahnya, tubuh besar Riko membuatnya jatuh tersungkur menengadah ke langit.


Sersan Reno berteriak kesakitan saat Riko membalikkan paksa dan menekan tubuhnya. Mendengar suara letusan pistol, Polisi yang berjaga di sekitar sungai datang berkumpul melihatnya.


Reno yang terkunci di tanah berteriak keras. “ Lepaskan!, Ini semua tidak ada kaitannya denganku!’’ Bantah nya kesakitan.


Aku melangkah santai ke depan wajahnya yang menempel di tanah.


“Percuma saja” Ucap ku.


Reno mendongak menatap ku.

__ADS_1


“Pembunuhannya terjadi kemarin pagi, tempatnya di bengkel kapal yang tak terpakai, 140 meter dari sini.


“Kenapa bisa tahu?’’ Kata-katanya lirih.


Aku jongkok mendekatinya. “Kalau kesana, harusnya bisa menemukan jejakmu dan si korban. Selain itu, noda darahnya juga kemungkinan belum hilang.” Jelas ku menatap nya yang tercengang.


“Kenapa bisa, seharusnya tidak ketahuan.” Ucapnya terbata-bata.


“Penjelasannya nanti saja di kantor!” Bentak pak Fatah mengeluarkan borgol dari sakunya. “Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhirmu bekerja!’’ Lanjutnya.


Setelah kejadian di pinggir sungai, kami semua beranjak pergi ke kantor polda untuk mendengarkan lebih lanjut penjelasan, Sersan Reno.


Sebelum aku menaiki mobil bersama Riko aku menemui Andi untuk memberi tahu tujuanku kemari untuk menjemputnya. Dan dia menolaknya.


Aku serta pak Fatah memasuki ruangan interogasi, Riko dan Andi menunggu di luar tidak ikut masuk kedalam ruangan. Aku menyuruh Riko agar membujuk Andi sampai mau.


Ruangan kosong yang diterangi lampu kuning yang menyorot meja yang berada di bawahnya. Mataku tersorot tajam memandang Reno yang menunduk terborgol duduk di kursi. Aku berdiri di belakang pak Fatah yang sedang duduk di hadapan Reno.


“Aku tidak berniat menembaknya.” Terang nya membela diri.


Kami berdua menoleh ke arahnya. Mendengarkan penjelasannya.


“Dia… tengah menyelidiki kasus anggota dewan yang korupsi. Lalu dia telah menemukan barang bukti… yang bisa mengungkap korupsinya. Tapi anggota dewan itu juga cerdas, menggunakan polisi untuk mata-mata melenyapkan barang buktinya.” Paparnya.


Aku menyipitkan mata memahami mengapa dia melakukannya. “Dan mata-matanya itu kau, bukan begitu?’’ Kilah ku bertanya.


Dia geram mengepal kedua tangannya diatas meja. “Sejak dulu, aku selalu ingin menjadi polisi. Tapi aku gagal tes masuk sampai tiga kali,” Ucapnya dengan mata berbinar. “Dan disaat itulah ada seseorang yang mengatakan padaku. Apa kau benar-benar ingin menjadi polisi?’’ Lanjut nya begitu kesal.


“Lalu, saat aku telah resmi menjadi anggota polisi berkat bantuannya, perintahnya kupatuhi semuanya sebagai imbalan padanya.” Setelah diam sejenak dia melanjutkan.


Aku terkejut mendengar pak Fatah memukul meja dengan tangannya.


“Jadi kau, sebagai anjingnya! Lalu membunuh Reva?’’ Bentak pak Fatah keras sekali.


Reno menghela nafas menunduk. “Tapi… dia tetap bersikukuh menolaknya, dengan percaya diri dia ingin menyerahkan bukti itu kepada jaksa!”


“Lalu kau menembaknya?’’ Potongku.


Dia menatapku tajam. “Tidak…, aku hanya menodongkan tembak padanya, dia mengatakan kalau aku tidak akan bisa menembaknya.”


Aku melihat jam yang melingkar di tangan Reno sudah menunjukkan pukul 04.35 Sore.


“Tentu saja.” Aku kembali memotong pembicaraannya.


Pak Fatah menatapku kebingungan.


“Benar…, Aku menggunakan cara yang berbeda, aku menempelkan pistol ke kepalaku mengancamnya. Lalu melihat itu…” Wajah Reno begitu kesal. “Reva berlari begitu cepat menghampiri ku, mencoba mencegah tembakan itu.’’


Kami menghela nafas mendengarnya.


“Sungguh bodoh, aku tidak sadar kalau sudah menarik pelatuk tepat di bagian dadanya. Aku sangat panik melihatnya terkapar di tanah, aku tidak tahu apa yang terjadi.”


“Kalau hal itu terungkap, kau akan menjadi seorang pembunuh, dan akan di pecat dari kepolisian.” Jelas ku menatapnya.


Dia membalas tatapanku.


“Saat panik, kau berpikir hanya ada satu orang yang bisa membantumu bukan?. Saat menelpon si anggota dewan dan dia memberitahu agar terlepas dari masalah ini. Dan sesuai perintahnya, kau menembakkan lagi dua kali ke dada korban, agar terlihat seperti ulah mafia.”


Aku menghela nafas sejenak. “Untuk membuang waktu polisi, mayatnya kau hanyutkan ke sungai. Apakah anggota dewan mengatakan seperti itu padamu?”


Sersan Reno hanya kesal menunduk tidak menanggapi.


“Dimana barang bukti yang diperoleh Reva?’’ Bentak pak Fatah. “Oi, Reno!, Serahkan!”


Dia tidak menanggapi perkataan pimpinannya itu.

__ADS_1


“Hei, Reno.” Aku melangkah kebelakangnya. “Biar ku tebak kata-kata terakhir yang diucapkannya.”


“Maafkan aku, bukan?’’ Bisikku pelan di telinganya.


“Kau benar…” Ucap nya meringis di atas meja. “Kau bisa tahu semuanya, ya.”


Aku melangkah menatap keluar jendela, melihat matahari yang sudah menguning.


“Barang buktinya ada di laci meja kerjaku.” Imbuh nya pasrah.


Setelah Reno mengakui kesalahannya, Pak Fatah mengucapkan terima kasih sekaligus permohonan maaf karena meragukan ku. Setelah aku memberitahu tujuan sebenarnya, Aku meninggalkan mereka untuk menemui Riko yang bersama dengan Andi.


“Bagaimana?’’ Ucap ku pada Riko.


Dia hanya menatap Andi.


“Baik, saya akan ikut bersama anda” Ucap Andi.


Aku tersenyum lebar menyambutnya.


“Tapi senior…Bagaimana Anda bisa mengetahui kalau dia, Pelakunya.” Sanggahnya dengan wajah penasaran.


“Benar, tidak kusangka kau mengetahui semuanya.’’ Sambung Riko penasaran.


“Tentang kasus tadi, ya. Itu mudah saja.” Balasku tertawa.


“Apakah kau tidak menyadarinya, Andi?’’ Tanya ku.


Dia hanya menggeleng.


“Tadi Sersan Reno bilang, Sampai di tembak lagi dua kali hanya untuk itu? Bukan?’’ Andi mengangguk.


“Siapapun yang melihat orang ditembak tiga kali, maksudku, Dengan adanya tiga luka tembakan di tubuh korban, orang normal akan mengira korban mati karena ditembak tiga kali . Dor, Dor, Dor dan mati.”


“Oh…”


“Dengan kata lain, dia sudah tahu kalau tembakan pertama sudah membunuh korban. Padahal belum diotopsi, tapi kenapa dia sudah tahu?”


“Karena hanya pelaku yang mengetahui nya.Ya?” Andi memahami ilustrasi yang kubuat. “Tapi, anda bisa tahu kejadian pembunuhannya, kan? kemarin pagi.’’


“Itu karena tubuh korban masih dalam keadaan bagus, aku hanya mengasumsikan, tubuh korban hanyut paling lama satu hari.” Aku bersandar di mobil. “Kemarin hari Selasa, hari kerja. Tapi si korban memakai pakaian santai dan tidak menggunakan riasan wajah. Detektif yang selalu bekerja hingga larut malam, tidak akan berpakaian santai seperti itu di hari kerja. Berdasarkan itulah, kesimpulan yang terakhir didapat. Dia mati di pagi hari.”


“Jadi begitu, lalu bagaimana anda mengetahui kata-kata terakhirnya?”


“Oh, kalau itu…” Aku menghela nafas. “Pak Fatah tadi mengatakan bahwa wanita itu tidak memiliki hubungan dengan siapapun. Tapi jam tangan miliknya adalah barang bermerek. Itu bukanlah barang yang bisa dibeli oleh wanita lajang sepertinya. Dari situ aku menganggap pembunuhnya pasti bukan perampok.” Jelas ku.


“Oh, Kalau dia dirampok pasti jam mahal itu diambil ya?’’ Imbuh Andi.


“Bukqn itu maksudku..., selain itu, jam tangan milik Sersan Reno adalah model yang sama.”


“Itu artinya mereka…” Tanggap Andi.


“Pasti, Korban pergi menemuinya pagi-pagi dan keluar tanpa memakai riasan wajah. Dari jam tangan mereka yang bermerek samalah, aku mengetahui mereka berpacaran.”


“Itulah sebabnya wanita itu mengatakan. Maafkan Aku. Ya?’’ Ucap Riko memahami.


“Tentu, karena itulah, si pelaku tidak tega menendang kepala korban. Dia hanya menembakkan tiga peluru saja. Meskipun Sersan Reno sangat tahu kalau yang dilakukannya tidak sama dengan metode Mafia.”


Aku mendesah letih. “Kira-kira seperti itu.”


“Lalu lokasinya darimana kau tahu?” Bentak Riko melangkah ke mobil.


“Oh, sebenarnya, kemarin aku kan pergi bersama Kana melihat kota Pekanbaru ini, tak sengaja aku melihat mereka di bengkel kapal itu.” Kekeh ku masuk kedalam mobil.


“Hah….”

__ADS_1


__ADS_2