SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
MANIPULASI


__ADS_3

''Aku tidak bisa menunjukkan catatan itu langsung karena pimpinan sudah menyimpan semuanya,'' jawab Nanda memancing.


''Aku masih mengingat setiap detailnya.'' Aku menjawab yakin.


''Ada sebuah teori,'' Nanda menempelkan kepalan tangannya di bibir. ''Jika kau ingin berbohong bumbui sedikit fakta didalamnya agar kata-katamu terasa nyata. Cara itu bisa kita lihat dilakukan oleh politisi-politisi. Ya, kau tidak akan menyadari bahwa ucapan mereka hanya omong kosong belaka, penuh manipulasi. Dan teori tersebut juga dipakai oleh Jara dalam catatan-catatan kutukannya. Kau bisa lihat, mungkin sampai sekarang kau masih berpikir apa yang tertulis di catatan milik ibu Kirana adalah nyata bukan?''


''Tentu, bukankah sudah jelas semua informasi  terbuka karena catatan itu? Kau juga bisa mendapatkan cara Jara membunuh, Kelemahan Jara dan luka yang didapatkan ibu itu dari sana? Lalu kau ingin mengatakan bahwa tulisan itu tipuan?'' Aku menyanggahnya tidak terima.


''Memang benar. Oleh sebab itulah kalian semua menari diatas panggung yang dibuatnya. Kalian melahap racun yang disajikannya. Aku akan jelaskan terlebih dahulu.... Satu hal yang kukagumi dari Jara. Manipulasi!''


''Manipulasi?'' Riko menyela ditengah penjelasannya.


''Ya, manipulasi. Satu-satunya yang membuat rencananya berjalan dengan mulus adalah kemampuannya dalam memanipulasi korban. Catatan itulah bukti nyatanya.''


''Aku masih tidak mengerti,'' potong ku.


''Apa yang kau pikirkan jika bagian ibu Kirana yang bertemu dengan pesulap dipotong?''


''Justru itu semakin membuat aku tidak menemukan apa-apa. Karena poin penting yang kucari, bagaimana dia bisa mati dengan cara seperti itu. Dan itu didapatkan dari bagian pesulap itu!''


''Yup... Benar. Disitulah manipulatif nya. Dengarkan! Karena kau hanya berpikir pada bagian pesulap itu sehingga menghilangkan bagian penting sesungguhnya. Perbedaan yang kita lakukan adalah kau sangat terobsesi dengan pesulap itu, sedangkan aku pokus pada kegiatan di rumah itu. Aku akan menjelaskan lebih perlahan. Begini, apa yang membuatmu pergi mencari teman Keponakan pak Yandri itu?''


''Ya, karena di catatan itu tertulis pak Yandri mendapatkan musibah saat ibu Kirana bertemu dengan pesulap... Ya, bertepatan pada hari itu.


''Dan kau menduga darahnya didapatkan pada hari itu?''


''Ya?''


''Oleh sebab itulah kau pergi mencari teman Keponakan pak Yandri itu sehingga kutukan mu berjalan sesuai dengan keinginannya.''


Aku terdiam sejenak setelah dia menjawab. ''Maksudmu, ibu itu juga dikendalikan sama seperti aku dan Amelia?''


''No, no, no. Bukan, Maksudku dia juga sudah disiapkan dari jauh hari. Aku tahu mengapa saat itu kau memutuskan darahnya keluar dari tangan. Karena kau melihat jarinya dibalut oleh penutup luka kan?''


''Ya.''


''Aku juga akan berpikir hal yang sama jika di posisi mu. Tapi, coba kita ubah posisimu!'' Seandainya yang di posisimu adalah Riko dan kau sudah tahu dia dalam pengaruh Jara. Apa kau masih akan berpikir seperti itu?''


''Jelas tidak, aku akan menganggap semua itu adalah jembatan untuk rencananya.''

__ADS_1


''Kenapa?'' tanya Riko.


''Jelas saja, kalau aku sudah tahu dirimu dikendalikannya, aku tidak akan mengikuti apapun yang kau katakan,'' terang ku.


''Sekalipun terdengar sedikit egois, aku setuju. Begini, Aku akan ulang kembali, saat manusia bertemu yang pertama kali muncul di kepalanya adalah penampilan. Itulah dasar psikologis manusia, rasa nomor dua. Keinginan kepala yang pertama harus dipenuhi. Bukan tanpa alasan aku selalu mengulang kata-kata ini... Saat membaca catatan itu kau bisa membuktikan pesulap itu benar-benar ada?''


Aku hanya menggeleng.


''Jadi, kau hanya mengasumsikan itu terjadi karena itu berkaitan?'' Nanda memastikan.


''Ya, Seandainya aku tidak mendapatkan masalah seperti kematian Andi lalu kematian wanita selebgram itu. Mungkin aku akan pergi mencari pesulap itu untuk memastikan kebenarannya.''


''Kalau begitu, kau memutuskan pesulap itu benar karena kejadian sesudahnya juga benar terjadi?''


''Ya.'' Aku mengangkat tangan untuk menahan penjelasannya. ''Aku akhirnya mengerti mengapa kau mengatakan campurkan sedikit fakta agar kebohongan menjadi nyata. Tapi, apa buktinya kalau pesulap itu tipuan?''


''Kau selalu bekerja mengikuti instruksi pertama. Sedangkan aku memikirkan kemungkinan yang lain. Cara kita memperhatikan setiap petunjuk akan membawa kita pada titik tertentu. Kasus yang sedang kita hadapi bukanlah kasus yang terjadi secara kebetulan... Semuanya sudah tersusun dengan rapi. Aku sudah katakan padamu dari awal catatan kutukannya hanya akan akan terjadi jika sesuai, sekalipun pesulap itu benar-benar ada, itu bukanlah sesuatu yang penting untuk diperhatikan,'' Nanda mengangkat jari telunjuknya. ''Mengapa ciri-ciri mu tertulis di catatan itu? Itu yang paling penting!''


''Aku mengingatnya,'' celetuk Riko.


''Kau tidak menyadari itu? Menurutmu bagaimana mungkin seseorang bisa menuliskan itu jika dia tidak pernah melihatmu.''


''Apakah sebuah kebetulan kau yang datang menemui Nayla di panti asuhan itu?''


''Maksudmu aku pergi kesana karena sudah dikendalikannya? Aku bisa menerima jawaban itu sekarang. Tapi, kau mengetahui itu sebelum semuanya terpecahkan. Aku butuh alasan mengapa kau berpikir demikian.''


''Kau benar, bagaimanapun itu sesuatu yang janggal dan harus memiliki jawaban. Maksudku itu bukan sekedar....'' Nanda menurunkan tempo suaranya. ''Begini, saat berita Lisdia Ningsih ditemukan tewas apa yang kau lakukan?''


''Aku sedang bertugas,'' Aku langsung menerka arah pembicaraannya. ''Ya, aku memang dipinta  untuk menyidik asisten itu. Dan aku menolaknya, karena aku cukup sibuk.''


''Bukan itu poin yang ingin kukatakan... mengapa kau menyuruh Hana yang mengurusnya?''


''Hana? Aku tidak tahu, apakah Hana juga korban seperti ku?''


''Aku akan membawa mu sedikit jauh kebelakang... Untuk memastikan semua asumsi yang ku bangun benar, aku butuh sebuah jawaban...'' Nanda menghentikan kata-katanya.


''Apa?'' sela ku tidak sabar.


''Lisdia Ningsih, korban pertama yang ditemukan. Kemudian wanita panti, pria di stasiun televisi dan terakhir Andi, ketiga korban ditemukan memiliki catatan... kalau kau memang dalam pengaruh Jara dimana catatan mu?''

__ADS_1


''Ya, aku juga ingin menanyakan itu sebenarnya.''


''Awalnya aku sempat ragu dengan keputusan yang menganggap kau di bawah kendalinya. Tapi,  terbit di kepalaku kemungkinan yang lain... Apa mungkin catatan itu akan muncul setelah kematian korban?''


''Kau menemukan jawabannya?''


''Ya, sekalipun keliru, berkat pertanyaan itu aku berhasil menemukan kunci yang sengaja dihilangkan Jara... catatan Lisdia Ningsih! Jara sengaja menghilangkan kunci itu... lebih tepatnya dia menyembunyikannya... berkat kunci itu aku sudah bisa masuk kedalam ruangan yang dibangun oleh Jara...''


''Kau sudah menemukannya? Sejak kapan?''


''Hanalah jawabannya! Kau dikendalikan untuk menyuruh Hana kesana... Aku sudah bertanya kepada saksi yang melihat tewasnya Lisdia Ningsih, dia mengatakan tidak melihat tulisan Jara di kamar mandi itu...''


''Tulisan itu ada di balik pintu, wajar saja dia tidak melihatnya?'' kilah Riko yang juga ada disana bersama dengan Hana.


''Pasti yang pertama kali memeriksa Lisdia Ningsih Hana bukan?''


''Ya, ya. Aku dan Surya saat itu berbicara dengan salah satu pengurus disana,'' terang Riko.


''Kau menanyakan itu kepada Surya?'' Aku bertanya.


Nanda menganggukan kepalanya cepat. ''Darah yang digunakan disana memang darah Lisdia Ningsih. Tapi yang menulisnya adalah Hana...''


''Hana?''


''Ya, Hana menjadi juru kunci dalam melancarkan kasus ini, bukankah kau juga yang menyuruh Hana memeriksa bangunan Amelia Earhart ditemukan?'' Aku tidak bisa berkata apa-apa. ''Saat aku mendengar Hana pingsan darimu, aku meminta tim memeriksa tempat tinggalnya, kau tahu apa yang mereka temukan disana? Korek api!''


''Korek api?''


''Korek itu ditemukan masih keadaan utuh, baru dua batang yang digunakan, Hana bukanlah perokok... Aku menduga dia membakarnya.''


''Kau hanya memutuskan hanya karena itu? Yang benar saja!''


''Memang terdengar gila. Tapi, sebenarnya saat dokter memeriksa Hana, mereka menemukan catatan bahwa Hana pernah mendonorkan darah pada seseorang? Memang tidak ada luka pada dirinya... bukan berarti darah hanya bisa keluar dari luka?''


''Dia mendonorkan darah pada siapa?''


''Pada Jara!''


''Bagaimana bisa?''

__ADS_1


''Sudah kukatakan padamu dari awal, semua ini sudah terencana... Jara bukanlah seseorang maniak pembunuh. Dia menyusun semuanya agar terlihat murni.... Kau harus ingat dia bukan hanya mampu membunuh... Tapi, dia juga mampu mengendalikan seseorang! Aku belum mencari tahu bagaimana Hana mendonorkan darahnya pada Jara. Tapi, DNA yang ditemukan sama. Jadi ya begitu...''


__ADS_2