SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
SELISIH


__ADS_3

Aku kembali menatap catatan neraka milik Hana namun kali ini dengan perasaan yang begitu suram, entah mengapa di dalam hatiku tersirat sebuah perasaan yang begitu menakutkan. Aku tidak tahu apakah karena kertas yang kupegang ini tidak memiliki bekas darah seperti catatan-catatan sebelumnya atau karena tubuhku yang butuh istirahat.


Kepala kecil ku masih tidak mampu menerima bahwa catatan Hana tidak memakai darah melainkan menggunakan cairan seperti asumsi Nanda, kalau saja pernyataannya itu memang benar...''Inspektur!'' Teriak Sersan Radit membuyarkan lamunanku.


Seketika aku menatap matanya, lalu berpaling melihat Nanda yang sedang menggigit jari telunjuknya. ''Nanda, apa yang akan kau lakukan?'' Celetukan suara ku begitu lirih.


''Kita pastikan dulu, apakah cairan yang ada pada kertas itu sesuai dengan Hana atau tidak!''


''Seandainya sesuai bagaimana?''


''Aku tidak ingin mengatakannya... Sejujurnya masalah ini bisa menjadi bumerang yang akan membidik satu-persatu kepala kita..''


Seketika aku menelan ludah setelah mendengar suara yang penuh keputusasaan dari Nanda.


''Inspektur!'' Sersan Radit kembali memanggil Nanda, kali ini dengan suara yang sedikit meninggi. Sangat terlihat kepetusasaan di wajahnya.


''Ada apa..'' Sahutnya.


''Apa yang harus kulakukan, apakah tidak ada cara untuk menyelamatkan ku dari kutukan ini...'' Sersan Radit diam sesaat. ''In-Inspektur! Saya memiliki istri dan dua anak yang masih kecil di rumah, saya belum siap untuk meninggalkan mereka di dunia ini... Inspektur!'' Tutupnya.


Nanda menghapus wajahnya dengan kedua telapak tangan kemudian tubuhnya yang tinggi itu seketika terhempas duduk di tanah.


''Nanda, apa kau baik-baik saja?'' Tanya ku padanya namun Nanda tidak menyahut, aku tidak menyangka pria yang tidak tertebak ini terlihat sangat frustasi sekali.


''Sersan Radit benar, sepertinya kita harus memikirkan dia lebih dahulu... catatan Hana ini.. catatan ini, besok saja kita pikirkan!''


''Ternyata seperti itu...!'' Ucap Nanda seketika, tubuhnya yang tertunduk itu terlihat berusaha berdiri kemudian mendekatiku menarik catatan neraka yang kupegang.


Seperti itu? Apa maksudnya? Aku menyipitkan mata melihatnya yang berusaha berdiri sambil memikirkan apa yang dikatakannya barusan.


''Baiklah, aku akan menyimpan catatan ini! Kalau begitu, aku ingin mendengar pendapat mu lebih dahulu!'' Lanjut nya dengan wajah yang sangat serius.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika ia merenung menatap tanah tadi, hanya sekejap wajah itu seketika berubah.

__ADS_1


''Oi, Nanda benarkah kau baik-baik saja?''


''Kalau kau punya waktu untuk khawatir, lebih baik khawatirkan dirimu sendiri. Misya.'' Ucapnya.


''Apa maksudm...'' Suara ku terhenti melihat kedua matanya tersorot begitu tajam padaku. ''Baiklah, bukan waktunya untuk berdebat, begitu bukan?'' Aku menghempaskan nafas sejenak. ''Nanda, menurut ku ada benarnya Sersan Radit sudah terkena kutukan dari Jara, tapi apakah mungkin Jara bisa mengutuk seseorang tanpa darah?''


''Apa! Bukankah sudah jelas di depan matamu Hana benar-benar melakukan semuanya sesuai dengan tulisan ini!''


''Ya, tapi mengapa selama ini dia tidak melakukan itu saja... Maksudku, mengapa Jara selama ini harus repot-repot membunuh dengan menggunakan darah para korban lebih dahulu? Nanda, apakah itu tidak aneh bagimu?''


''Kalau kau ingin tahu jawabannya... tanyakan langsung padanya... Mana aku tahu!'' Bentaknya.


''Apa?''


''Oi Misya! Bukankah aku meminta mu untuk memberikan pendapat dimana disembunyikannya catatan Sersan Radit ini!'' Bentaknya dengan jari telunjuk mengarah pada Sersan Radit. Dengan mata yang penuh emosi dia melanjutkan. ''Mengapa kau malah bertanya persoalan yang tidak berguna, Ha!''


Apa yang terjadi padanya? Dia seperti orang yang berbeda... Misya, tahan dirimu... ikuti saja apa yang ia inginkan. Ini bukan saat yang tepat.


Setelah sejenak aku menahan diri dari sifat Nanda yang tiba-tiba berubah, Akupun berkata tegas. ''Menurutku... Sersan Radit jangan dulu kembali ke rumahnya untuk saat ini. Ya, kalau memang benar dia sudah menjadi korban catatan itu, bisa saja catatan neraka miliknya disembunyikan disana... lalu untuk malam ini lebih baik dia memakai taksi untuk pulang... Kita tidak tahu apakah catatan itu ada pada mobil yang mereka kendarai kemari.. untuk berjaga-jaga mulai besok dia akan tinggal di rumah tahanan, paling tidak sampai keadaan sudah bisa kita pastikan!''


''Lalu malam ini bagaimana?'' Tanya Nanda dengan penuh kewaspadaan.


Pria ini memang benar-benar tidak bisa ditebak. Dia seperti mencari sesuatu dariku. Dan aku tidak tahu itu apa. Mataku dan Nanda saling tersorot seakan saling mengancam, dengan sigap aku berkata. ''Malam ini dia akan ikut dengan ku, hari ini aku sedang cuti jadi aku tidak perlu meminta izin padamu... Nanda, aku akan pergi beristirahat! Kami akan mencari hotel disekitar sini... Hanya itu yang bisa ku sampaikan, bagaimana?''


''Kalau begitu anak buah Hana ini hanya tinggal menghindari tempat-tempat yang selama ini berkaitan dengannya saja, begitu maksudmu?''


''Ya, Kira-kira seperti itu. Lalu bagaimana denganmu?''


''Aku?'' Maksudmu pendapatku?''


''Ti-Tidak, maksudku apa kau akan kembali ke Jakarta sekarang?''


''Aku akan masih tetap disini, masih ada sesuatu yang ingin aku pastikan tentang bangunan ini.'' Jawabnya.

__ADS_1


''Lakukan saja sesuka mu lagi pula seharusnya aku tidak perlu repot-repot kemari, karena hari ini aku sedang cuti, huh... ambil ini!'' Aku mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas kemudian menyerahkan padanya.


''Apa ini?'' Tanyanya sambil membalik lembaran kertas itu.


''Semoga itu bisa membantumu, itu adalah pembukaan dari buku Amelia Earhart yang kukatakan tadi, sebelum dia datang mengambil buku itu aku sempat menulisnya, tetapi hanya sedikit.''


''Baik, sepertinya ini akan sangat membantu...'' Jawabnya sambil membaca catatan ku itu. ''Misya, apa kau akan pergi sekarang? Apakah tidak ada yang ingin kau tanyakan?''


''Nanda, sudah kukatakan hari ini adalah hari aku libur, jadi aku tidak ingin membuang-buang tenagaku lagi, tapi Nanda, besok kau harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?''


''Baiklah Misya, serahkan bangunan ini padaku, pergilah beristirahat dulu tetapi apa kau yakin tidak menunggu hasil dari Hana terlebih dahulu?''


''Tidak! Aku akan mendengarkan laporan lengkapnya darimu saja, malam ini aku ingin tidur. Nanda, kau harus berhati-hati... Entah mengapa menurut ku besok akan terjadi sesuatu, atau hanya perasaanku saja!''


Nanda hanya tersenyum menatapku.


''Kalau begitu kami akan pergi sekarang.''


Sungguh aneh..


Sangat jelas terlihat dari tingkah laku Nanda ada sesuatu yang disembunyikannya, sambil melangkah aku berusaha memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Sifat dan sikapnya tidak seperti dirinya saja. Satu hal yang sebenarnya dari tadi mengganjal di benak ku, Bagaimana bisa Jara tahu hari ini aku akan pergi ke Bali. Sedangkan yang mengetahui aku akan pergi ke Bali hanya dua orang. Nayla dan Nanda.


Aku berusaha menghilangkan pemikiran aneh dari kepalaku, Apa mungkin Nanda juga terkena kutukan seperti Hana. Pikiran itu berhenti sampai suara panggilan dari belakang ku.


''Misya!'' Teriak Nanda begitu keras.


Perlahan aku menoleh kebelakang menatapnya. Dia berlari keluar dari gudang kecil itu. ''Aku ingin bertanya satu hal lagi padamu, apakah ada darah pada buku Amelia Earhart?'' Ucapnya sambil tersenyum.


Apa? Darah pada buku Amelia Earhart? Benar... mengapa aku tidak menyadari hal sepenting itu...


Hal sepenting itu sama sekali tidak terbesit di kepalaku saat memegang buku itu. Tunggu...Yang lebih penting sekarang adalah apa tujuan dia menanyakan itu padaku. Jika dia memang benar sudah dalam pengaruh kutukan Jara aku tidak boleh asal menjawab pertanyaannya ini. Apa aku harus berbohong menjawabnya, ya, begitu saja. Aku harus memastikan dahulu kalau dia tidak terkutuk oleh Jara barulah aku menceritakan yang sebenarnya. padanya, ya seperti itu...


Yakin dengan keputusan yang kubuat dengan sigap aku berbohong menjawab. ''Ti-Tidak... Tidak ada darah pada buku Amelia Earhart itu.. Maksudku, sama seperti Hana...''

__ADS_1


''O, seperti itu ya...'' Jawabnya lalu berbalik dan pergi kembali masuk kedalam gudang itu.


__ADS_2