SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
RESTORAN


__ADS_3

Sebelum saya benar-benar dipermainkan seperti boneka, pada suatu malam saya mendapatkan sebuah Email dari perusahaan musik terkenal, ia meminta saya untuk datang ke Jakarta untuk memenuhi kontrak menjadi musisi di bawah naungan mereka. Itulah mimpi saya, mimpi yang sudah lama yang saya dambakan, saya sangat tidak menyangka perkataan sosok itu benar-benar nyata.


Saya dengan senang hati menerima panggilan mereka dan sama sekali tak pernah mempertimbangkan apakah dengan menerimanya akan mendapatkan kesialan seperti ini. Saat itu yang ada di benak saya hanyalah mimpi saya menjadi kenyataan.


Berdasarkan pengetahuan saya mengenai dunia entertainment, ada beberapa syarat yang sebelumnya harus dipenuhi, tapi saat itu saya merasa mereka benar-benar menyukai saya saja, entah mengapa mereka tidak membutuhkan jejak saya selama ini dalam bernyanyi, yang mereka butuhkan hanya data pribadi saja. Mereka benar-benar terpaku dengan suara saya.


Saya Pun mempersiapkan semuanya, segalanya. Untuk pertama kali dalam hidup, saya melupakan Nayla. Satu minggu saya meninggalkan dan tidak memberinya kaba . Entah apa yang saya pikirkan. Pada malam itu saya merasa rancu, saya meminta supir untuk kembali membawa saya kembali ke rumah setidaknya saya harus pamit pada Nayla tapi ia bersikeras menolak.


“Kita tidak punya waktu.” Katanya.


Saya tinggal di Jombang berjarak sekitar 8 jam dari Jakarta, pihak perusahaan meminta supaya tiba di kantor jam 1 siang, mereka mengatakan akan mempertemukan saya dengan produser musik langsung. Wisnu Azra, Produser yang sudah lama saya tahu, banyak sekali musisi terkenal di bawah pimpinannya. Dan sungguh keajaiban saya bisa bekerja dengannya.


Mendengar itu saya pun mengurungkan niat untuk kembali kerumah, saya merasa Nayla akan menerima alasan saya mengapa meninggalkannya. Tentu, itu karena ia sudah mengetahui impian dan tujuan kakaknya bertahan hidup sampai saat ini.


Entah mengapa saya bisa bertemu dengan Pak Wisnu serta Aiko asisten pribadinya, saya tidak sengaja bertemu dengan mereka di rumah sakit. Saat itu ada sebuah kecelakaan yang menimpa saya ketika di perjalanan menuju Jakarta, tidak begitu begitu penting hanya kecelakaan kecil. Sopir yang membawa saya menabrak seorang wanita.


Setelah membicarakan beberapa prosedur kegiatan saya di Jakarta, ia meminta saya agar beristirahat, “Soal wanita itu, biar kami saja yang mengurusnya.” Kata pak Wisnu menenangkan saya yang begitu panik.


“Baik pak.” Saya meninggalkan mereka disana.


Saat saya bercerita dengan mereka, fokus hidup saya hanyalah bernyanyi dan bernyanyi. Sebuah angan-angan menjadi nyata.


Orang mungkin terkejut mendengar kepopuleran saya yang datang tiba-tiba. Saya bukanlah tergolong orang yang berada, kedua orang tua saya sudah meninggal. Ayah saya meninggal saat bekerja di pabrik karena kecelakaan sedangkan ibu saya meninggal saat melahirkan Nayla. Hidup saya sejak hari itu dipenuhi dengan penderitaan.


—-------------------------------------------------------------------------


Dari ratusan halaman catatan neraka milik Amelia, Hanya itu yang dapat aku tulis. Pasti kalian bertanya mengapa?


***

__ADS_1


Jumat, tanggal 06. Hari keenam Amelia menghilang.


Saat beristirahat di sebuah cafe di Bali, aku mencoba menulis catatan neraka milik Amelia dari awal sampai akhir lalu mengcopy nya agar memudahkan penyelidikan. Akan tetapi tanganku seketika berhenti setelah mendengar suara seorang wanita yang begitu lirih seakan menusuk ke telinga.


“Aku tahu kau tidak ingin membunuh wanita yang sedang duduk di depanmu.” Bisik seseorang dari belakangku.


“Jadi, fokus lihat kedepan! Sedikit saja kau memutar kepalamu itu, anak yang duduk di depan mu akan kehilangan ibunya. Kau tahu maksudku, sekali kau menoleh… kau akan membunuhnya.” Kata-katanya itu membuatku berhenti menoleh.


Tiga jam yang lalu…


Setelah melihat bagian terakhir dari catatan Amelia, aku segera bergegas meninggalkan hotel. Berulang kali aku menelpon Nanda untuk memberi tahu bencana yang terjadi, namun tidak kunjung diangkat.


“Aku tidak bisa pulang sekarang, aku harus mencari kurir itu, harus…” Aku bercakap-cakap sendiri di tepi jalan.


Setelah berkeliling menyusuri jalan, sama sekali aku tidak menemukan petunjuk yang berarti yang mengarah pada kurir itu.


Aku terus mencoba menelpon Nanda, namun tidak kunjung diangkat. “Apa yang dilakukan si bodoh itu.” Aku menggerutu seperti orang yang hilang kendali.


Aku kembali berjalan menyusuri jalanan, aku merasa harus pergi ketempat yang sepi, sebuah tempat yang bisa membuatku tenang. Aku melewati Toko daging Jo dan Kuil kemudian mendapati dua bangunan tradisional.


Satu pikiran membawa ke pikiran lain, dan teringat sebuah baris dari buku Nayla. Egois. Aku menghafalnya saat pertama kali membacanya.


“Nak, kau pernah mendengar cerita dua serigala?” Seorang kakek bertanya pada cucunya.


Cucu itu hanya terdiam mendengarkan buih dari sang kakek.


“Sepertinya belum ya? Ada dua serigala yang terus-menerus berperang dalam diri seseorang, yang satu adalah keburukan, ia adalah kebencian, ego, ingin menang sendiri, iri dan dengki. Yang lain adalah kebaikan, ia adalah tabah, harapan, berbagi bersama dan empati. Apa kau tahu serigala mana yang menang dalam peperangan yang terjadi?” Sang kakek tersenyum melihat cucunya yang kebingungan. dan si kakek menutup dengan kata. “ Serigala yang kau beri makan.”


Aku berjalan perlahan-lahan kemudian terhenti di depan sebuah cafe. Aku butuh istirahat sebentar. Aku mendongak membaca EL-Coffe terpampang di pintu.

__ADS_1


“Halo komandan…” Aku memutuskan menelponnya.


Setelah mengingat kisah pada buku Nayla itu, aku membuang sifat yang selalu ingin menang sendiri. Sebuah sifat buruk yang sejak dahulu sudah tertanam kokoh dalam diri ini. Aku merasa yang harus menemukan Amelia adalah aku, bukan orang lain.


“Misya…,” jawab komandan di ujung sambungan. sepertinya dia sedang sibuk, terdengar suara beberapa orang di ruangan.


“Apa yang terjadi? Kau ada dimana? Kau baik-baik saja?” Dia menyemburkan pertanyaaan hampir tak berhenti.


“Aku merasa sakit komandan,” jawabku dengan hembusan nafas, suaraku melemah. Kemudian setelah jeda sesaat, aku berkata. “Aku rasa aku sekarat komandan… Aku tidak tahu mengapa…”


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau ada dimana?’’


“Jombang, Jalan Filsuf, komandan silahkan memutar jalan sesudah lampu merah, anda akan menemukan gang kecil disana. Itu adalah sebuah jalan menuju pedesaan yang sudah lama ditinggalkan…” Aku menghela nafas panjang sejenak. “Ada bangunan lama di sana… Mungkin Hana mampu menemukannya,”


“Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan disana?’’ Erang suaranya sedikit meninggi.


“Bu-bukan komandan… itu adalah lokasi Amelia.”


“Amelia? Oi, apa kau baik-baik saja.”


“Aku sedang di Bali menghadiri resepsi kakakku… Komandan, sesudah pulang aku akan menceritakan semuanya, aku butuh istirahat sebentar. Aku sudah mengatakan lokasinya di mana, jadi komandan, aku akan langsung datang kesana sesudah istirahat.”


“Aku tidak paham maksudmu?’’


“Komandan… tidak perlu memahaminya, yang komandan harus lakukan sebenarnya adalah pergi memeriksanya kesana. Hanya itu, sesudah itu… tanpa dijelaskan sekalipun komandan pasti akan memahaminya.”


“Misya!” Bentaknya.


“Komandan! Amelia tangannya terpotong… bagian kanan dan kiri, da-dan… kaki kanannya sengaja tidak dipotong oleh Jara karena alat pemotongnya rusak saat memotong kepalanya…” Aku menjelaskan dengan suara tersedat-sedat dan mengeluarkan air mata. “Jadi komandan, anda pasti tahu apa yang sudah terjadi, komandan, aku baik-baik saja, jadi begitulah.” Aku memutuskan panggilan.

__ADS_1


__ADS_2