SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
TEKA-TEKI


__ADS_3

Tak beberapa lama setelah aku berpikir sejenak, terdengar hentakan kaki beradu dengan anak tangga. Nanda sama sekali tidak bergeming. Aku sangat yakin kalau dia juga mendengarnya. Kedua mataku yang menunggu seketika jatuh melihat pelayanan wanita yang membawa makanan dan minuman. Aku langsung terperanjat pada Nanda yang tiba-tiba senyum menjengkelkan. Pantas saja dia tidak bergeming.


"Ada apa?" tanyanya setelah kedua pelayan selesai meletakkan empat gelas Macha ice dan tiga piring otak-otak berukuran lima belas sentimeter.


''Kau memesan minuman untuk kami? Huh..., yang benar saja." ketus ku. Bagaimana mungkin seorang mengajak orang lain bertemu di cafe kemudian menentukan pesanan orang lain.


''Apa salah? Minuman itu tidak sesuai dengan seleramu ya?'' Nanda menggeser pandangannya pada Nayla. ''Kau akan memesan ini juga kan?''


Nayla tersenyum tipis menanggapinya. Namun tidak bagiku. Pria ini sangat aneh, bisa-bisanya dia menentukan pesanan orang lain. Belum sempat aku membantah. Nanda kembali berbicara. ''Aku tahu kalian sudah makan kan?Jadi, aku sengaja memesan makanan ini sebagai cemilan.... tapi, kalau kalian masih mau yang lain, pesan saja. Aku tidak keberatan, pesan saja hari ini aku yang bayar.''


''Kalau begitu....'' Nada suara ku yang sedikit terangkat seketika terputus. Seorang pria berkaos putih berjalan melangkah dari tangga. Tangan kirinya berbalut perban. Mataku tidak bisa berpaling darinya.


''Oh, kau sudah datang? silahkan duduk,'' ucap Nanda.


Pria itu sama sekali tidak bergeming. Dia hanya menatap wajah kami bergantian setelah menarik kursi.


''Riko, bagaimana keadaanmu?'' tanya ku. Setelah kejadian hari itu, kabar Riko dan Hana tidak lagi terdengar. Entah apa yang dilakukan atasan pada mereka.


''Sehat,'' jawabnya datar.


Kedua mataku masih menunggu seseorang lagi yang akan muncul dari lorong tangga itu.


''Kau menunggu siapa?'' kejut Riko. ''Dia tidak akan kemari.'' Dia menatapku tajam. ''Bagaimana denganmu?'' sambungnya.


Sangat jelas terlihat, sifat dan raut wajahnya sudah berubah. Tidak seperti biasanya. Hanya satu yang masih melekat. Terlambat.


''Ya, baik... setidaknya untuk saat ini. Untuk kedepannya aku masih belum mengetahuinya.''


''Oh ya? Tidak seperti biasanya?''


''Apa maksudmu?''


''Maksud dia, biasanya kau pasti tahu semuanya,


Tapi mengapa saat ini tidak! Sudah, sudah itu perlu digaduhkan!'' potong Nanda menatap Riko. ''Tujuan ku memanggil kalian kemari untuk menjelaskan semuanya, kejadian-kejadian yang sebenarnya menimpa kalian,'' Nanda menarik nafasnya panjang. ''Mungkin ini akan menjadi hari terakhir kita bertemu, mulai besok aku akan kembali bertugas seperti biasa, seperti yang kalian tahu.... Menghilang bersama bayang-bayang.''


Aku yang tadinya ingin membantah pernyataan Riko langsung mengurungkan niat untuk memperpanjangnya. Aku sampai lupa kalau Nanda salah satu anggota organisasi itu. ''Jadi itu alasannya kau memesan semua ini?''


''Ya,'' sahutnya sambil tersenyum. Tidak seperti biasanya. Beberapa pertemuan terakhir anggota Gagak Hitam ini mulai terbiasa tersenyum, sekalipun itu menjengkelkan.


''Kau benar, aku memang belum pernah nongkrong, apalagi bersantai bersama orang asing seperti hari ini, aku tidak mengenal sebutan teman sahabat atau apalah itu, dari kecil kami semua sudah hidup sendiri, mandiri. Kami memang sengaja dibentuk menjadi seperti ini. Tidak memiliki ikatan. Tapi, setelah berbaur dengan kalian aku sedikit merasakan sesuatu yang berbeda, entah apa sebutannya, aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Yang jelas ada dorongan untuk bercerita, ya.. mereka mengatakan Curhat,'' Nanda memangku dagunya. ''Pertama kali aku bersantai seperti ini, ya bersama dengan kalian. Dan aku juga berencana menutup kesantaian ini dengan kalian. Aku tidak tahu akan ada kesempatan seperti ini lagi,'' Nanda menatap ku karena aku memotong kata-katanya.


''Jujur, aku tidak menyangka kata-kata itu keluar darimu? Lain kali kau boleh menghubungi kami semua. Jika kau mau? Ya sekedar reuni.''


''Oh ya?''


''Ya. Tentu.'' Aku mengangguk.


''Sudah sampai mana tadi?'' celetuk Riko yang sudah menghabiskan minuman di gelasnya.


''Hei bocah, kukira kau sudah berubah? Sikap dan penampilanmu yang sok cool itu ternyata tipuan ya?'' balasku.

__ADS_1


''Justru aku sudah tahu sebelum dia datang,'' tambah Nanda.


''Terlambat!'' Suara kami kompak. Candaan itu membuat ruangan mulai ramai. Nayla yang dari tadi hanya diam menyaksikan mulai ikut terbawa suasana yang dibangun oleh Riko. Sampai beberapa menit setelah Nanda menceritakan masa kecilnya. Dia terdiam.


''Baiklah, kita mulai dari mana kasus ini,'' ucap Nanda menatap ku.


''Bagaimana keadaan Hana? Apakah terjadi sesuatu padanya?''


''Dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.''


''Bagaimana caranya kau membongkar kasus ini? Aku sudah mengingat-ingat semua yang terjadi. Namun, tidak menemukan jawabannya.''


''Tentu,'' jawab Nanda yakin. Aku dan Riko menatap Nanda begitu serius. Sedangkan Nayla masih santai dengan gelas di tangannya. ''Dia telah memperhitungkan semua situasi ini,'' sambungnya.


''Siapa? Jara?''


''Ya, Jara seakan menyiapkan sebuah panggung untuk kalian. Singkatnya dia sudah mengantisipasi apapun yang akan terjadi di atas panggung...,'' Nanda menahan kata-katanya. ''selama kalian tidak keluar dari panggung yang dibuatnya kalian tidak akan menemukan satupun petunjuk.''


''Aku sudah tahu soal itu. Kalau begitu, kau memecahkan kasus ini karena tidak ikut menari di atas panggung miliknya? begitu maksudmu?''


''Tepatnya aku turun dari panggungnya...''


''Hei, hei... tolong jelaskan perlahan,'' potong Riko.


''Baik, aku akan ubah analoginya. Riko, kau pernah melihat seorang artis memamerkan isi rumahnya di sosial media?'' Riko mengangguk cepat. ''Artis-artis itu tidak ragu menunjukkan ruangan pribadi miliknya. Mereka sama sekali tidak takut rumah itu dikepung oleh orang-orang. Dan mereka juga tidak takut barang-barang itu dicuri. Kau tahu kenapa?''


''Karena dia memiliki satpam yang berjaga di rumah itu. Siapa juga yang akan masuk ke rumah itu?''


''Karena dia juga memiliki satpam maksudmu?''


''Lebih tepatnya, kalian tidak tahu siapa satpamnya. Aku akan ubah satpam itu menjadi pintu supaya lebih mudah dipahami,'' kami mengangguk-mengangguk. ''Aku bisa tahu semuanya karena aku tahu pintu masuk kedalam ruangan itu.'' Kami semua masih terdiam memahami kata-katanya. ''Misya, kaulah pintu itu!''


''Hei, hei... tunggu bentar, maksudmu kau sudah tahu kalau Misya sudah terkutuk?'' sanggah Riko.


Nanda menatap Nayla. ''Sebenarnya, aku juga sudah tahu kalau kak Misya korban dari catatan itu,'' jelas Nayla.


''Kau juga? Bagaimana bisa?''


''Riko, kau mengenal wanita itu kan?'' tanya Nanda memotong pertanyaan ku.


''Ya, aku sudah mengingatnya. Aku bertemu dengannya sekitar satu tahun lalu. Hari itu aku sedang di bar bersama teman, selang perbincangan ada seorang wanita yang diseret paksa oleh seorang pria. Awalnya kami hanya melihat saja. Tapi, entah mengapa aku berdiri meninju pria itu... saat aku membantu wanita itu berdiri, botol bir melayang begitu cepat menghantam kepala ku. Aku yakin saat itu dia mendapat darah ku.''


''Kau dengar,'' Nanda kembali menatap ku. ''Jara sudah menyiapkan semuanya jauh dari sebelum kasus ini dimulai.''


''Tung-tunggu, bukankah kau mengatakan kalau kau tidak tahu kalau Riko terkena kutukan? Lalu bagaimana kau bisa tahu aku sudah dikutuk? Kau tahu sendiri, aku tidak memiliki luka. Aku bertemu dengannya saat di Bali. Hanya itu!''


''Oh ya? Kita kesampingkan dahulu dimana dia mendapatkan darahmu,'' Nanda kembali tersenyum. ''Aku akan menjelaskan bagaimana aku bisa tahu kalau kau dikutuk? Aku yakin kau sudah tahu soal ini, saat dua manusia bertemu, informasi yang pertama kali muncul di kepala manusia adalah penampilan. Ganteng, manis atau sebaliknya. Sederhananya, kesan pertama. Setelahnya, mereka mulai masuk ke bagian intinya. Mereka akan menilai dari cara bicara serta gelagat yang ditampilkan... Pemarah, egois, sifat-sifat yang tersembunyi akan muncul dan jelas terlihat. Itulah yang terjadi padamu. Sejak pertama kali bertemu, aku dapat merasakan aura Jara muncul dari dirimu. Sebut saja, instingku berkata demikian. Kau masih ingat aku mengatakan kalau kau akan menjadi Jara? Aku tidak tahu apa yang saat itu kau pikirkan? Tapi, hanya orang bodoh yang menganggap serius perkataan itu.


''Apa sih?''


''Aku ingin mengatakan, Jara aku sudah tahu itu dirimu. Aku hanya berharap dia memahami maksudku.''

__ADS_1


''Apa? Bukankah itu justru akan membunuh Misya segera?'' Sela Riko.


''Riko, kau tidak akan mengerti cara pria ini berpikir.'' Aku menyipitkan mata meminta Nanda melanjutkan.


''Aku tidak berpikir dia akan membunuh Misya.''


''Mengapa kau yakin seperti itu? Bisa saja dia melakukannya.''


''Hmm, kau benar dia bisa saja melakukannya. Tapi, nyatanya tidak kan!''


''Kenapa? Apakah kau melakukan sesuatu untuk mencegahnya?''


''Tidaklah. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana mungkin aku bisa mencegahnya.''


''Lalu mengapa kau begitu yakin?''


''Karena aku tahu tujuannya melakukan semua ini.'' Nanda diam kembali. ''Menurutmu mengapa dia melakukan ini?''


''Entahlah.'' Jawabku cepat.


Nanda kembali tersenyum. ''Aku sudah mendengar dari komandan mu. Kau berpikir dia melakukan ini karena ingin menantang kepolisi...''


''Jawab saja. Kau masih saja merendahkan ku.'' Aku tidak membiarkannya terus-menerus merendahkan.


''Baiklah... Pernyataan mu memang hampir tepat. Tapi, Tidak ada orang bodoh yang mau melakukan itu... Sama sekali tidak ada untungnya dia langsung menantang kepolisian. Sangat jelas tujuannya. Bosan!" Suara Nanda seakan mengambang di ruangan. "... Hanya satu penyebab seorang bosan? Melakukan sesuatu berulang kali. Dia sudah melakukan pembunuhan yang sama. Namun, caranya berbeda. Dua hari yang lalu aku mencari asal dan tempat tinggalnya dimana. Kau tahu apa yang aku temukan? Tujuh tahun yang lalu saat final piala Euro ada seorang yang memosting akan melompat dari gedung jika Jerman kalah dari Spanyol, kau tahu apa yang terjadi? Pria itu benar-benar melompat dari sana. Dan masih banyak kejadian aneh yang masih diselidiki.''


''Kau tahu semua itu setelah dia tertangkap kan? Lalu bagaimana bisa kau yakin dia melakukan semua ini karena bosan?''


''Simple saja, psikologis manusia memang seperti itu! Manusia akan melakukan sesuatu yang lebih dan lebih. Bagaimanapun manusia tidak akan melakukan percobaan kepada kepolisian ditambah menunjukkan rahasia-rahasianya. Artinya, dia akan meladeni jika ada seseorang yang melakukan perlawanan. Dari situlah aku yakin dia tidak akan membunuhmu!''


''Lalu apa? Setelah dia tahu kau menantangnya, apa?''


''Ya, permainan pun dimulai. Lihat saja, sebelumnya dia hanya membunuh, membunuh dan membunuh. Tapi, setelah kita bertemu hanya satu korban Angga! Itupun karena berkaitan dengan rencana yang dibuat sebelumnya.''


''Ok, ok. Aku akan membahas bagian itu nanti. Kita kembali pada kasus ku. Mengapa kau mengatakan aku adalah pintu masuk kedalam ruangan miliknya?''


''Kau pernah mengatakan selalu tertinggal satu langkah darinya?''


Aku hanya diam.


''Karena kau tidak tahu kalau kaulah pintu masuk kedalam ruangan itu! Aku bisa saja menangkap mu saat di ruang interogasi itu. Tapi, itu tidak akan memecahkan kasus ini.''


''Ke-kenapa?''


''Aku memang tahu pintu masuknya. Tapi, aku tidak punya kunci untuk membukanya.


Suara ku terbata-bata. ''Bukankah hari itu kali pertama kita bertemu? Bagaimana bisa kau tahu? kau belum ikut campur dalam kasus ini?''


''Bukankah sudah kukatakan padamu. catatan neraka milik ibu panti itu! Aku sudah membacanya sebelum menemui mu!''


''Ba-bagian yang mana?''

__ADS_1


MAAFKAN AKU TIDAK UPDATE.


__ADS_2